Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #20

[Hari Kedelapan] Akhir


Harinya kenapa ga kutulis kayak biasa?

Sengaja aja, biar kedengeran dramatis, hehe.



-


Aku menyusuri perumahan itu cukup lama.

Berjalan pelan, dan terasa makin pelan.

Berbelok dari satu titik ke titik lainnya.


Tapi sampai sekarang pun tidak ada suara desiran kain ataupun suara dari makhluk itu.


Matahari mulai menurunkan wujudnya, sampai cahayanya sendiri tertutup oleh jalanan besar di atasku.


Angin sejuk mulai berhembus, merayap ke kulit dan sayapku.

Suasana sekitar terasa lebih sepi.

Aku sendiri mulai ragu kalau mereka benar-benar akan membantu atau tidak.


Langkahku kali ini berbelok ke kanan.

…

Mataku dan tatapanku langsung disambut dengan jejeran rumah.


Tapi… Seluruh pagar dari rumah itu terbuka cukup lebar.

Sama seperti rumah lainnya. Tidak ada tanda-tanda aktivitas ataupun penghuni di dalamnya.


Aku sempat membeku di tempat sambil tetap memperhatikan seluruh rumah itu.

Sampai akhirnya aku menangkapnya.


Sebuah jubah putih berjalan pelan keluar dari salah satu rumah itu.

Tapi tidak menatap ke arahku. Entah karena tidak melihatku atau menyadari keberadaanku.


Padahal jarak ku dengan jubah itu tidaklah jauh.

Awalnya aku mengira hanya satu.

Tapi… Aku salah.


Satu persatu dari setiap rumah memunculkan figur manusia dengan jubah putih menutupi sekujur tubuhnya, berjalan keluar melalui gerbang, kemudian berhenti tepat membelakangi gerbang.


Persis seperti subjek itu.

Jubah yang sama, tinggi yang sama.

Yang aneh itu…

Kenapa mereka hanya berdiam diri di tempat?


Pikiranku belum selesai memproses apa yang ada di depanku.

Tapi sebuah suara yang terbalik dan familiar terdengar di belakangku. Sangat dekat.

“areS…”


Aku yang mendengar itu tanpa sadar melompat cukup jauh dari subjek itu.

Tapi tubuhku sendiri gagal untuk mendarat sempurna, yang membuatnya terjatuh ke tanah dengan keras.


Granat yang diberikan oleh Acheron ikut terjatuh. Dan aku dengan refleks menutupinya dengan sayapku.


Subjek itu tadinya tepat di belakangku.

Tapi ada yang berbeda dari jubahnya.


Memang putih seperti sebelumnya, tapi ada sedikit warna silver yang mengkilap di bagian tengah dari tudungnya. Juga ujung dari bagian bawah jubah itu.


Subjek itu seperti berjalan mendekatiku untuk kedua kalinya.

Sambil mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kupahami.


Tatapanku berpindah-pindah dari kepala jubah itu, ke granat yang kusembunyikan.


Ketika jarak dari subjek itu hanya perlu dua langkah saja untuk menyentuh wajahku lagi.


Aku mengeratkan pegangan dari granat itu, kemudian melemparkannya sampai masuk ke dalam celah di bawah jubah.


Disaat yang sama aku membangkitkan tubuhku.

Walau belum tegak sempurna, aku memaksakan diriku untuk menjauh dengan mengibaskan sayap ke depan dengan sangat kuat.


Aku menutup pandanganku dengan satu sayap.


Dan dengan cepat suara ledakan yang memekakkan telinga keluar di dekat subjek itu, beserta kilatan cepat yang masih bisa kulihat.

Lihat selengkapnya