Singkatnya… Setelah semua kejadian malam itu.
Apa yang Hugo bawa ternyata benar.
Subjek-29 yang selama ini kita cari.
Dan apa yang Acheron kejar juga sebenarnya adalah subjek lain yang ikut dengan subjek-29.
Kalau tidak salah dia disebut subjek-14, atau mereka sebut sebagai Jubah Peniru.
Bisa ngikut ke orang atau subjek lain kalau tertarik.
Aneh? Banget, aku aja ga nyangka.
Kami berdua akhirnya tiba di kamar lagi. Dengan Hugo yang benar-benar santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Dengan mata yang berat aku pun tertidur pulas.
Sampai… Matahari terbit, dan hari selanjutnya dimulai.
Atau… Hari dimana aku bisa keluar dari kota ini.
Aku membuka mataku secara perlahan.
Dengan mata yang buram, aku memiringkan kepalaku ke kanan kemudian kiri.
Dengan buram aku melihat figur Hugo yang tertidur di kasurnya.
Aku beranjak dari kasur, kemudian melakukan aktivitas pagi pada umumnya.
Kaizo beberapa saat juga ikut bangun dari tidurnya, dan langsung menyapaku di saat itu juga.
“Pagi, Sera.”
Aku menoleh ke arahnya sambil mengeringkan salah satu sayap.
“Pagi, Kai. Kita keluar dari sini loh abis ini.”
“Baguslah, maaf aku tidak bisa membantu banyak disini,” syukur Kaizo yang sekaligus meminta maaf.
“Aku juga Sera. Yang tahu segalanya seperti ku tidak bisa apa-apa, selain menjaga rubah ini,” timpal Pals.
“Gapapa, kalian mau bantu jangan disini, MENDA soalnya. Bakal ribet,” balasku.
Setelah kalimatku yang itu.
Giliran Hugo yang terbangun sambil menguap pelan.
“Pagi semuanya… Tidurnya enak ga nih?”
Aku sempet mengarahkan tatapan ke Hugo, sebelum kembali ke urusanku.
“Pagi, Hu-”
Aku menghentikan ucapanku sendiri dengan mata yang sedikit mendelik.
“Go…?” ucapku sambil perlahan mengangkat kepala.
Terlihat Hugo yang mengecapkan bibir beberapa kali.
Tapi… Ada yang aneh.
…
Sebuah sayap berwarna hitam terlihat menempel di punggungnya.
Sayap seperti manusia setengah hewan pada umumnya.
Tapi berwarna hitam gelap, seperti gagak.
Tatapanku membeku sayap itu cukup lama.
Ragu antara itu memang miliknya atau sesuatu dari hoodie-nya.
Hugo menolehkan kepalanya ke arahku, kemudian mengangkat kepala.
“Apa? Liat apa? Gw ganteng ya?”
Aku sempet mengernyit tipis sambil menarik kepala ke belakang.
Sebelum menunjuk ke arah sayap hitamnya dengan jari telunjuku.
“Itu… Belakangmu ada sesuatu.”
Hugo sempat menoleh ke belakang, tapi dengan cepat kembali menghadap ke depan.
Dengan santai berkata,
“Oh, ini. Cuma sayap.”
…
Tak butuh waktu lama, dengan bola mata yang terbuka lebar.
Dia kembali menoleh ke belakang.
Tubuhnya yang tadi duduk diatas kasur sontak berdiri dengan punggung menghadap ke kami.
tatapan mengarah ke sayapnya lagi.
“Sa-Sayap!?”
Hanya satu sayap hitam yang tumbuh di belakangnya.
Tapi sayap biasa. Tidak terbalik atau di pinggul seperti ku.