Kenapa aku potong banyak?
Ya… Liat aja deh jalanku yang dulu kayak gimana.
-
Matahari mulai menenggelamkan dirinya sendiri.
Meninggalkan langit dengan warna merah jambu di ujung barat, dan secercah oranye cerah di ujung setiap awan yang ada.
Sudah seminggu terlewat sejak kejadian waktu itu.
Hugo juga sudah menumbuhkan sayap keduanya dengan anatomi yang sama seperti lainnya.
Kami Bersinggah dari satu kota ke kota lainnya.
Bertemu dan berteman dengan orang lain.
Meninggalkan mereka ketika kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Berhenti di jalan dan beristirahat lagi.
Siklus abadi yang terus berulang
Tidak ada yang menarik.
Tidak ada tanda spesimen atau subjek aneh yang menghalangi kami lagi.
Ataupun para MENDA yang menghalangi jalan kami.
Dan entah yang keberapa kalinya.
Kami lagi-lagi tiba di sebuah permukiman.
Warga disini berpakaian sederhana.
Tidak ada yang mencolok.
Kecuali… Kita bertiga.
Sejujurnya tempat ini lebih sederhana.
Tidak ada gedung tinggi.
Rumah-rumah disini memiliki lantai maksimal dua.
Dan itupun hanya beberapa rumah.
Kami menghentikan perjalanan lagi untuk sementara.
Menyandarkan diriku dengan cukup keras ke tanah.
Aku menghela nafas berat sambil menghadap ke atas, sebelum menatap ke Hugo dan lainnya.
“Plis bilang kalo kita udah deket sama pelabuhan…”
Hugo mengangkat kedua bahunya.
“Jangan tanya, gw bukan GPS.”
Kaizo berjalan mendekatiku, kemudian membungkukkan badan sambil mengangkat tangannya yang memegang Pals.
“Kamu bisa mencoba tanya ke dia.”
Aku memindahkan tatapan ke Pals.
“Jarak dari sini ke kota Adnem berapa jauh lagi, Pals?”
Pals mengangkat wajahnya sampai menatapku.
“Ini kota terakhir, setelah itu, kamu hanya perlu berjalan sedikit lebih jauh lagi untuk sampai ke pelabuhan kota itu.”
Aku menghela nafas lega.
“Bagus, dikit lagi berarti.”
Dengan kaki yang mulai mati rasa. Aku mencoba bangkit dari tempat aku duduk dengan gemetar kecil.
“Kita lebih baik disini lebih lama lagi. Kita sudah berjalan cukup jauh tanpa istirahat yang lama,” ucap Kaizo.
Hugo terkekeh pelan. “Bener tuh, lu mau ketemu temen, malu dilihat pas lagi kayak gini.”
Aku disitu kembali menjatuhkan badan ke tanah sambil menghembuskan nafas perlahan.
“Ya deh… Lagian udah deket juga.”
Tatapanku beralih ke Pals lagi.
“Azrel beneran disana, kan? Tepatnya dimana?”
Pals tidak langsung menjawab pertanyaanku. Hanya diam untuk beberapa detik.
“Karena pelabuhan sudah menjadi batasnya. Dia hanya berkeliaran di kota Adnem. Dan ada kemungkinan disini juga.”
Aku mengangguk beberapa kali.
Tidak menanyakan lebih jauh, hanya bersandar penuh menghadap ke langit-langit.