Kami sudah berjalan cukup lama.
Entahlah, sudah berapa kilometer kami tempuh.
Sampai bulan berada tepat di atas kami. Menandakan kalau malam sudah sangat larut.
Disertai dengan kendaraan dan warga sekitar yang mulai menghilang di jalanan.
Hugo masih menerbang dirinya cukup rendah, dengan tubuh tegak.
Dengan menghela nafas aku menanyakannya, “Hugo, nyari tempat istirahat sih nyari. Tapi sampe jam… Segini belum nemu juga.”
Hugo menolehkan kepalanya ke samping.
“Jam berapa emang?”
“Pals?” tanyaku sambil meliriknya.
“Jam satu kurang tiga menit lagi,” jawabnya.
Aku kembali menatap ke arah Hugo.
“Tuh, terbang terus sih. Ga mikir kita.”
Hugo memperlambat kepakan sayapnya kemudian turun secara perlahan.
“Maaf, maaf. Gw masih kesenengan.”
Ia juga melambatkan langkahnya, sampai berada di samping kami berdua.
“Kita cari taman aja, tidur disana. Harusnya sih kota punya taman.”
Aku sempat menoleh ke arah Kaizo.
Dan dia hanya mengangguk tanpa jawaban.
Aku juga ikut mengiyakan saran darinya.
Hugo terkekeh sekali. “Yaudah gw lanjut jadi anak langit ya.”
Aku tidak menjawab.
Hanya memutar bola mata sambil bergumam dengan nada tinggi.
…
Singkatnya, kami akhirnya tiba di taman kota ini.
Cukup kecil, Pals bilang hanya puluhan meter.
Kami perlu melewati lorong pendek untuk masuk.
Beberapa warung kecil yang menjadi semacam dinding penutup untuk taman itu terlihat dari luar.
Ada beberapa permainan anak kecil seperti ayunan dan taman bermain lainnya.
“Jadi… Tidurnya dimana nih?” tanya Hugo.
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
Pandanganku menyapu sekitaran dari taman ini cukup lama.
Sampai Kaizo sendiri yang memberikan saran,
“Kita bisa tidur di salah satu bangunan itu.”
Aku menolehkan kepala ke arahnya.
Dia menunjuk ke salah satu bangunan.
Warung yang sudah tutup, juga gelap.
Tapi terdapat tikar yang terbuat dari rotan disana.
Cukup luas, yang mungkin bisa kita gunakan.
“Bagus juga ide lu, rubah,” puji Hugo.
Disaat yang sama, dia juga mengepakkan sayap ke atas kemudian terbang cepat ke depan.
“Gw duluan.”
Aku menatapnya dengan kesal, sebelum menyusul ke dirinya.
“Kai, kamu bisa lepas sayapnya, kan?”
“Aku tidak akan melakukan hal keji seperti itu, walau aku bisa melakukannya,” balas Kaizo sambil berjalan.
Aku berdecak kecil. “Ga asik.”
Kami berdua akhirnya tiba di warung itu.
Hugo sudah merebahkan tubuhnya di tikar, tapi dengan posisi yang berpindah-pindah ke kiri dan kanan.