Cahaya bersinar melewati sela kecil dari tirai rotan, menciptakan titik kecil cahaya di dalam warung itu.
Perempuan itu duduk berlutut di dekat kami bertiga.
“Bisa diminum dulu. Kenalin, namaku Agatha, yang jalanin warung nih.”
Aku mengangguk perlahan sambil meneguk minuman yang diberinya, kemudian menaruh gelas ke meja lagi.
“Umurmu berapa? Keliatannya masih muda banget.”
Agatha tidak langsung menjawab.
Pandangannya sedikit menurun.
“... Umurku… Emang masih lumayan muda sih, baru lulus soalnya.”
“Delapan belas berarti atau sembilan belas, bener gak?” tebak Hugo.
Agatha tidak menjawab lagi. Tapi kepalanya mengangguk tipis.
Tatapannya sontak berpindah ke tirai yang tertutup, kemudian bangkit dari tempatnya duduk.
“Bentar, aku lupa buka warungnya.”
Aku hanya memperhatikannya yang berjalan menghampiri tirai itu.
Berdiri di ujung tirai, kemudian menarik sebuah tali ke bawah.
Perlahan tirai itu terangkat. Menunjukkan beberapa warga yang berlalu lalang di depan warungnya.
“Apa aku melewatkan sesuatu?” ucap Kaizo dengan serak.
Aku menoleh ke belakang.
Melihat Kaizo yang baru saja bangkit dari tidurnya.
“Pangeran bangun juga, ga perlu dicium dulu kah sama tuan putri?” gumam Hugo yang memangku Balita itu.
Kaizo mengucek mengusap pelan wajahnya.
“Apa maksudnya?”
“Jangan dipeduliin. Efek sayap baru biasanya gitu,” balasku.
Saat mengucapkan itu. Terdengar langkah yang menjauhi kami bertiga.
Disitu aku menolehkan kepala ke arah Agatha berdiri.
Tapi dia tidak ada disana.
Sampai beberapa saat kemudian, dari arah pintu.
Agatha membawa sebuah tas yang cukup besar, sambil berbicara, “Kalian bisa keliling kalo mau. Tapi boleh gak aku minta salah satu kalian sesuatu?”
“Minta apa?” tanyaku dan Hugo bersamaan.
“T-tunggu dulu, apa ada sesuatu yang aku tinggalkan?”tanya Kaizo yang kebingungan.
Aku menolehkan kepala ke Kaizo.
“Intinya, dia yang punya tempat nih, kita disini numpang dulu.”
Kaizo tidak memberi tanda-tanda ingin merespons.
Pikirannya masih loading kayaknya.
Tidak menunggu jawabannya, aku kembali menghadap ke Agatha.
“Kenapa kita? Orang tuamu kemana emang?”
Agatha tidak langsung menjawab pertanyaanku.
Tatapannya membeku entah kemana.
“... Mereka pergi, cuma… Engga tau sampe kapan.”
Ia mengenakan sandal miliknya, dan bergegas melangkah keluar dari warung miliknya.
Saat memijak keluar, kepalanya sempat menoleh ke samping.
“Tolong… Salah satu dari kalian jagain gilbert, ya? Ga lama kok, gilbert juga ga senakal itu.”
Tanpa menunggu persetujuan dari kami.
Ia melangkah pergi, menghilang dari kumpulan warga yang berada di sana juga.
Disaat yang berdekatan. Aku mendengar sayap yang dikepakkan beberapa kali.