Selamat malam untuk kalian semua.
Bagian yang kali ini, Sera menyuruhku untuk menuliskan apa saja yang aku alami saat kita berada di kota Terra
Kenapa Sera menyuruhku?
Sayangnya, aku juga tidak tahu kenapa. Dia bilang kalau buku ini perlu cerita dari bagian orang lain juga.
Jika kalian merasa kalau ada yang berbeda dari caraku memandang dunia ini.
Aku mohon toleransinya. Aku hanyalah subjek tidak sempurna yang mencoba hidup di dunia manusia.
Sekian, dan, silahkan dibaca.
—
Di Jalanan kota.
Aku berjalan melewati setiap pejalan kaki atau warga sekitar di pinggiran.
Sesekali diriku menyapa ke arah mereka dengan senyum tipis dan lambaian tangan.
Karena itulah yang aku tau untuk menjadi ramah ke orang.
Banyak dari mereka fokus ke urusan mereka masing-masing.
Atau lebih tepatnya menatap ke depan.
Memang, ada beberapa dari mereka yang mengobrol dengan orang disamping.
Mungkin orang yang mereka kenal, seperti teman ataupun lainnya.
Dulu, sebenarnya aku tidak tahu tujuanku berkeliling disini untuk apa.
Karena diriku hanya menghindari kontak dengan bayi di warung itu.
Untuk kesekian kalinya aku meminta maaf kepada, Sera.
Langkah kakiku terhenti.
Sorot mataku berpindah ke bawah, melihat ke garis putih di jalanan.
Atau yang mereka sebut sebagai Zebra Cross.
Menunggu lampu di jalanan merah agar mobil berhenti.
Sampai akhirnya, mobil-mobil di kota berhenti juga.
Beberapa orang juga ikut menyeberang bersamaku.
Sampai kita semua tiba di seberang jalan.
Secara tidak sadar aku mengangkat pandangan ke langit.
Saat itu aku berharap kalau Hugo mungkin sedang terbang bebas di atas.
Tapi ternyata tidak.
Hanya sekumpulan awan, langit biru, dan cahaya yang menusuk mata.
Dari sekian banyak suara yang aku dengar.
Ada satu suara yang tidak setiap hari bisa terdengar di sekitarku.
Teriakan yang menunjukkan ketakutan.
Bahkan rasa tidak berdaya.
Permintaan tolong, berharap ada seseorang yang menolongnya.
Telinga rubahku bergetar sangat cepat, membuatku menolehkan kepala ke arah dimana suara itu muncul.
Saat itu aku ingin bergerak dengan kecepatan seperti kedipan mata.
Tapi di tempat yang bisa menarik perhatian banyak orang seperti ini.
Aku memutuskan untuk tidak melakukannya, dan hanya berjalan cepat menuju suara itu.
…
Tatapanku menangkap sebuah celah gelap di kota ini.
Gang kecil gelap yang tidak mungkin manusia biasa akan memasukinya.
Aku menghentikan langkahku di portal masuk, dan disaat bersamaan salah satu pria berlari keluar, dengan membawa sebuah tas kecil yang entah apa isinya.
Dengan refleks aku mencengkram bahu dari orang itu, yang memaksanya untuk berhenti di tempat.