Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #26

[Hari ketujuh belas] Bagian Keempat

Aku masih terlelap dalam tidurku.

Tidak menyadari bahwa seseorang memanggil namaku.


Pikiranku belum sepenuhnya sadar, hanya gema mereka yang samar terdengar kemudian menghilang secara perlahan.


Sampai sebuah tepukan lembut menyentuh pipiku berkali-kali.

Membuatku membuka mata secara otomatis.


Walaupun buram, aku bisa melihat tangan mungil dan muka yang masih polos itu dekat denganku.


Aku menghela nafas tipis, merubah posisi badan menjadi terlentang.


Mengedipkan mata beberapa kali, sampai pandanganku menjadi jelas, sebelum menolehkan kepala ke Gilbert di sampingku.


“Bangun lu akhirnya, nyenyak tidur siangnya?” ucap Hugo dari balik pintu.


Aku menoleh ke arahnya.

Memang benar, ini tidur paling nyenyak ku selama perjalanan ini.


Hugo yang sebelumnya bersandar di dinding pintu, kini menegakkan tubuhnya.

“Gw mau kasih berita nih, mau berita buruk atau buruk banget?”


Aku tidak langsung menjawabnya. Melainkan memangku gilbert yang merangkak ke arahku.

“... Emang ga ada berita bagus?”


Hugo menggeleng sekali. “Kaga, percaya deh. Lu ga bakal seneng denger ini.”


“Berita… Buruk banget, dulu?” jawabku dengan ragu.


Hugo meletakkan sikunya di pintu, kemudian kepalanya tertahan dengan telapak tangannya.

“Orang-orang MENDA pada kesini lagi. Berita buruknya, kita gatau mereka ngapain kesini.”


“Gw tau pas lagi terbang santai di atas, tiba-tiba lihat sekitar tiga mobil asing ke parkir,” jelasnya sekali lagi.


Aku beranjak dari kasur, sembari menggendong gilbert ke depanku.

‘Untuk apalagi mereka datang kesini? Mereka ga mungkin nyari spesimen lagi, kan?’ tanyaku dalam batin.


Aku berjalan melewati Hugo, dengan sorot mata yang otomatis mengarah ke jalanan taman.


…

Masih kosong.

Hanya beberapa pejalan kaki biasa yang membawa barang belanjaan.


Terdengar Hugo juga yang berjalan menghampiriku.

Ia mengeluarkan suara batuk. Yang pastinya di sengaja.

“Katanya ga punya pengalaman. Kok, digendong mulu bayinya.”


Aku refleks menundukkan kepala ke Gilbert, sebelum menoleh ke Hugo.

“Agatha emang kemana? Kamu sendiri malah ninggalin tanggung jawab.”


Hugo meletakkan kedua tangan di belakang kepala, dengan mata terpejam.

“Gw kan udah ngehibur dia pas pagi tadi. Gantian lah…”


“Ya ini yang aku lakuin sekarang,” jawabku dengan nada datar.


Disaat yang berdekatan, suara tanah yang terinjak cepat terdengar dari belakang.

Menghampiri kami berdua.


Aku menoleh lagi ke belakang, dan melihat Agatha berjalan menghampiriku, dengan Kaizo di belakangnya.


Ia dengan cepat mengerahkan kedua tangannya ke arah Gilbert.

“Maaf-maaf. Aku malah ngerepotin gini.”


Aku menatap ke Agatha.

“Gapapa kok, Gilbert juga ga terlalu susah di atur.”


Sedangkan Gilbert…

Ia hanya diam menatapnya.


Cukup lama.

Aku mengira dia akan ikut dengan Agatha.

Tapi ternyata… Tidak juga.


Ia malah memalingkan wajah darinya, menghadap ke belakangku.

Seperti menolak ajakan dari kakaknya sendiri.


Agatha menurunkan tangannya perlahan.

“Kayaknya… Dia nyaman sama kamu deh.”


Terdengar jelas, Hugo yang mengeluarkan nafasnya dengan terlalu cepat, diikuti dengan dehaman keras.

“K-kayaknya, resmi deh. Jadi ibunya.”


Lihat selengkapnya