Malam ketiga di kota ini.
Kamu pastinya sudah tau kenapa pagi sampai sore tidak aku tuliskan disini.
Aku duduk di kursi luar dari warung milik Agatha.
Memperhatikan setiap sisi dari taman kecil di kota ini.
Semua warung dan tempat sudah ditutup sedari tadi oleh pemilik mereka.
Kita menjadi yang terakhir.
Dunia memang tidak sepenuhnya sunyi.
Terkadang angin berhembus menyentuh daun, dan daun lainnya menyentuh daun lagi.
Suara air mengalir dari dalam warung, disertai dengan piring yang bersuara nyaring.
Aku memejamkan mataku, berusaha menikmati suasana lebih jelas lagi.
Kerlipan cahaya juga masih bisa aku rasakan walau dengan mata yang tertutup.
Tapi itu juga tidak bertahan lama.
Tiba-tiba kumpulan cahaya itu menghilang, hanya menyisakan kegelapan yang gelap saat mataku tertutup.
Aku perlahan membuka mata lagi.
Dan semuanya juga masih gelap.
Taman kehilangan warnanya, yang padahal beberapa detik lalu, aku masih bisa melihatnya.
Kepalaku menoleh ke belakang.
“Kai, mati lampunya udah dimulai?”
Kaizo dari dalam warung menjawab, “Benar, ini yang kedua kalinya. Kamu perlu lilin?”
Aku beranjak dari kursi luar, kemudian berjalan masuk ke dalam.
“Engga, aku ke kamu aja.”
Aku berjalan masuk ke dalam. Dan langsung melihat api kecil yang menyala redup menerangi ruangan.
Semua tatapan mengarah ke diriku.
Aku sendiri masih berdiri di bingkai pintu, menyisir ruangan sekitar.
“... Hugo diem di atap lagi?”
Agatha tidak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahu.
Sedangkan Kaizo mengangguk sekali dengan tipis.
Langkahku memasuki warung, menghampiri mereka berdua.
“Pals mana? Dibawa juga?”
“Aku disini. Ketutupan Kaizo,” jawab Pals.
Kaizo menoleh ke bawah sesaat.
“Oh, maaf.”
Ia mengangkat Pals, kemudian di letakkan di sisi lainnya.
Aku menghentikan langkah di depan mereka. Menghadap ke Kaizo.
“Kamu udah suruh dia turun? Takutnya kalo dia keterusan… DNA hewannya bakal makin dominan.”
Kaizo memejamkan matanya sesaat. “Aku sudah menyuruhnya turun. Tapi… Dia tidak mau. ‘Ga ada kerjaan' katanya.”
Ia membuka matanya, dengan mata berpaling dariku.
“Agatha, boleh aku meminta lilin? Aku akan tidur di luar lagi.”
“B-boleh, sekalian aku nyalain terus bawa kesana aja,” jawabnya.
“Tidak perlu repot-repot aku bisa melakukannya sendiri.”
Agatha mengeluarkan senyum canggung. “Engga, gak repot. Kamu dah bantu aku juga kemarin.”
Mereka berdua mulai keluar dari ruangan.
Dengan Agatha yang membawa beberapa lilin dan satu korek api bersamanya.
Kenapa setiap kali kita masuk, orang lain malah keluar.
Aneh ga sih?
…
Aku hanya menatap mereka yang meletakkan lilin di setiap meja.