Setelah malam kejadian itu.
Aku memutuskan untuk merebahkan tubuh dan menenangkan pikiran terlebih dulu.
Tidak berharap lebih ke apa yang diberikan oleh Pals kepadaku.
Sampai…
Pagi sekali lagi terbit di kota itu.
Burung berkicauan, ayam dari pemilik warung lain berkokok keras.
Aku menjadi orang pertama yang terbangun dalam tidurku.
Merubah posisi menjadi duduk di tikar, sembari melirik ke sekitar.
Sampai mataku tertuju ke arah Kaizo yang terlelap di bawah meja.
Entah sedari kapan dia berpindah kesana.
Aku merangkak pelan mendekatinya, kemudian merebahkan tubuh lagi.
Bukan untuk tidur, melainkan membangunkannya.
Tanganku memegang bulu bagian bahu Kaizo, yang aku gerakkan pelan beberapa kali.
“Kai, Kaizo. Bangun, kita berangkat sekarang.”
Saat terbangun, nafas dari Kaizo sempat tercekat sebentar.
Dengan keadaan yang sepertinya belum sadar, kepalanya terangkat ke atas.
Sebuah benturan keras terjadi, yang bahkan meja itu sendiri sempat terangkat singkat ke udara.
“Eh, Kai, buka dulu matanya,” ucapku dengan khawatir.
Kaizo mengeluarkan batuk beberapa kali, sambil memegang dahinya.
Ia membuka mata yang langsung menatap ke arahku.
“Ternyata kamu, Sera. Ada perlu apa memanggilku?”
“Aku dapet informasi dimana Azrel, jadi… Kita bakal lanjut sekarang,” jawabku.
Kaizo tidak langsung menjawab.
Ia membalikkan posisi tubuhnya, lalu merangkak keluar dengan kaki dan tangannya. Persis seperti rubah yang sedang berjalan.
Setelah diluar, dia juga sempat mengguncangkan cepat tubuhnya sendiri, sebelum bangkit sepenuhnya.
“Baik, kita pergi sekarang.”
Aku tidak langsung menjawab.
Posisi tubuh kembali duduk. Menatap ke arahnya.
“Kamu… Ga mau nanya gitu, kenapa kita pergi?”
“Tidak? Kamu bilang kalau sudah mendapatkan informasi tentang orang yang kamu cari. Aku tidak punya alasan untuk bertanya lagi,” jawab Kaizo.
Yang tadinya berdiri tegak, sekarang duduk cukup jauh dariku.
“Kecuali… Kalau kamu hanya mengatakan ‘kita akan pergi,’ mungkin aku akan menanyakannya.”
“Strategi buruk ga sih, Ser?” ucap Hugo yang entah dimana.
Aku dan Kaizo langsung melirik ke atas.
Terdengar hempasan sayap yang cukup keras di luar.
Diikuti dengan langkah Hugo saat suara sebelumnya hilang.
Ia berjalan mendekati kami berdua.
“Sedikit saran buat lu.”
Hugo duduk bersila, berhadapan dengan kami berdua. Membentuk semacam… Lingkaran.
“Kayaknya bakal sedikit sensitif buat lu juga. Tapi… Kita ga tau Azrel yang lu maksud itu kayak gimana sekarang.”
Kami tidak menjawab.
Hanya diam menatapnya, mempersilahkan Hugo untuk melanjutkan ucapannya.
“Bisa aja berbahaya, bisa aja kaga. Lu liat kan di dokumen? Pria dewasa, ga sengaja ke gabung sama subjek agresif kayak musim kawin?”
Aku menganggukkan kepala.
Tapi tetap diam seribu bahasa.
“Nah, itu dia. Sisanya pikir sendiri, lama-lama kering tenggorokan gw ngomong panjang lebar gini,”
Setelah menyelesaikan pendapatnya, Hugo beranjak dari tempat duduk,