Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #29

[Hari Kesembilan Belas] Bagian Kedua


Aku dan Kaizo tiba kembali di warung milik Agatha.


Agatha yang sedang berjalan sambil membawa piring sisa dari pelanggan, menoleh ke kami berdua.

“Livy? Gimana pencariannya?”


Aku menghela nafas berat, sambil duduk di tikar.

“Masih belum ketemu, nyari di kota gede cuma tiga orang ya susah ga sih?”


Tatapanku menyisir ke sekitaran.

Mencari wajah dari orang lain yang ku kenal.

Tapi… Tidak ada.


Sampai mataku kembali mengarah ke Agatha.

“Hugo dimana, Tha? Belum pulang?”


Agatha menggeleng beberapa kali.

“Belum, dari tadi aku sendiri. Sama Gilbert.”


Ia lanjut berjalan pergi.

“Ku bikinin minum, ya? Tunggu situ.”


“Iya, makasih,” jawabku.


Aku menoleh ke Kaizo yang duduk di bagian lain warung ini.

Obrolan sempat keluar dari mulut kami berdua. Lagi, dan lagi. Sampai Agatha berjalan keluar sambil membawa dua gelas minum di nampan.


Ia menaruhnya dengan pelan di Kaizo, kemudian mejaku.

Obrolan kembali berlanjut di antara kita bertiga.

Sampai tak terasa, malam hari tiba, memaksa obrolan kita berdua berakhir.


Awalnya kami tidak sadar.

Sampai lampu, dan listrik di kota ini mati. Membuatnya kembali dikuasai oleh kegelapan.


Terdengar Agatha yang bangkit dari tempatnya duduk, kemudian berjalan pergi.

“Bentar aku ambilin lilin.”


“Iya… Hati-hati,” jawabku.


Aku mencoba melirik sekitar.

Tapi tidak terlihat apapun selain meja di dekatku.

“Kaizo, kamu dimana? Aku mau minjem Pals dulu.”


“Aku ada di depanmu, Sera,” jawab Kaizo.


Aku menoleh ke depan, tapi tidak melihatnya.

Melainkan Pals yang berada di ujung sisi meja.


“Hai, Sera. Kaizo berhadapan denganmu sekarang. Saat lampu baru saja mati.” ucapnya.


“Kamu mau bertanya sesuatu denganku, kan?” tebaknya juga.


Aku terdiam sesaat, kemudian mengangguk sekali.

“... Iya, aku mau nanya soal Hugo. Dia dimana sekarang?”


“Tiga detik lagi, dia sampai kesini,” jawabnya dengan cepat.


Aku tidak menanyakan lebih jauh.

Sampai tiga detik berlewat dengan sangat cepat.


Dan benar saja.

Terdengar kepakkan sayap yang keras dari luar.


Aku langsung menoleh ke arah masuk warung ini.

Sunyi sempat terjadi. Sampai suara Hugo memecahnya.

“Gelap bener nih, lilin mana lilin?”


Aku dan Kaizo tidak menjawab.

Tidak ada suara lain juga, selain angin yang berhembus.

Lihat selengkapnya