Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #30

[Hari Kedua Puluh Empat-Dua Puluh Lima]

Hampir seminggu kami bertiga mencari seseorang yang selama ini aku cari.


Lampu mati, lampu hidup.

Siang dan malam berganti tanpa henti.

Melihat setiap celah kota. Menanyakan ke setiap warga.

Melakukan siklus abadi, lagi. Kedua kalinya.


Tapi bahkan… Sudah selama itupun aku tetap tidak menemukannya.

Entah dia ada dimana.

Kami sudah melakukan hal yang sama berkali-kali.


Sampai aku berpikir.

‘Apa… Pals bohong, ya?’


…

Malam berikutnya tiba kembali.

Aku menjatuhkan tubuhku dengan lemas di pintu masuk warung.

Lampu dan listrik sudah mati sedari tadi. Tapi tubuhku secara otomatis berjalan ke warung, tanpa memerlukan cahaya.


Kaizo ikut duduk di sampingku.


Dan Hugo mendarat dari atas ke tanah dengan keras.

Ia mengerang pelan sambil menghadap ke kami.

“Percuma, ga ada petunjuk. Azrel nih introvert apa gimana dah? Dari atas aja ga keliatan batang hidungnya.”


Aku tidak menjawab pertanyaannya.

Hanya menatap ke depan.


“Sera, aku sebenarnya ingin memberi usul…” ucap Kaizo disampingku.


Aku mengangkat kedua kaki sejajar dengan kepala, kemudian memeluk lututku sendiri dengan kepala tertunduk.

“Usul apa? Kasih tau aja, gapapa.”


Kaizo tidak langsung membuka mulutnya.

Entah karena apa.

“... Mungkin kamu sebaiknya bertanya ke Pals.”


“Kaizo aja waras, lu tinggal nanya loh, Ser. Sesusah apa coba?” timpal Hugo.


“Aku bukannya mendukung apa yang Hugo katakan, tapi… Aku khawatir ini akan merusakmu dari dalam,” ucap Kaizo sekali lagi.


Aku mengangkat kepalaku perlahan.

Terlihat Kaizo yang mengulurkan tangan dengan Pals di pegangannya.


Tatapanku terkunci ke bola kuning itu cukup lama.

Pals juga menatap ke arahku. Dan tidak ada di antara kita yang berbicara.


Aku mengeluarkan decakan tipis, diikuti dengan helaan nafas pelan.

“Engga, aku ga bisa. Maaf banget.”


“Yang bener aja…” gumam Hugo dengan lirih di belakang.


Aku menoleh ke belakang dengan cepat.

“K-kasih aku waktu. Dua hari, biar genap seminggu. Abis itu, baru aku nanya ke Pals,”


Pandanganku teralih ke Pals lagi.

“Anggap aja… Aku lagi main petak umpet sama dia.”


Kaizo sendiri tidak langsung menjawab.

Ia menarik kembali tangan yang memegang Pals.

“Aku paham. Itu keinginanmu juga, aku tidak punya hak untuk membantah.”


Ia beranjak dari tempatnya, berjalan semakin masuk ke dalam.

“Kita istirahat saja. Semua akan diulang besoknya.”


Tercengang Hugo juga yang mengepakkan sayapnya.

“Gw mau ngasih joke, tapi ga kepikiran.”


“Gw duluan, Ser,” ucapnya lagi sambil terbang pergi.


Aku masih berada di pintu masuk.

Duduk diam di sana lumayan lama.

Sampai akhirnya bangkit, lalu berjalan masuk.


Lilin-lilin telah bersinar redup di setiap meja.

Entah sedari kapan Agatha meletakkannya.


Bukan ke tikar warung.

Melainkan bagian dalamnya.


Lihat selengkapnya