Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #31

[Hari Kedua Puluh Lima] Bagian Kedua


Setelah berkeliling cukup lama di kota. Sembari membelikan makan untuk Kaizo.

Kami kembali berjalan menuju rumah sebelumnya yang dipenuhi dengan warga dan pejalan kaki yang berhenti.


Saat kami berada di posisi yang sama seperti tadi.

Benar saja, rumah itu sudah tidak ada lagi orang.

Benar-benar kosong, seakan tidak terjadi apa-apa.


Padahal di pagar masuk ke rumah itu, terdapat sebuah garis penghalang berwarna kuning terang, menutupi jalan untuk masuk ke dalam rumah itu.


Kami berdua melangkah semakin dekat, kemudian berhenti di depan rumah itu.


…

Tidak ada apapun disana.

Hanya rumah kosong, gelap, yang dibatasi dengan benda kuning panjang itu.


Aku menatap kesana dengan kepala sedikit miring.

“... Ga ada apa-apa tuh, cuma rumah kosong.”


“Tidak juga, semuanya sudah dirapikan oleh pihak berwajib. Yang kamu lihat hanyalah akhir dari tempat ini saja,” jawab Pals.


Aku menolehkan kepala ke arah Pals.

“Boleh masuk ga sih?”


Pals memutar tubuhnya sampai menghadap ke diriku.

Lekukan di mulutnya berubah menjadi datar.

“Kamu serius masih menanyakan itu?”


“Kenapa? Kan udah selesai. Siapa tau Azrel disini,” jawabku.


Terdengar helaan nafas dari Pals.

Untuk pertama kalinya aku mendengarnya melakukan itu.

“Di kantor polisi, mereka sedang mengumpulkan data dan bukti untuk insiden ini lewat CCTV. Kamu bisa ikut melihat dengan mereka, itupun kalau diizinkan.”


“Azrel bukan?” tanyaku.


Pals tidak menjawab langsung.

Senyumnya kembali terukir.

“Aku lebih suka mengatakan. Cek saja sendiri.”


Aku mendengus kesal, lalu menghadap ke depan dengan cepat.

“Oke, fine by me.”


“Ini pertama kalinya aku dengar dia menggunakan inggris,” gumam Kaizo.


Tatapanku menoleh ke belakang lagi.

“Kai, kamu ga usah ikut, ya? Pals juga jangan.”


Kaizo sendiri tidak menjawab.

Tatapannya mengarah ke diriku dengan bingung.


“Kan kamu spesimen, bisa aja orang disana curiga. Biar aku sendirian aja,” ucapku agar dia paham.


Kaizo tidak langsung mengiyakan. Melainkan memberi pertanyaan lain, “Apa kamu tau arahnya?”


“Pals?”


Pals menjawab.

Memberikan arah ke lokasi yang dia maksud.


Aku memperhatikannya dengan seksama, sedikit membungkuk ke dirinya juga.

Sampai berakhir.


Tubuhku menegak lagi, lalu berbalik.

“Oke, makasih, Pals. Kalian bisa balik sekarang.”


Tanpa mengucapkan apapun.

Kaizo mengangguk sekali, kemudian berjalan pergi meninggalkanku.


Aku juga mulai berjalan pergi, berlawanan arah dengan Kaizo.


—


Tibalah aku di depan pintu kantor polisi di kota ini.

Ukurannya sama dengan rumah biasa.

Yang membedakan hanyalah kaca jendelanya yang hampir seukuran dengan dindingnya.


Aku meluruskan mata ke arah dinding.

Satu tangan mengepal, kemudian mengetuk pintu dengan pelan.


Orang di dalam tidak langsung menjawab.

Terdengar langkah yang mendekat ke arahku dulu, sebelum akhirnya pintu terbuka lebar.


Seseorang berseragam berada di dalam, menghadap ke arahku.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”


Aku melirik ke arah lain sebelum menjawab, “... Itu, kata temen saya… Bapak lagi ngeliat CCTV di rumah yang ada kejadian itu ya?”


“Apa kamu mau melihat juga?” tebak orang itu tanpa bertanya lebih jauh.


Aku mengerjap sekali, lalu menatapnya penuh.

“I-iya, kok bapak tau?”


Orang itu tertawa tipis, lalu merubah posisi tubuhnya ke samping.

“Ada orang yang ngeliat CCTV bareng kita juga. Dan katanya dia punya temen, yang kemungkinan bakal kesini. Apa itu kamu?”


Aku disitu tidak langsung menjawab.

Hanya diam menatap ke wajah orang itu.

“... Iya…? Emang siapa orangnya, pak?”


“Kamu lihat saja sendiri.”


Aku memijakkan kaki ke dalam kantor.

Lihat selengkapnya