Seperti Yang Aku Tulis: I Know Everything Vol 2

Arjun
Chapter #32

[Hari Kedua Puluh Lima] Bagian Ketiga

Dengan langkah pelan aku berjalan menuju Pals, kemudian berhenti di depannya. Namun tidak langsung duduk.


Pals mengangkat wajahnya sampai menghadap ke diriku.

“Kenapa kamu melihatku, Sera?”


Aku memejamkan mataku sembari menghela nafas, kemudian duduk berhadapan dengannya cukup dekat.

“Aku liatin sesuatu. Sama…. Nanyain, pastinya.”


Tatapanku berpindah ke belakang. Melihat Hugo yang baru saja memasuki warung.

“Hugo, minjem ponselnya dong. Mau liatin rekaman ke Pals.”


Hugo menatapku sambil tersenyum miring.

“Bayar dulu, satu menit, seratus ribu.”


Aku berdecak kecil, lalu mengangkat satu tangan ke arahnya.

“Buru ah, jangan lama-lamain durasi.”


Hugo mendekatiku sambil tertawa kecil.

“Iya deh, iya. Sakau banget tuh pengen ketemu cowoknya.”


“Ha-ha, lucu,” jawabku dengan tawa dibuat-buat.


Ia berhenti di depanku, kemudian menyerahkan ponselnya.

“Lah, bener kan? Se-effort ini, buat satu cowok. Gw mah ogah walau cewek gw nanti secantik lu.”


“Gimana?”


“Kaga,” jawab Hugo dengan cepat.


Tangannya masih mengulur dengan ponselnya di tangan.

Aku tidak langsung mengambilnya.

Setelah kalimat itu keluar, aku menatapnya dengan menurunkan satu alis perlahan.

Sebelum akhirnya aku mengambil ponselnya.


Tanganku menekan-nekan layar ponsel itu.

Setelah beberapa saat, aku memperlihatkan rekaman dari CCTV dekat dengan wajah Pals.

Bahkan bisa dibilang hampir menempel ke wajahnya.


“Kamu tau, aku bisa melihatnya dengan jelas tanpa perlu mencium layar ponsel ini, kan?” keluh Pals.


“Oh, iya. Maaf,” jawabku sambil menarik sedikit tanganku.


Pals memperhatikan rekaman itu dengan seksama.

Ekspresi beku nya, dengan senyum polos dan mata hitam kosongnya.


Beberapa menit terlewat.

Puluhan menit juga terlewat.


Tanganku masih memegang ponsel itu untuk dilihat Pals.

Rasanya… Tanganku…

Tidak. Tanganku memang mati rasa karena memegang ini terlalu lama.


“Pals… Perlu banget aku pegang sampe beberapa jam? Aku skip sampe insiden yang aku lihat tadi aja gimana?” pintaku.


Pals mengunci pandangannya ke layar, sambil menjawab, “Aku bahkan tidak menyuruhmu untuk memperlihatkan semuanya. Kamu bisa saja melewatkan semuanya jika kamu mau.”


“Tapi tidak, kamu malah ingin aku melihat teras rumah yang gelap, kotor, dan sepi selama setengah jam,” jawab Pals sekali lagi.


Aku meletakkan kepalaku di atas meja sambil merengek kecil.

“Terus kenapa ga bilang~, kukira kamu mau lihat semuanya...”


“Aku hanya mengikuti perkataanmu. Bukan salahku.”


Aku memencet layar ponsel sekali, kemudian menjatuhkannya ke alas meja.

“Istirahat bentar. Tanganku rasanya mati rasa.”


“Kamu ga bisa ngerasain kalau mati ras-”


Aku menurunkan kedua alis.

Dengan jengkel memotong kalimatnya,

“Berisik, Pals, berisik,”


Pals menghentikan ucapannya.

Dengan wajah yang mengarah ke depan.


Saat kepalaku masih tergeletak di meja dengan sorot mata mengarah ke dinding belakang Pals.


Terdengar langkah pelan yang mendekatiku dari belakang.

Tapi aku terlalu lelah untuk sekedar menoleh ke belakang.


Sebuah tangan berbulu lebat yang memegang toples berisi makanan diletakkan di depan mataku.

Diikuti dengan Kaizo yang berbicara, “Aku tidak bisa membantu banyak di pencarianmu. Jadi aku hanya memberikan ini sebagai camilan.”


Aku terkekeh sekali sambil tersenyum kecil.

“Makasih, Kai.”


“Kamu tau… Mungkin kamu bisa menggunakan toples itu untuk jadi sandaran Ponsel. Agar tanganmu tidak perlu menahan selama berjam-jam,” ucap Kaizo sekali lagi.


Sontak kepalaku terangkat dari meja, kemudian menoleh ke belakang.

“Saranmu bagus banget, Kai.”


Kaizo tersenyum tipis.

“Senang bisa membantu.”


Tatapanku berpindah ke Pals lagi.

Mengambil ponsel di meja, kemudian menyalakan rekaman itu lagi.


Lihat selengkapnya