Seporsi Kemenangan di Banda Neira

Lisa
Chapter #1

Chapter 01

Tanjung Priok. Tempat suara terompet kapal berharmonisasi dengan kicauan merpati. Tawa dan senyuman orang-orang memenuhi sudut pelabuhan. Terik siang hari berpadu dengan udara khas lautan yang menyegarkan.

Sebuah kapal dengan perlahan bersandar di tepian pelabuhan. Penumpang berbondong-bondong naik dengan hati berdebar dan antusiasme. Kapal itu selalu indah, lautnya memeluk seperti simbol kesetiaan sampai akhir perjalanan nanti.

Lelaki dua puluh empat tahun dengan pakaian santai yang modis, berdiri di dek samping kapal. Barang-barangnya sudah di simpan di kabin. Kapal sudah mulai berlayar sehingga sayang bila tidak menikmati pemandangan lautan. Kebetulan, ada dua lelaki lain di dekatnya yang kira-kira dia sudah tahu siapa mereka.

“Selo, ya? Gue Louis,” katanya dengan lembut. Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Louis Minh Löwenstein. Lelaki dengan muka blesteran yang cukup mudah diingat. Matanya coklat khas orang Asia. Rambutnya rapi dengan sentuhan pirang gelap juga hidung mancung ala orang barat. Tidak begitu mencolok di antara para orang lokal, tetapi cukup mencuri atensi. Sudah begitu, Louis juga bisa dikatakan tinggi untuk standar orang Jakarta.

Sementara itu, lelaki lain di depannya mengenakan pakaian santai, cukup berwarna, tetapi bukan tipe pakaian yang meriah. Dia menyalami tangan Louis sambil tersenyum lebar. Usianya masih dua puluh tahun. Energi besar khas orang periang yang dimilikinya cukup kontras dengan Louis yang cenderung tenang. “Iya, gue Selo.”

Gibran Marcello, yang akrab dipanggil Selo atau atau Gibi. Gayanya ala anak keluarga kaya di Jakarta. Tampilannya tidak perlu mencolok, pamer perhiasan mahal, apalagi berlagak sombong. Pakaiannya tidak berlebihan, tetapi dari bahan berkualitas yang harganya bisa ditebak cukup tinggi.

Selain Louis dan Selo, lelaki satunya lagi berusia dua puluh tiga tahun. Dia hampir mirip dengan Louis, sama-sama cowok tenang. Namun, bila dibandingkan Louis yang modis, lelaki satu ini lebih tepat disebut rapi. Senyuman tipisnya manis, sedikit berbeda dengan Louis yang memancarkan dewasa lekaki dewasa yang tenang. “Gue Aresta.” Dia ganti menyalami masing-masing dari mereka.

Aresta Jerian. Meski agak berbeda dibandingkan Louis dan Selo, setidaknya Aresta tampil dengan kesan nyaman dipandang. Mukanya khas orang biasa di Jakarta. Kemeja dengan outer rapi mirip dengan miliknya itu pasti bisa ditemui sedang dipakain oleh orang lain di setiap jalanan di Jakarta. Namun, toh, pakaian bukan segalanya. Selama berpenampilan rapi dan ramah, kebanyakan orang akan senang untuk berada di sekitarnya.

Pertemuan mereka bukan tanpa takdir. Mereka adalah tiga dari lima peserta open trip di Banda Neira. Peserta satunya lagi akan menyusul saat kapal mampir ke Makassar, sedangkan peserta satunya lagi baru akan mereka temui tepat saat sudah sampai di Banda Neira karena dia memilih menggunakan mode transportasi pesawat.

Lihat selengkapnya