Udara di Pelabuhan Banda Neira terasa begitu sejuk. Langitnya lebih cerah, seolah-olah Tuhan sedang tersenyum. Deburan ombak air lautan berpadu dengan canda tawa orang-orang saat turun dari kapal. Bila dianalogikan, Banda Neira itu seperti lukisan yang dipoles dengan cat minyak. Lebih hidup, kaya, dan berwarna.
“Akhirnya kita sampai!” Selo menyeru girang saat mereka berempat turun dari kapal.
Aresta tersenyum. “Gue udah berkali-kali lihat Banda Neira di sosmed, tapi kalau lihat langsung kayak gini… ternyata jauh lebih indah.”
Louis mengamati gadis di depannya. “Aura, mau gue bantuin bawa barang gak?”
“Aman, aku bisa kok,” kata Aura singkat, toh dia memang sungguh mampu membawa barang-barangnya sendiri.
Dari pelabuhan, mereka berjalan ke Wisma Senja Biru, penginapan yang telah dipesan sejak jauh-jauh hari. Di sanalah mereka akan bertemu pihak penyelenggara open trip ini dan juga satu personel terakhir yang masih belum mereka ketahui siapa. Lokasi wisma mereka tak jauh, toh Banda Neira adalah pulau kecil yang bisa dieksplor dengan jalan kaki.
Wisma Senja Biru terletak di sisi pulau. Pemandangannya langsung ke arah pantai, lautan, dan Gunung Api yang gagah. Arsitekturnya tradisional semi modern sehingga menyatu dengan alam. Hanya satu lantai, tetapi begitu luas. Ada beranda depan dan belakang lengkap dengan kursi dan meja, ruang tamu dan ruang tengah yang lega, dapur luas yang bersih dan lengkap, serta lima kamar dengan fasilitas kipas, lemari pakaian, meja kecil, dan kursi.
Di sana, sudah ada seseorang yang menunggu mereka. Dia duduk di tepian beranda wisma, lalu berdiri saat melihat rombongan Louis mendekat. “Tamu dari open trip, ya? Selamat datang di Wisma Senja Biru! Kenalin, aku Edward, panggil aja Eddy.”
Edward Souisa. Lelaki dua puluh dua tahun. Tampang khas penduduk lokal dengan rambut rapi seolah-olah sengaja ditata supaya mencuri perhatian para gadis. Senyumannya ramah, tetapi berbahaya seperti bisa ular. Pakaiannya kasual, tetapi rapi—pasti papanya yang menyuruh karena dia harus menyapa tamu. Celana panjang coklat bahan kain, kemeja lengan pendek warna biru muda. Kombinasi segar, tetapi lembut, sempurna untuk pantai Banda Neira yang indah.
“Aku anaknya yang punya wisma. Ini kunci wisma buat kalian, ada lima. Masing-masing satu.” Eddy menyalami satu persatu dari mereka sambil menyerahkan kunci.
Louis, Selo, dan Aresta memperkenalkan diri saat mereka bergantian menyalami Eddy.
Eddy tersenyum ramah. “Jangan sungkan-sungkan selama di wisma, anggap aja rumah sendiri. Kalau ada kendala langsung kabarin aku saja, aku bakal langsung datang kok. Santai saja.” Terakhir, saat menyerahkan ke Aura, dia sambil mengedipkan sebelah mata. “Perjalanan pakai kapal, ya? Pasti lelah. Mau cari makan dulu gak, cantik?”
Aura tidak langsung menjawab, tetapi wajah datarnya yang mengeras itu jelas tidak mengapresiasi gombalan Eddy. “Kami tadi sudah sarapan di kapal.”
Eddy mengamati mereka. “Masih kurang satu, ya, rombongan kalian?”
Louis mengangguk. “Iya. Kata pihak penyelenggara open trip, dia ke sini pakai pesawat, karena nolak naik kapal berhari-hari. Seharusnya bentar lagi dia udah sampai.”