Seporsi Kemenangan di Banda Neira

Lisa
Chapter #3

Chapter 03

Lebih dari sepuluh jenis produk perawatan wajah berjajar rapi di depan cermin. Dari sekian banyak merek  yang tak pernah ia lihat, hanya satu botol serum yang  dikenali matanya.

Aura menggeleng pelan,  membatin terperangah. Astaga, pantas saja mukanya kayak ubin masjid, perawatannya sebanyak ini.

Gita meringis saat mendapati Aura mematung memandangi skincare-nya. Di kedua tangan Aura, hanya ada dua jenis pelembab dan sunscreen  yang hendak diletakkan di sana. Namun, melihat tidak ada lagi celah tersisa di atas meja, helaan napas sengit keluar dari bibir gadis itu

“Eh, sori, sori, Aura. Aku bereskan sebentar...” ucap Gita panik.

“Gak perlu. Aku bisa pakai sunscreen tanpa cermin,” cetus Aura cepat.

“Duh, kamu... kamu marah?”

Aura menggeleng tipis tanpa kata, lalu menyambar tas ransel biru mudanya dan melangkah keluar kamar.

“Ya ampun, dia marah,” lirih Gita seraya terburu-buru merapikan skincare yang berantakan.

Atensi semua orang seketika tertuju ke arah pintu. Gita berdiri di sana, mengenakan kardigan bulu-bulu berwarna putih bersih, penampilan yang mungkin terasa mencolok bagi sebagian orang, tapil terlihat pas saat dikenakan olehnya. Begitu matanya melihat sosok tour guide  yang sudah siap di di luar, Gita melambai.

“Selamat datang di Negeri Pala!” Marcell mengedipkan sebelah matanya seraya menyunggingkan senyum hangat.

Gita mengangguk antusias, menyambut sapaan itu sebelum akhirnya melangkah maju dan bergabung bersama rombongan.

“Halo, teman-teman!” sapa pria itu ramah. Dia mengenakan kaos hitam paduan celana pendek abu-abu, memikul ransel kecil di punggungnya. Rambut panjangnya diikat rapi ke atas, memperlihatkan lesung pipi yang  sangat sempurna.

Gita dan Aura sampai tidak berkedip menatapnya.

“Aku Marcell Anggoro. Biar lebih akrab, panggil aja Bang Marcell, ya? Beberapa hari ke depan kita bakal jadi best partner buat mengeksplor Banda Neira!” serunya antusias.

“Kalau dijejerin sama Mas Louis, Selo, dan Aresta, jujur gantengan Bang Marcell, sih!” bisik Gita.

Aura hanya terkekeh kecil menanggapi bisikan Gita.

“Aku belum tahu siapa aja nih nama kalian?” tanya Bang Marcell ramah.

Selo mengulurkan tangannya lebih dulu. “Selo, Bang,” ucapnya, “tapi biasanya dipanggil Selo Ganteng.”

“Ih, narsisnya kumat!” gumam Aura pelan sambil memutar bola mata.

Selo melirik Aura sekilas, menaikkan satu alisnya seolah bertanya, ‘Kenapa? Enggak terima?’

Aresta menyambut lambaian tangan Marcell dan tos ala cowok. “Aresta, Bang.”

“Louis, Bang!” sapa Louis dengan senyum sumringah.

“Gita, Bang, Gita!” timpal Gita antusias, melambai semangat.

“Aura, Bang,” lanjut Aura sopan seraya mengulas senyum manis.

Lihat selengkapnya