Seporsi Kemenangan di Banda Neira

Lisa
Chapter #4

Chapter 04

Sayup-sayup suara televisi terdengar dari ruang tamu. Angin malam Banda Neira tipis-tipis menembus setiap sudut Wisma Senja Biru. Deburan ombak bergema lirih di sela-sela setiap kali sunyi menyusup.

Trip hari pertama telah usia. Rombongan kelima anak muda itu sudah kembali ke wisma sejak beberapa jam lalu. Mereka telah mandi untuk menyegarkan tubuh kembali dan berganti ke pakaian santai untuk menikmati waktu senggang di pulau yang kata orang-orang merupakan surga dunia.

Selo dan Aura duduk di sofa ruang tengah, dengan jarak tak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Mereka sambil menonton televisi. Layarnya menayangkan sinetron lokal, genre romansa komedi anak muda yang sesekali menampilkan adegan manis picisan.

“Lu pilih tokoh ceweknya sama cowok yang mana, Ra?” ceplos Selo, asal mengajak diskusi tentang tontonan mereka.

“Cowok yang ini mendingan sih. In this economy, lho, ya, cowok berduit lebih penting daripada yang modal cinta doang,” sahut Aura.

Sementara itu, di ruang tamu ada Aresta. Dia tiduran di sofa sendirian sambil sibuk scroll media sosial. Sesekali dia tertawa kecil sendiri apabila ada video pendek lucu yang lewat. Samar-samar suara dari ponselnya membaur dengan bunyi dari televisi ruang tengah.

Di beranda depan wisma, ada Louis dan Gita. Mereka menghadap pemandangan lautan di malam hari. Gemerlap ribuan bintang di atas memantul di lautan. Gunung Api jauh di sana tampak samar di tengah langit gulita, tetapi tetap gagah di atas tanah bumi.

“Kalau gak ke Banda Neira, gak mungkin gue bisa lihat pemandangan sebagus ini,” kata Louis lembut. Dia duduk di kursi kayu. “Gue di Jakarta sehari-hari sibuk di depan laptop bikin desain baju.”

Gita duduk di atas pagar beranda setinggi kurang dari satu meter. Dia mengalihkan pandangan dari lautan di depan wisma, ke arah lelaki di dekatnya. “Mas Louis tapi mukanya gak kayak orang Jakarta.”

Louis tersenyum kecil. “Gue emang bukan orang asli Jakarta. Papa dulu pilot di Jerman. Kalo mama jadi ATC, air traffic controller, di Bandara Frankfurt, Jerman. Mereka ketemu di sana, lalu nikah. Pas udah pensiun, mereka pindah ke Jakarta, tinggal di kawasan elit. Karena pengeluaran di sini lebih murah, jadi bisa slow leaving. Pas itu aku masih umur sepuluh tahun—mereka emang usianya udah agak telat sih waktu punya aku sebagai anak dulu. Jadinya aku lanjut sekolah di sini, lalu Puji Tuhan bisa jadi fashion designer, terus kecantol di agensi Vinci Fashion House.”

Gita masih penasaran. “Mama papanya Mas Louis orang Jerman semua?”

Louis menatap gadis itu. “Papa aja yang orang Jerman. Mama asli Vietnam, merantau kerja di Jerman.”

Lihat selengkapnya