Pagi di Banda Neira lebih hangat daripada pagi di mana pun. Cahaya mataharinya lembut, membelai kulit seperti sebuah pelukan. Kicauan merpati menemani sayup-sayup deburan ombak dari kejauhan. Pemandangan Gunung Api dari depan wisma mulai menunjukkan kemegahannya kembali setelah sempat disembunyikan gulita langit malam.
Sarapan bersama di wisma telah selesai beberapa menit lalu. Semuanya telah bersiap dengan ransel atau tas kecil masing-masing untuk trip hari ini, kecuali Selo yang masih bersiap-siap dengan ransel dan kameranya di ruang tengah.
Marcell sudah datang baru saja. Sambil mereka menunggu Selo, Marcell mengobrol dengan Aresta dan Aura di ruang tamu tentang tempat yang akan mereka kunjungi.
“Gunung Api?” kata Aura setelah Marcell menyebut destinasi mereka hari ini. “Itu masih aktif gunungnya, Bang Marcell?”
“Masih,” jelas Marcell. “Letusan besar terakhirnya terjadi pada bulan Mei 1988. Sampai sekarang masih ada aktivitas vulkanik kayak uap atau fumarol kecil di dekat puncaknya. Petugas terkait juga terus mengawasi aktivitas gunung ini secara rutin. Jadi, aman banget buat mendaki kok.”
“Gunung Api tuh yang keliatan dari depan wisma ini, kan?” sahut Aresta. “Keren banget, lho. Dari kejauhan aja udah kerasa indahnya.”
Marcell mengangguk. “Gunung Api emang selalu jadi destinasi terbaik para wisatawan karena pemandangannya yang luar biasa.”
Sementara itu, Louis dan Gita berada di beranda depan wisma. Louis berdiri di balik pagar pendek beranda, sedangkan Gita duduk di tangga beranda. Eddy yang kebetulan lewat untuk memantau keadaan wisma, langsung mendekat ke tepian beranda dengan senyum ramah dan manis, tetapi penuh arti, khasnya.
“Pagi, cantik,” gombal Eddy. “Gimana, enjoy gak di Banda Neira?”
Gita tertawa kecil, terhibur oleh tingkah cowok itu yang sama sekali tidak berubah. “Enjoy sih,” katanya singkat.
Louis menyahut dengan santai tanpa bermaksud apa pun, “Eddy gombal-gombal gitu gak takut ceweknya marah?”