“Aku capek!” Gita sejak tadi tak berhenti mengomel, akhirnya membuat yang lain kompak menoleh padanya di tengah pendakian Gunung Api. “Pulang aja udah!” Dia sangat dramatis hampir di setiap rintangan kecil yang ada. Tanjakan tiada habis membuatnya lelah, pohon-pohon mengganggu setiap langkahnya, cuaca panas membuatnya berkeringat, pakaian tebal terasa tak nyaman, bebatuan licin mengakibatkan dia nyaris terpeleset beberapa kali. Semua dia keluhkan, sedangkan yang lain berusaha menyemangati satu sama lain tanpa komplain.
Aresta menatap Gita, kesabaran cowok itu tampak menipis. “Barusan kan kita juga udah istirahat.”
Aura melirik gadis itu tak suka. Mereka terpaksa berhenti sebentar karena ocehan Gita kali ini. Aura tak menaikkan nada bicara, tetapi kesannya tak menyenangkan. “Gita gak usah gitu kenapa sih? Kamu udah setuju buat ikut, ya harus ikut sampai puncak. Iya kalau kamu beneran kelelahan, kamu mah cuma drama aja.”
Selo mengalah dengan berat hati, lalu mengulurkan sebelah tangan kepada Gita. Mukanya antara benar-benar mau membantu dan terpaksa maju demi membuat suasana mendaki mereka menjadi sedikit lebih baik. “Sini gue bantu, deh. Siniin tangan lu, gue gandeng.”
Gita malah reflek sedikit menjauh dari Selo. “Gak mau ih!”
“Mau lu apa dong?” sahut Aura seketika, makin merasa kesal.
Selo akhirnya ikut menggerutu tipis karena makin sebal dan keheranan akan sikap cewek satu ini. Dia asal ceplos apa yang ada di kepalanya, “Kalo mau pulang, pulang sendiri sana. Minta dijemput papi.”
Aresta langsung menyenggolnya. “Sel.” Dia mengkode supaya Selo tak lanjut berbicara atau suasana bisa saja makin memburuk bila sampai bertengkar atau berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu-perlu amat bagi pendakian mereka.
Louis akhirnya ikut bicara. “Gita, aku ngerti kamu capek, tapi lu udah sejauh ini. Dan kita gak bisa pulang atau pun ke puncak kalau gak bareng-bareng. Jadi, lanjut sebentar lagi aja, ya, Gita? Jalan pelan-pelan gak apa-apa. Gue bakal stay di belakang buat jagain lu. Okay?”
Gita terdiam sebentar. Dia ingin membalas dengan omelan, tetapi sesuatu tentang cara Louis bicara membuat sedikit bagian dari hatinya terasa melembut dan tiba-tiba rasanya sulit untuk mengomel melawan apa yang telah dikatakan Louis. “Iya deh!” ucap Gita pada akhirnya, meski sambil menggerutu.
Gita pun tak paham mengapa dia merasa lebih tenang di dekat Louis. Mungkin karena Louis yang dewasa mampu merangkul inner child Gita yang selama ini terabaikan? Bagian dari dirinya yang selalu saja berusaha disembunyikan olehnya, yang mungkin Gita sendiri sudah lupa atau tidak paham lagi cara menghadapinya.
“Ayo,” kata Louis sekali lagi.
Gita mengangguk dan mulai melangkah kembali.