Janji dress code hari ini terlaksana dengan sangat niat. Di dermaga kayu, empat laki-laki itu berdiri menunggu dengan kemeja linen putih santai berlengan tergulung dan celana khaki warna cokelat susu. Selo, Aresta, Mas Louis, hingga Bang Marcell tampak seperti jajaran model internasional.
Edward menghadang. Cowok itu tersenyum manis ke Gita dan Aura, namun Aura menyambutnya dengan muka cuek.
“Gita, ini buat kamu!” Edward menyodorkan sebungkus manisan pala khas Banda. “Aku ikut rombongan kalian, ya?” tawar Edward.
“Gak bisa! Udah pas kapasitasnya. Nanti perahunya tenggelam!” potong Aura cepat.
Edward tertawa lepas. “Belum pernah ada cerita kapal tenggelam cuma gara-gara nambah satu orang.”
Aura makin kikuk, apalagi Gita di sebelahnya malah ikut tertawa. Saat melihat perubahan raut wajah Aura yang makin sewot. Cepat-cepat Gita menyela, “Makasih ya, Ed, tapi kita duluan!”
“Dah cantik,” ucap Edward santai sebelum mereka berlalu.
Tak jauh di depan, Louis menyaksikan interaksi itu. Rahangnya mengeras sekilas sebelum berpaling.
Marcell yang menyadarinya merangkul Louis sambil melirik ke arah Edward. “Biasa, dia. Ada anak baru langsung diobral semua pesonanya.”
Louis cuma tersenyum tipis, menutupi rasa gelisah. Masalahnya, Edward bukan cuma sekadar tebar pesona, cowok itu memang memesona.
“Perlu kalian ketahui, pulau yang mau kita tuju ini adalah pusat perdagangan rempah dunia, khususnya buah pala yang diburu bangsa Eropa ratusan tahun lalu,” kata Bang Marcell.
“Rempah-rempah itu termasuk kunyit?” tanya Selo dengan wajah polos tanpa dosa.
Gelak tawa pecah seketika, bahkan Bang Marcell sampai menepuk jidatnya sendiri.
“Iya, kan? Sama-sama bumbu dapur!” bela Selo lagi sambil cengengesan.
Marcell menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Nanti kita cari kunyit di dasar laut! Dah, ayo naik!”
“Niat banget kita hari ini,” kekeh Aresta menyentuh kemeja linennya.