Seporsi Kemenangan di Banda Neira

Lisa
Chapter #8

Chapter 08

Mendekati tengah jalur pelayaran, angin mendadak bertiup kencang. Langit yang tadinya cerah berubah kelabu gelap.

Gelombang air laut mulai terangkat tinggi.

Brak!

Perahu menghempas ombak keras-keras, melemparkan cipratan air   ke seluruh penumpang.

Kepanikan pecah. Gita menjerit histeris sambil memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram erat apa saja yang ada di dekatnya. Tanpa sadar, Louis merengkuh bahu Gita, menarik cewek itu rapat ke pelukannya untuk menahannya agar tidak terhempas.

Di sisi lain perahu, juru mudi memutar kemudi dengan urat-urat leher menegang, sementara Marcell berdiri di tengah perahu, memegang tali pancang sambil berteriak menembus deburan angin, “Pegangan semuanya! Tetap di posisi duduk, jangan pindah bobot! Ini biasa di Laut Banda!”

Tubuh Aura tiba-tiba menggigil. Matanya dibalik kacamata yang berembun tampak panik.

Gerak-gerik itu tak luput dari pandangan Selo dan Aresta.

“Ra, lo kedinginan ya?” Aresta setengah berteriak menembus suara angin, matanya menatap Aura khawatir.

“Iya... jaketku ketinggalan...” sahut Aura pelan.

Gita yang masih gemetaran langsung dengan cepat dan menyodorkan sebuah cardigan bulu-bulu warna merah muda menyala. “Pakai punya aku aja, Ra! Aku bawa tiga.”

Aura meringis melihat cardigan penuh bulu semarak itu. Selo yang memperhatikan itu mendengkus geli di tengah kepanikan. Aura memang jauh dari kata cewek anggun.

Selo melepas jaket parasutnya lalu melemparkannya  ke pangkuan Aura. “Nih, daripada lo beku di tengah laut! Tapi ingat, ntar cuciin!”

Aura mendelik sebal. Di saat bersamaan, Aresta meraih jaketnya sendiri dan menyelimutkannya secara lembut ke bahu Aura. “Pakai punya gue aja, Ra.”

Selo cuma mengacungkan bahu santai seolah tak peduli. Namun Aura yang punya sifat tak enakan sekaligus gengsi, ia malah menyambar jaket Selo dari pangkuannya dan mengenakannya menumpuk jaket Aresta.

“Dua-duanya aku butuh! Biar tumpuk dua!” cetus Aura  mengancingkan jaket Selo di atas jaket Aresta.

Selo dan Aresta terkekeh  melihat kelakuan Aura yang tampak seperti buntelan kain raksasa.

Hantaman ombak besar berikutnya membuat perahu terangkat miring. Aura menjerit pelan. Seketika itu juga, Selo di sisi kiri dan Aresta di sisi kanan refleks mencengkeram kedua lengan Aura, menguncinya agar tidak jatuh. Aura terapit erat di antara dua cowok itu, jemarinya canggung mencengkeram baju mereka berdua.

 Gita yang menyadari situasi itu sempat-sempatnya tertawa gemas melihat gengsi Aura yang runtuh seketika di antara dua cowok ganteng.

Setelah lima belas menit melewati badai, hempasan ombak pelan-pelan mereda. Air kembali tenang begitu bentangan pasir putih Pulau Hatta terlihat di depan mata. Semua orang menarik napas lega, tersenyum lebar sambil mengelap wajah yang basah kuyup.

Senam jantung yang diam-diam menakutkan, tapi sangat memacu adrenalin.

Begitu perahu merapat di batas drop-off Pulau Hatta, titik di mana tebing terumbu karang langsung terlihat ke kedalaman laut biru pekat, pemandangan di bawah air terlihat begitu jelas dari atas.

Selo dan Aresta sudah lebih dulu berganti pakaian. Selo langsung melompat ke air, disusul Aresta yang menyebur santai.

Bang Marcell menoleh ke arah Louis. “Gue sama Louis turun duluan ke air deh. Kalian ganti baju di dalam kabin aja, ya. Pintunya bisa dikunci dari dalam, kok.”

“Siap, Bang. Makasih!” sahut Gita cepat.

Begitu Bang Marcell dan Louis menyebur menyusul Selo dan Aresta, Gita dan Aura masuk berganti pakaian.

Gita muncul lebih dulu. Karena memang jago berenang, kacamata snorkeling dan fin sudah terpasang rapi di kakinya. Tanpa ragu sedikit pun, Gita langsung menyeburkan diri ke air.

Byur!

Lihat selengkapnya