"Meskipun capek jangan nyerah Al. Mama aja nggak nyerah, kita berjuang bareng ya. Jangan terbujuk, lelaki brengsek itu kembali karena udah dibuang sama cewek matrenya."
Almara melihat sang ayah yang diusir satpam rumah. Ayahnya terlihat lebih tua, mungkin efek dari bekerja keras setelah lebih memilih selingkuhannya yang seorang wanita malam bergaya hedon daripada istrinya sendiri yang mandiri dan sederhana.
"Ma, kayaknya Alma nggak mau nikah deh." Gumam Almara, menoleh pada ibunya yang masih sibuk dengan laptop setelah pulang dari kantor. Tidak ada waktu istirahat yang cukup untuk wanita karier satu anak itu
"Terserah kamu Al. Nggak nikah juga nggak papa yang penting bisa menghidupi diri sendiri. Sekarang mah cewek udah gak butuh cowok buat bertahan hidup. Yang penting kamu sukses, punya kerjaan bagus. Udah Al, tutup jendelanya nggak usah dilihat. Cepet belajar buat persiapan olimpiade."
"Iya, Ma." Almara menutup jendela setelah terakhir kali bertatapan dengan mata sendu sang ayah. Menuju ke meja, di lacinya terdapat banyak kertas dengan gaya tulisan yang berbeda beda, juga banyaknya coklat murah yang langsung ia buang. Semua itu dari penggemarnya, Almara tak tahu kenapa ia begitu populer. Mungkin karena wajahnya yang memang cantik atau karena sifat dinginnya yang terasa menantang untuk ditaklukkan.
Tapi yang jelas...
Almara meremat semua kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah.
Gadis 17 tahun itu sudah menyerah akan cinta seorang laki laki. Baginya, bahkan pria sebaik ayahnya bisa selingkuh, apalagi pria lain yang tidak ia kenal. Semuanya bajingan. Ia tidak akan percaya dan menyerahkan masa depannya pada laki laki manapun itu.
***
Almara melihat papan pengumuman, namanya tertera sebagai perwakilan tingkat kota untuk olimpiade kimia. Dari satu sekolah, ada satu orang lagi yang lolos bersamanya. Baru terpikirkan sedetik, sebuah lengan sudah bersandar menekan kepalanya. Almara reflek menunduk, tangannya mengepal menahan kesal.
"Asik, sama kamu." Suara berat laki laki dengan nada senangnya itu sudah bisa membuat Almara tahu siapa gerangan yang ada di sebelahnya.
"Minggir." Almara bergeser cepat.
Rakka agak oleng sedikit karena sandarannya berpindah tempat. Melihat tatapan mata judes Almara, Rakka hanya menunjukkan senyum lebar khasnya yang mengandung sedikit kejahilan. Siapapun, mungkin selain Almara, pasti terpesona dengan wajah tampan Rakka.
"Pagi Almara, mau sarapan bareng nggak?" Tanya Rakka.
"Nggak."
"Aku traktir."
"Nggak usah, makasih. Aku udah bawa bekal."
"Iya kah? Tapi kayaknya bekalmu nggak bisa dimakan. Tadi anak yang piket gak sengaja jatuhin tasmu, bekalmu berserakan di lantai."