Sepotong Kisah Almara

Efelana
Chapter #2

2. Menyebalkan

Pembelajaran 50 menit itu berlangsung cepat setelah guru kimia memberikan 3 soal dengan kesulitan super. Almara yang selesai pertama diizinkan untuk istirahat duluan.

Ia punya waktu 10 menit untuk makan dan harus ke perpustakaan untuk bimbingan olimpiade. Almara hanya membeli sandwich daging sebagai makanan dan susu coklat yang sudah ia bawa dari rumah. Selesai makan, Almara menghela napas sebelum masuk ke perpustakaan. Tidak, bukan karena benci perpustakaan. Perpustakaan itu sudah seperti kamarnya sendiri saking tidak pernah absennya Almara nongkrong sendiri di tempat ini. Hanya saja sekarang ia tidak akan sendiri. Laki laki dengan senyum lebar itu sudah duluan ada di sana.

Laki laki yang bagi Almara menyebalkan karena selalu mengundang kerumunan.

Benar saja, perpustakaan yang biasanya sepi sekarang langsung saja punya banyak tamu tak diundang. Para lelaki yang sedang 'les privat' dengan Rakka maupun para gadis dari kelas lain yang pura pura mencari buku di rak demi bisa curi pandang ke lelaki populer itu.

Almara duduk di kursi paling pojok, membuka buku paket dan buku tulisnya, mulai memahami rumus dan menghafal beberapa massa atom.

Gadis itu tidak sadar akan beberapa pasang mata yang mengikutinya. Termasuk Rakka, yang tak melepas senyumannya.

"Guys, gue pamit ya." Rakka menutup buku. Baru saja hendak beranjak, tangannya ditarik untuk duduk lagi.

"Rak lo pikir kita di sini buat apa?" Tanya Nathan.

"Belajar matematika karena kalian g*blok semua." Jawab Rakka asal bunyi.

"Bukan itu doang co. Kita di sini karena nggak rela lo berduaan sama Almara." Timpal Rendi

"Anj*r gue nggak gay. Najis, jauh jauh sana."

"B*ngke bukan lo ya yang kita peduliin. Tapi si Dewi SMA, Almara." Jelas Izan.

Mata Rakka menyelidik, ia baru dengar sebutan aneh itu. Dewi SMA?

"Lo deketin dia karena cantik kan?" Tanya Rendi tiba tiba.

Rakka kali ini lebih heran lagi. Baik ia akui bahwa Almara memang sangat cantik, tapi ia tidak mungkin mendekatinya hanya untuk alasan 'klise' begitu. Kalau soal cantik, ada banyak cewek cantik dari sekolah lain yang menggodanya setelah ia memenangkan dan menjadi bintang utama dalam tanding basket.

"Almara itu populer Rak. Kakak kelas sampai anak olahraga kelas sebelah aja sering ngasih surat cinta dan minta nomornya." Izan menjelaskan lagi.

Rakka sontak melotot.

"Dikasih nggak?" Tanyanya langsung.

3 teman basket, yang juga teman paling dekat Rakka tertawa.

"Kayaknya nggak. Kalau iya pasti mereka berani deketin Almara terang terangan."

Rakka mengusap dadanya yang lega. Syukurlah. Soalnya kalau tiba tiba Almara dikerubungi lalat, Rakka tidak punya pilihan untuk mengusir semua lalat itu. Pikiran buruknya membuat tangan Rakka mengepal sesaat. Teman temannya pun menangkap 'sinyal merah' itu. Nathan memukul pelan belakang kepala Rakka untuk membuatnya fokus kembali.

"Tapi kalau modelan lo berani deketin Almara terang terangan gini sih kayaknya para kroco itu juga bakalan mundur Rak."

Lihat selengkapnya