Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #1

❀𝐇𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐓𝐞𝐥𝐚𝐭❀

Suara ayam berkokok dari arah kandang bambu di belakang kompleks menjadi penanda bahwa pagi telah tiba di sebuah bangunan bertingkat tiga itu. Bangunan bernuansa abu-abu yang disebut rumah susun itu sunyinya tidak hanya dipecahkan oleh suara ayam, tetapi juga keributan rutin yang datang bersahutan dari para penghuni rumah susun tersebut.


Di lantai dua, suara televisi yang menyiarkan berita terdengar begitu keras hingga suaranya bisa terdengar ke unit lain. Belum lagi suara ibu-ibu yang sudah bergosip di pagi hari, suaranya malah terdengar seperti orang yang sedang berkelahi.


Tempat ini tidak pernah benar-benar sepi, bahkan ketika sebagian besar penghuninya masih memeluk guling di kamar masing-masing.


Di salah satu unit lantai tiga, unit nomor 303, sebuah jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Seorang wanita berdiri di depan pintu kamar sambil menyandarkan satu tangannya pada pintu. Perutnya semakin membesar, membuatnya harus sedikit mengubah posisi berdiri ketika punggungnya mulai terasa pegal.


Ia menghela napas panjang, menatap ke arah tempat tidur. Ia sudah membangunkan putrinya dua kali. Hasilnya sama persis, nihil. Anak perempuan di atas kasur itu masih menggulung tubuhnya di balik selimut.


Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar, secara hati-hati melangkahi tumpukan puzzle gambar yang bertaburan di lantai. Ia membungkuk perlahan, satu tangannya memegang lutut untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang kini kian berat, lalu menarik ujung selimut sampai sebatas pinggang anak itu.


"Bangun, Ina. Sudah pagi ini," tegur wanita itu.


Tangannya menepuk-nepuk pelan kaki putrinya. Tidak ada reaksi sama sekali. Hanya suara napas yang terdengar dari balik bantal.


Wanita itu mengembuskan napas panjang dengan helaan berat. Ia menjangkau bantal yang menutupi wajah anak itu, lalu menariknya sedikit. "Sudah jam begini, Na. Kamu mau sekolah atau mau tidur terus?"


Anak perempuan bernama Ina itu langsung memiringkan badannya, meraih kembali bantal yang diambil mamanya, lalu menutupi seluruh wajahnya. "Lima menit lagi, Ma."


Wanita itu memandang jam dinding sebentar, lalu kembali menatap putrinya yang berada di balik selimut. Sudut bibirnya naik sedikit, menggelengkan kepala. "Lima menitmu itu dari dulu bisa jadi lima jam. Ayo bangun, nggak ada lima menit-lima menitan lagi."


"Masih ngantuk banget, Ma. Semalam Ina belajar sampai jam sebelas," suara dari balik bantal itu terdengar teredam, diselingi erangan malas dan gerakan kaki yang menendang-nendang bagian bawah kasur.


"Belajar atau main puzzle?" sanggah mamanya.


Ia menanti selama beberapa detik. Ketika melihat tidak ada pergerakan lain, ia menjangkau ujung selimut lalu menariknya dengan sekali gerakan mantap sampai terlepas sepenuhnya ke ujung tempat tidur.


"Bangun. Mama nggak mau dengar kamu terlambat lagi hari ini."


Ina akhirnya membuka mata dengan terpaksa. Matanya menyipit karena silau oleh cahaya lampu yang masih menyala. Rambut panjangnya mencuat ke berbagai arah menutupi sebagian wajahnya, sementara bekas air liur yang ada di bantal masih tercetak jelas di pipinya. Ia duduk bersandar di dinding, menatap lurus ke depan dengan mata setengah terpejam dan mulut cemberut.


"Masih gelap, Ma." sahut Ina sambil menggosok tangannya ke lengan baju tidur.


Mamanya melirik ke arah jendela. "Gelap dari mana? Itu matahari udah ada. Kalau kamu nggak bangun sekarang, nanti terlambat."


Ina mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, mengucek matanya hingga agak memerah. Dengan ogah-ogahan, ia memutar tubuhnya ke pinggir kasur, membiarkan kakinya menggantung sebentar sebelum menyentuh lantai. Ia berdiri, meraih handuk yang tergantung di balik pintu, lalu melangkah keluar kamar sambil menguap lebar.


"Jangan lama-lama di dalam."


Ina mengangkat satu tangannya ke udara tanpa membalikkan badan, melangkah lemas. "Iya, Ma."


Wanita berbadan dua itu menggelengkan kepala pelan melihat tingkah putrinya. Ia mengusap perutnya, mengelusnya melingkar dengan gerakan penuh kasih sayang sebelum melangkah perlahan menuju dapur.

Lihat selengkapnya