Kabut di Tomohon tidak pernah sekadar uap air yang turun dari langit. Bagi orang-orang yang tumbuh di kaki Gunung Lokon, kabut adalah napas kota. Ia datang tanpa suara, menyelinap di antara rimbun pohon pangi, menyelimuti atap-atap seng rumah susun, dan membawa aroma tanah basah yang pekat setelah hujan semalam. Pagi itu, udara terasa lebih menggigit kulit, dingin yang sanggup menembus tulang meski seseorang sudah mengenakan jaket tebal.
Di lantai dasar rumah susun yang dindingnya mulai mengelupas, seorang anak perempuan berusia dua belas tahun duduk meringkuk di anak tangga semen yang dingin. Namanya Aina Fadiya, panggil saja Ina. Di pangkuannya, ada gulungan benang wol berwarna biru muda. Warna yang ia bayangkan akan sangat cocok untuk kulit bayi yang bersih.
Jemari Ina bergerak dengan ritme yang hampir begitu tenang. Jarum rajutnya berdenting halus setiap kali ujung logamnya bersentuhan. Ia sedang menyelesaikan sebuah sarung tangan mungil. Tinggal beberapa baris lagi sebelum bagian pergelangan tangannya selesai.
“Sedikit lagi,” bisiknya pada diri sendiri. Napasnya membentuk uap putih kecil di udara. “Nanti kalau adek udah sampai, tangannya nggak bakal kedinginan.”
Ina tersenyum tipis. Pikirannya melayang ke rumah sakit di pusat kota. Seharusnya ia ikut, tapi Ayah melarangnya.
"Jaga rumah aja, Ina. Tunggu Mama dan adek bayi di sini," kata Ayahnya sebelum berangkat tadi subuh.
Jadi, di sinilah ia berada. Menjadi penjaga gerbang bagi kebahagiaan barunya. Bagi Ina, kehadiran adik adalah jawaban dari doa-doa panjangnya setiap malam. Ia sudah membayangkan bagaimana ia akan mengajari adiknya berjalan di jalanan, atau bagaimana mereka akan melihat pawai bunga bersama-sama tahun depan.
Tiba-tiba, suara denting jarumnya terhenti. Dari kejauhan, sebuah suara asing mulai mengoyak keheningan pagi yang biasanya hanya diisi oleh suara kokok ayam dan deru mesin kendaraan sayur yang hendak menuju Pasar. Itu suara sirine. Awalnya pelan, seperti rintihan, namun semakin lama semakin melengking, memantul di antara tebing-tebing bukit dan dinding bangunan.
Ina mendongak. Jantungnya berdegup lebih kencang, tapi bukan karena takut. Ia justru berdiri dengan antusias, merapikan roknya. “Itu pasti mereka,” gumamnya.
Senyumnya melebar. Dalam logikanya yang masih kanak-kanak, sirine berarti prioritas. Sirine berarti mereka harus cepat sampai karena ada anggota keluarga baru yang sangat penting di dalam sana.
Mobil ambulans putih dengan logo rumah sakit itu muncul dari balik tikungan kabut. Kecepatannya tidak melambat seperti mobil yang membawa kabar gembira. Ia melaju dengan urgensi yang aneh, lalu mengerem mendadak tepat di depan halaman rumah susun, menciptakan suara decit ban yang memilukan di atas aspal basah.
Ina berlari kecil mendekat, masih menggenggam rajutan biru mudanya. Ia berdiri sekitar lima meter dari pintu belakang mobil itu. Senyumnya belum pudar. Ia sudah bersiap untuk berteriak, “Selamat datang, Mama! Selamat datang, Adek!”