Pagi itu, seminggu setelah pemakaman Mamanya Ina, udara terasa sangat pengap. Kabut turun begitu rendah hingga menutupi jemuran-jemuran tetangga di koridor. Bau sayur sawi putih yang baru dipanen dan aroma cengkih yang sedang dijemur di halaman bawah merayap masuk ke celah-celah pintu, namun bagi Ina, semua aroma itu terasa hambar.
Di dalam unit rusun yang sempit itu, keheningan adalah tamu yang paling sering berkunjung. Ayahnya, yang biasanya cerewet saat menyiapkan dagangan sayurnya, kini lebih banyak diam. Ia bergerak seperti bayangan di dapur, matanya merah dan cekung, tangannya gemetar setiap kali harus menyeduh susu formula.
"Ina..." panggil Ayahnya pelan. Suaranya pecah, seperti keramik yang retak. "Boleh tolong Ayah? Pegang botol ini sebentar, Ayah mau ganti popok Arie."
Ina, yang sedang duduk di sudut ruangan sambil memandangi sisa benang wol biru yang berantakan, tidak menoleh. Ia tetap terpaku pada lantai semen yang kusam.
"Ina, kamu dengar Ayah?"
Ina akhirnya menoleh, namun tatapannya tajam dan dingin. Tatapan yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak perempuan berusia dua belas tahun. "Aku nggak mau."
"Cuma bentar aja, Nak. Ayah kewalahan."
"Buang aja dia, Ayah," potong Ina dengan nada datar yang mengerikan. "Kalau dia nggak ada, Mama pasti masih di sini sekarang. Mama pasti lagi masak tinutuan buat kita, bukan Ayah yang cuma bisa bikin air panas."
Ayahnya terdiam. Tangannya yang sedang memegang botol susu jatuh ke samping tubuhnya. Di atas tempat tidur kecil, bayi itu mulai merintih. Suara tangisnya kecil, seperti suara anak kucing yang kedinginan. Namun bagi telinga Ina, suara itu adalah lonceng kematian yang terus-menerus mengingatkannya pada kain putih di ambulans tempo hari.
"Jangan bicara gitu tentang adek kamu," bisik Ayah, suaranya mengandung permohonan yang amat sangat. "Dia nggak tahu apa-apa, Ina. Dia cuma bayi."
"Dia tahu caranya membunuh Mama," balas Ina ketus. Ia berdiri, menyambar jaket rajutnya yang lusuh, dan berjalan keluar pintu tanpa alas kaki.
Ina berjalan menyusuri koridor rumah susun. Keramaian pagi biasanya dimulai dengan suara klakson mobil-mobil pengangkut bunga atau teriakan para pedagang di Pasar. Namun, Ina memilih untuk menjauh dari kebisingan itu. Ia berhenti di ujung tangga, tempat yang sama di mana sarung tangan biru itu jatuh tempo hari.
Ia melihat ke bawah, ke tanah becek di samping saluran air. Di sana, benda itu masih ada. Sarung tangan biru muda yang kini hampir sepenuhnya berubah warna menjadi cokelat karena lumpur dan injakan kaki orang-orang. Benda itu sudah mati, sama seperti pemilik yang seharusnya memakainya.
Ina tidak berniat mengambilnya. Ia justru merasa puas melihat benda itu membusuk di sana. Sarung tangan itu adalah janji yang dikhianati, pikirnya.
"Kenapa nggak diambil?"
Sebuah suara asing memecah lamunan Ina. Ia menoleh dan menemukan seorang anak laki-laki berdiri tidak jauh darinya. Anak itu tampak sebaya dengannya, mungkin sedikit lebih tua. Wajahnya penuh dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan ia kurang tidur. Ia mengenakan kaos yang sudah kekuningan dan celana pendek yang kebesaran.