Suara bel panjang bersahutan dua kali. Ratusan anak berseragam putih merah keluar dari kelas masing-masing.
Ina melangkah keluar dari kelasnya sambil membetulkan tali tasnya. Ia menyenggol bahu temannya yang berjalan di sebelah, lalu berlari kecil menuju gerbang sekolah yang sudah terbuka lebar. Di luar, barisan pedagang es lilin dan cilok dikerumuni anak-anak.
Dari kejauhan, suara raungan mesin tua yang sangat familier terdengar menggerung lambat. Mobil sayur berwarna hitam dengan terpal hijau yang terikat di bagian belakang berhenti persis di dekat tiang listrik depan gerbang.
Johan menurunkan kaca mobilnya. Kausnya dipenuhi debu, dan jaket jins yang ia kenakan. menghembuskan aroma khas dari sayur-sayuran yang kuat.
"Ina, cepat naik!" teriak Johan sambil memukul pintu luar mobilnya dua kali.
Ina menoleh, matanya berbinar. Ia pamit pada temannya dengan lambaian tangan terburu-buru, lalu berlari mendekati pintu penumpang. Tangannya yang mungil menekan gagang pintu mobil itu keras-keras sampai terdengar bunyi yang nyaring. Ia memanjat masuk ke dalam, melemparkan tas sekolahnya ke kursi mobil, lalu membanting pintu sampai tertutup rapat.
"Panas banget, Yah!" seru Ina sambil mengibas-ngibas leher seragamnya yang basah oleh keringat. Ia menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan rem tangan.
Johan menginjak pedal gas, membuat mobil tua itu kembali meluncur membelah jalanan yang mulai padat. Tangan kanannya sigap memutar kemudi, sementara tangan kirinya menjangkau handuk kecil di atas dasbor lalu melemparnya ke pangkuan Ina.
"Lap dulu itu keringat di jidat kamu, Ina," kata Johan tanpa memalingkan mata dari jalanan di depannya. "Gimana sekolahnya tadi? Dihukum gara-gara terlambat, nggak?"
Ina mengambil handuk itu, menepuk-nepuk dahi dan lehernya. "Nggak dong! Ina kan larinya kencang tadi. Pas Ina lewat gerbang, Pak Udin baru mau pegang gemboknya. Ina cuma dipelototin doang."
Johan tertawa terkekeh, suara tawanya berat diselingi batuk kecil. "Nggak kapok telat kamu, Na? Ayah hampir jantungan tadi takut kamu nggak dikasih masuk."
"Kan sampai sekolah tepat waktu, Yah!" pamer Ina tidak mau kalah. Ia memutar tubuhnya menghadap sang ayah, menopang dagunya di atas dasbor sambil memperhatikan jalanan. "Yah, tadi pas pelajaran Matematika, Pak Guru suruh Ina maju ke depan kerjain soal di papan tulis."
"Terus? Kamu bisa?" Johan melirik sekilas ke arah putrinya, menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Bisa lah! Tapi nomor tiga salah sedikit gara-gara Ina lupa taruh angka simpanan di atasnya. Diketawain sama Mia," ceriwis Ina sambil cemberut, tangannya menepuk dasbor pelan. "Awas aja besok kalau dia nggak bisa kerjain soal, Ina ketawain balik lebih keras."
Johan menggeleng-gelengkan kepala. Tangan kanannya melayang sejenak dari kemudi, mengacak-acak rambut Ina yang sudah terlepas dari ikatannya. "Jangan dendam begitu sama teman. Lagian kamu lagaknya sok bisa, makanya teliti dulu sebelum maju."
"Yeee, Ayah malah belain Mia." Ina mendengkus melipat tangan di dada, tapi sejurus kemudian matanya kembali membelalak antusias ketika melihat pedagang es tong-tong di pinggir jalan. "Yah, beli es tong-tong dong, Panas banget ini."
"Nggak ada es-es-an. Mama kamu udah masak di rumah. Kalau kamu minum es siang-siang begini, nanti batuk, Mama kamu lagi yang pusing," tolak Johan tegas. Tangannya berpindah memindahkan tuas transmisi dengan bunyi yang agak keras saat jalanan mulai menanjak.
Ina menyandarkan punggungnya ke sandaran jok. "Mama masak apa ya hari ini, Yah?"
"Paling sayur bayam sama ikan teri."
"Ikan teri lagi." gumam Ina pelan, meski perutnya yang lapar tidak bisa diajak kompromi. Suara keroncongan kecil dari perutnya terdengar mengalahkan deru mesin mobil sayur ayahnya.
Johan yang mendengar itu hanya terkekeh lagi. Mobil sayur itu akhirnya meliuk masuk ke gang sempit beraspal pecah-pecah, menanjak pelan memasuki kompleks rumah susun tempat tinggal mereka. Asap hitam berhembus tipis dari knalpot saat mobil berhenti tepat di samping tiang listrik tempat biasa Johan memarkirkan kendaraannya.