"Aduh..."
Anes mencengkeram tepi meja dengan kuat. Piring berisi sisa lauk tanpa sengaja tersenggol hingga jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi nyaring yang membuat Ina yang sedang belajar melompat kaget dari ruang tengah.
Ina menoleh cepat. Mamanya memegangi perut bagian bawah dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Dasternya tampak terbelit di antara kedua paha, dan wajahnya tampak pucat, dipenuhi bintik-bintik keringat dingin yang bermunculan di pelipis.
"Ma? Mama kenapa?" Ina berdiri terburu-buru, sampai-sampai pensilnya menggelinding.
Anes tidak menyahut. Napasnya memburu pendek-pendek, bertaut dengan rintihan tertahan. Matanya terpejam, sementara jemarinya meremas dasternya sendiri. Tiba-tiba, cairan bening membasahi lantai di bawah kakinya, merembes cepat menembus daster.
"Ma! Ada air keluar banyak!" Ina berteriak panik. Ia maju dua langkah, tangannya yang mungil terulur ingin memegang lengan Anes, tetapi ia menariknya kembali karena takut. "Ina harus gimana?"
Anes perlahan membungkuk, kakinya gemetar tidak kuat menopang beban tubuhnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, mengerang melengking pendek. "Telepon... telepon Ayah kamu, Na."
Ina berlari menuju meja kecil dekat televisi. Ia menyambar ponsel milik mamanya, menekan tombol panggil cepat nomor ayahnya dengan jemari yang gemetar hebat.
Nada sambung berdering panjang. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Suara operator otomatis mendadak menyahut, memberitahukan bahwa panggilan tidak dijawab.
"Nggak diangkat, Ma! Ayah nggak angkat!" suara Ina meninggi, kepalanya menoleh ke arah mamanya yang kini sudah terduduk lemas di lantai.
Ina menekan tombol panggil lagi. Sekali lagi hanya nada sambung yang terdengar di telinganya. Di panggil ketiga kalinya, layar telepon kembali mati tanpa jawaban. Air mata Ina mulai menetes karena rasa takut. Ia tidak tahu harus berbuat apa melihat keadaan mamanya.
"To-tolong." Anes berbisik parau, matanya terpejam menahan sakit yang menghantam perutnya.
Ina berlari ke depan pintu unit 303. Ia memutar kunci dengan tergesa-gesa, membanting pintu hingga membentur dinding, lalu berteriak keras. "Tolong! Mama sakit! Tolong!"
Dari arah ujung lorong, seorang kakek tua berambut putih menghentikan langkahnya. Ia memegang tongkat kayu, memiringkan kepalanya mencoba menajamkan pendengaran.
"Ada apa? Siapa yang berteriak itu?" gumam pria tua itu sambil mempercepat langkahnya.
"Opa! Tolong Mama, Opa Tole! Perut Mama sakit banget, ada air keluar banyak." Ina menunjuk-nunjuk ke dalam rumah dengan telunjuk yang gemetar hebat.
Opa Tole menerobos masuk ke dalam unit. Matanya melotot lebar begitu melihat Anes tergeletak di lantai, mengerang sambil memegangi perutnya.
"Astaga, Anes! Mau melahirkan ini!" Opa Tole berbalik cepat menuju pintu, menyandarkan tongkatnya lalu berteriak keras. "Yuni, Mbak Yuni! Kemari cepat! Ini istrinya Johan mau melahirkan!"
Dalam hitungan detik, lorong rusun lantai tiga yang tadinya sepi mendadak riuh. Seorang perempuan dengan daster bermotif bunga-bunga berlari masuk, disusul dua warga lainnya.
"Aduh, pendarahan ini! Ketubannya sudah pecah dari tadi sepertinya!" Mbak Yuni berlutut di sebelah Anes. "Ayah kamu ke mana, Na?"
"Ayah di pasar. Ina telepon dari tadi nggak diangkat!" jawab Ina sambil terisak di sudut ruangan, tangannya meremas ujung bajunya.
Mbak Yuni menyambar ponsel di atas meja. "Biar Mbak yang telepon. Kamu tenang dulu, Na."
Mbak Yuni menekan nomor Johan. Panggilan pertama mati. Panggilan kedua sibuk. Panggilan ketiga kembali beralih ke nada dering panjang tanpa jawaban.
"Duh, Pak Johan ini kenapa nggak dianggkat sih?!" omel Mbak Yuni gemas, menekan tombol panggil untuk yang keempat kalinya.
โค๏ธโ๐ฉนโค๏ธโ๐ฉนโค๏ธโ๐ฉน
Di tengah hiruk-pikuk pasar yang bising, Johan sedang memikul satu keranjang berisi tomat. Keringat bercucuran melintasi dahinya.
Ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat untuk kesekian kalinya. Johan menurunkan keranjang itu. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung lengan, lalu merogoh kantong.
"Halo ada apa, Nes? Aku lagi sibuk."
"Pak Johan, ini Yuni. Pulang sekarang, Pak! Istrinya mau melahirkan ini, ketubannya sudah pecah." suara Mbak Yuni melengking dari balik speaker telepon.
Seketika itu juga, wajah Johan berubah panik. "Apa? Istri saya mau melahirkan? Bukannya kata bidan masih minggu depan?"
"Sudah pembukaan ini, Pak. Cepatan pulang! Kami mau bawa ke rumah sakit!"
Johan tidak membalas lagi. Ia mematikan telepon, lalu berlari kencang menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.