Kabut pagi ini tidak turun seperti biasanya. Ia menggantung rendah, tebal dan putih pekat, seolah-olah Gunung Lokon sedang mengembuskan napas panjang yang letih ke arah pemukiman. Di lorong lantai tiga rumah susun, aroma udara selalu bercampur aduk. Bau kayu lapuk yang lembap, tumisan bawang putih dari dapur-dapur sempit, dan sisa wangi sabun cuci batangan yang digosokkan ke baju-baju di jemuran koridor.
Ina duduk di ambang pintu unitnya. Kakinya menjuntai, menyentuh lantai semen yang dinginnya merambat hingga ke betis. Di dalam, suara tangis Arie kembali pecah. Suara itu melengking, memantul di dinding-dinding beton, mengisi setiap sudut kepala Ina hingga ia merasa ingin berteriak.
"Ina, tolong ambilkan air hangat di termos," suara Ayahnya terdengar dari dalam, parau dan penuh kelelahan.
Ina tidak bergeming. Ia berpura-pura tidak mendengar. Matanya justru terpaku pada pemandangan di ujung lorong. Sebuah mobil bak terbuka tua, yang mesinnya batuk-batuk mengeluarkan asap hitam, berhenti di depan gerbang bawah. Di atas baknya, tumpukan barang yang menyedihkan diikat dengan tali plastik biru. Sebuah kasur gulung yang sudah tipis, lemari kayu kecil yang pintunya copot sebelah, dan beberapa kardus mie instan yang lakban-nya sudah mulai lepas.
"Ada orang pindah," gumam Ina pada dirinya sendiri.
Seorang wanita turun dari kursi penumpang. Dari lantai tiga, Ina bisa melihat sosok itu dengan jelas. Wanita itu mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar dan jaket rajut yang terlalu besar. Rambutnya disanggul asal-asalan, menyisakan anak rambut yang mencuat liar ditiup angin. Lalu, muncul sosok yang sudah Ina lihat kemarin. Dion.
Anak laki-laki itu tidak memakai jaket, meski udara sedang sangat menggigit. Ia memikul sebuah karung goni di bahunya yang kurus. Wajahnya tetap sama, datar, tanpa ekspresi, seolah-olah dunia yang runtuh di sekitarnya adalah hal yang biasa ia saksikan setiap hari.
"Ina! Termosnya!" Ayah Ina muncul di pintu dengan wajah yang lebih berantakan dari biasanya. Matanya merah, dan ada bekas muntahan bayi di bahu kemejanya.
Ina mendongak sebentar. "Ada tetangga baru, Yah. Di kamar sebelah."
Ayah terhenti. Ia melihat ke arah lorong, lalu ke bawah. Napasnya berat. "Oh... Syukur kalau ada tetangga. Setidaknya lantai ini nggak sesepi kuburan lagi. Tapi sekarang, tolong Ayah dulu, Ina. Arie belum berhenti nangis sejak subuh."
"Biarkan saja," jawab Ina dingin. "Mungkin dia tahu kalau dia nggak diinginkan."
Plak
Ayahnya tidak memukul Ina, tapi ia membanting pintu unit mereka dengan keras hingga debu-debu dari langit-langit berjatuhan. Ina terlonjak, namun ia tidak menangis. Kemarahan Ayahnya adalah musik baru dalam hidupnya sejak Mamanya pergi.
Ina berdiri dan berjalan mendekati unit sebelah yang selama ini kosong. Unit nomor 304. Pintunya terbuka lebar, mengeluarkan aroma apek yang menyengat, bau ruangan yang sudah lama tidak dijamah manusia. Dion baru saja meletakkan karung goninya di lantai semen. Ia melihat Ina berdiri di depan pintu, namun ia tidak menyapa. Ia kembali ke lorong untuk mengambil barang lain.
"Ibu kamu kenapa?" tanya Ina tiba-tiba saat Dion lewat di depannya.
Dion berhenti. Ia menoleh ke arah ibunya yang kini sudah duduk di lantai unit yang kosong, bersandar pada dinding, matanya menatap kosong ke arah jendela yang bergetar tertiup angin.
"Dia cuma lagi cape," jawab Dion pendek.
"Dia bau alkohol," balas Ina tanpa saringan. Di sini, bau minuman keras adalah hal yang akrab di hidung, tapi melihat seorang ibu yang aromanya seperti itu di pagi hari adalah pemandangan yang asing bagi Ina.