Di rusun lantai tiga ini, keheningan selalu dilapisi oleh bebunyian yang jauh. Deru angin yang menabrak celah-celah ventilasi semen, suara anjing pelacak yang menggonggong di kaki bukit, dan sesekali, dentang tiang listrik yang dipukul warga sebagai tanda ronda. Namun, bagi Ina, suara yang paling menyiksa adalah sunyi yang tercipta di dalam rumahnya sendiri.
Ayahnya sudah terlelap di kamar sebelah bersama Arie. Napas Ayah Ina berat dan teratur, kontras dengan rintihan halus bayi itu yang sesekali gelisah dalam mimpinya. Ina tidak bisa tidur. Kasur busanya terasa seperti bongkahan batu. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat rajutan biru yang kotor. Ia melihat tangan Mama yang pucat.
Ina bangkit, melangkah berjinjit agar tidak membangunkan Ayahnya. Ia butuh udara. Ia butuh sesuatu yang lebih dingin dari hatinya sendiri.
Saat ia membuka pintu unit 303 dan melangkah ke koridor remang-remang, bau itu langsung menghantamnya. Bukan bau bunga sedap malam yang biasanya mekar di halaman bawah. Itu adalah bau kecut, tajam, dan memuakkan. Bau alkohol murah yang menguap di udara lembap.
Lampu neon di koridor berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding yang berlumut. Di depan unit 304, Ina melihat sebuah pemandangan yang membuatnya mematung.
Dion sedang berlutut di lantai semen yang kasar. Di depannya, ibunya duduk tersungkur, punggungnya bersandar pada pintu kayu yang kusam. Wanita itu menangis, bukan tangisan keras yang meminta perhatian, melainkan isak tangis yang pecah, tersendat-sendat oleh cegukan dan gumaman yang tidak jelas. Sebuah botol kaca berwarna hijau tergeletak miring di samping kaki wanita itu, isinya yang tersisa sedikit menggenang di lantai.
"Ayo, Ma... Masuk. Di sini dingin," suara Dion terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan.
"Lepasin Mama!" wanita itu meronta, tangannya yang kurus memukul bahu Dion dengan lemah. "Kenapa kamu bawa Mama ke sini? Mana Papa kamu? Mana dia? Dia janji bakal bayar semuanya! Dia janji nggak akan biarin Maya mati!"
"Maya udah tenang, Ma. Papa udah pergi. Jangan sebut-sebut itu lagi," jawab Dion. Jemarinya yang kecil mencoba meraih lengan ibunya, mencoba memapah wanita yang berat badannya seolah-olah seluruhnya terpusat pada kesedihan.
"Kamu bohong! Kamu juga benci Mama, kan? Kamu pengen Mama mati aja supaya kamu bisa bebas!" wanita itu tertawa tiba-tiba, tawa kering yang lebih menyakitkan daripada tangisannya. "Lihat anak ini... dia ingin Mamanya mati!"
Ina berdiri di kegelapan koridor, hanya beberapa meter dari mereka. Ia merasa seperti pengintip yang berdosa, namun kakinya seolah terpaku ke lantai. Ia melihat Dion tidak membalas teriakan itu. Dion tidak menangis. Anak laki-laki itu justru mengambil kain kusam dari pundaknya dan mulai menyeka tumpahan minuman keras di lantai agar tidak mengenai daster ibunya.
"Aku nggak pengen Mama mati," bisik Dion pelan, hampir tak terdengar jika bukan karena sunyi yang mencekam di antara mereka. "Aku cuma pengen Mama mandi dan tidur. Besok kita harus cari kerja."
Wanita itu kembali terisak, kali ini lebih keras. Ia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya yang gemetar. "Kenapa bukan Mama aja yang diambil? Kenapa harus Maya? Dia masih kecil, Dion... dia belum tahu apa-apa..."
Ina tersentak. Maya. Nama itu terdengar seperti duri yang menusuk pendengarannya. Apakah Maya adalah adik Dion? Apakah Dion juga kehilangan seseorang yang ia sayangi karena kesalahan seseorang?
Tiba-tiba, mata Dion beralih ke arah kegelapan tempat Ina berdiri. Lampu neon di atas mereka berkedip sekali lagi, menerangi wajah Dion yang pucat. Tidak ada rasa malu di wajah anak itu saat ketahuan sedang mengurus ibunya yang mabuk. Yang ada hanyalah tatapan datar yang seolah bertanya, "Puas kamu melihatnya?"
Ina memberanikan diri melangkah maju ke area lampu yang terang. "Perlu bantuan?" tanya Ina kaku.
Dion menatap ibunya, lalu kembali ke arah Ina. "Bisa pegangin pintu? Kuncinya macet kalau nggak didorong dari luar."
Ina mengangguk pelan. Ia mendekat, berusaha mengabaikan bau alkohol yang semakin menyengat. Ia memegang gagang pintu unit 304 yang berkarat, mendorongnya kuat-kuat sementara Dion merangkul pinggang ibunya, mencoba mengangkat wanita itu.
"Dia berat," gumam Ina saat melihat otot-otot di leher Dion menegang karena menahan beban tubuh ibunya.
"Cuman karena dia nggak mau berdiri aja," sahut Dion pendek.