Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #4

β€ππžπ¦πšπ€πšπ¦πšπ§β€

Satu jam, dua jam berlalu. Isak tangis Ina yang tadinya keras perlahan melambat, berganti menjadi sesenggukan panjang yang melelahkan dan menyiksa. Napasnya makin berat, terengah-engah dari hidungnya yang tersumbat parah. Dahi anak itu menempel di atas kain yang menutupi jenazah mamanya. Tangannya tetap meremas kain itu seolah takut jika ia melepas cengkeramannya sebentar saja, mamanya akan benar-benar hilang.


"Na, bangun nak. Mama sudah mau di bawa," bisik Mbak Yuni pelan, menyentuh lembut bahu Ina.


Ina tidak mengangkat kepalanya sama sekali. Ia malah makin mengeratkan cengkeraman tangannya pada kain jenazah mamanya, meremasnya begitu kuat. "Nggak mau."


"Kasihan Mama kalo kamu terus begini," Mbak Yuni mencoba menarik pelan lengan baju Ina.


Ina menepis tangan Mbak Yuni dengan gerakan menyiku yang kasar. "Jangan pegang-pegang! Ini Mama Ina. Jangan sentuh Mama ina!"


Beberapa tetangga perempuan yang duduk bersila hanya bisa mengusap dada, menyapu air mata mereka sendiri.


"Bisa diangkat sekarang, Pak Johan?" Suara Pak RT terdengar sangat berat dan bergetar.


Di sudut ruangan lain, Johan terduduk di atas tikar pandan. Tanpa suara sedikit pun, tangannya gemetar memegangi botol susu berisi susu hangat yang disodorkan seorang tetangga untuk mengganjal perut bayi. Bayi mungil itu terus merintih haus, suara tangisnya melengking mengusik keheningan.


Johan mengangguk pelan sekali. Wajahnya terlihat kacau, bibirnya pecah-pecah memutih, dan lingkaran hitam besar mencekung di bawah matanya.


Empat orang pria warga rusun membungkuk, mengangkat keranda kayu berselimut kain hijau berlafadzkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu perlahan-lahan ke atas bahu mereka.


"Mama mau dibawa ke mana?!" jerit Ina. Matanya membelalak menatap keranda yang mulai bergerak melintasi pintu unit mereka.


Opa Tole menahan tubuh Ina dari samping, memegangi bahu anak itu. "Mau dibawa ke pemakaman, Na. Mau disholatkan di masjid dulu."


"Lepas! Ina mau ikut Mama! Jangan bawa Mama pergi!" Ina meronta histeris, menyenggol siku Opa Tole hingga lelaki tua itu hampir kehilangan keseimbangannya.


Ina berlari menuruni anak tangga rusunΒ tanpa memakai sendal. Ia menabrak bahu-bahu tetangga yang berbaris di lorong dengan mata berkaca-kaca.


β€οΈβ€πŸ©Ήβ€οΈβ€πŸ©Ήβ€οΈβ€πŸ©Ή


Udara terasa sangat pekat dan mencekat dada. Langit di atas kompleks pemakaman umum yang terletak di lereng bukit itu tampak kelabu gelap, awan tebal seolah tinggal menunggu detik untuk mengubah gerimis menjadi hujan deras. Rombongan pengantar jenazah melangkah menyusuri jalan setapak berkerikil dan berlumpur menuju areal TPU.


Seorang wanita melangkah cepat mendekati Ina yang berjalan oleng di samping rombongan. Wanita itu membuka sebuah payung hitam besar, lalu mengarahkannya ke atas kepala Ina. "Sini, Na. Nanti kamu basah kena gerimis, Nak."


Ina mengibaskan tangannya kasar, menolak payung itu hingga ujung jarinya memukul gagang plastik tersebut. "Nggak usah! Ina nggak mau!"


"Jangan begini, Nak. kasihan diri kamu." bisik wanita itu sambil meneteskan air mata.

Lihat selengkapnya