Sepotong Roti di Ujung Senja

Andini Djiko
Chapter #5

Bab 4: Mulai Menjadi Teman?

Pasar Beriman Tomohon bukanlah sekadar tempat bertukar uang dan barang. Di bawah naungan atap seng yang luas dan di sepanjang aspal yang selalu basah oleh sisa hujan, pasar ini adalah jantung yang berdenyut kencang bagi masyarakat Minahasa. Bau harum bunga krisan dan lili yang baru dipetik dari perkebunan di kaki Gunung Lokon bertabrakan dengan aroma tajam bumbu dapur yang digiling halus. Namun, jauh di sudut bagian belakang, ada aroma yang lebih ekstrem, daging-dagingan dan rempah-rempah yang menusuk, menandakan identitas pasar ini sebagai salah satu yang paling unik di Indonesia.


Bagi Ina yang berusia dua belas tahun, Pasar Beriman adalah tempat pelarian sekaligus tempat kerja paksa. Ia sudah harus berdiri di balik meja kayu milik Ayahnya. Lapak sayur Pak Johan, terletak di area sayur-mayur, diapit oleh tumpukan kol yang menggunung dan rimbunnya ikatan kangkung cabutan.


"Ina, timbang itu satu kilo sawi putih untuk Ibu itu," seru Pak Johan dari balik tumpukan karung. Pak Johan sedang sibuk menata labu siam, wajahnya masih tampak muram, namun tangannya bergerak cekatan.


Ina mengambil sawi itu dengan malas. Jemarinya yang dingin menyentuh permukaan sayur yang lembap. Ia menaruhnya di atas timbangan besi tua yang jarumnya sedikit berkarat. Satu kilo.


"Ini, Bu," kata Ina datar, menyerahkan bungkusan plastik hitam.


"Makasih, Ina. Rajin sekali kamu bantu Papa, ya? Kasihan memang kalau nggak ada Mama," ucap Ibu itu dengan nada kasihan yang justru membuat telinga Ina panas.


Ina tidak menjawab. Ia benci kata kasihan. Baginya, kasihan adalah pengakuan bahwa ia telah hancur. Ia lebih memilih dibenci daripada dikasihani.


Saat matahari mulai naik dan kabut perlahan terangkat menjadi uap yang menggantung di udara, Ina melihat sosok yang ia kenal di kejauhan. Di antara kerumunan ibu-ibu yang menawar harga dan para kuli panggul yang berteriak, Dion muncul.


Anak laki-laki itu tampak jauh lebih kurus di bawah cahaya matahari pagi. Ia sedang memikul dua keranjang besar berisi jahe mentah di bahunya. Tubuhnya condong ke depan, menahan beban yang nampaknya terlalu berat untuk anak seumurnya. Keringat bercucuran di pelipisnya, membasahi kaos kusam yang kemarin juga ia pakai.


Ina memperhatikannya dari jauh. Dion meletakkan keranjang itu di depan lapak seorang pengepul bumbu, lalu menyeka keringatnya dengan kaos kaki wol pemberian Ina yang kini disulapnya menjadi semacam pelindung tangan agar tali keranjang tidak mengiris kulitnya.


"Dion!" panggil Ina saat keadaan sedikit lengang.


Dion menoleh. Matanya mencari sumber suara sebelum akhirnya mendarat pada Ina. Ia berjalan mendekat ke lapak sayur Pak Johan, langkahnya sedikit pincang karena kelelahan.


"Ku kerja di sini juga?" tanya Ina.


Dion mengangguk, napasnya masih terengah. "Ngangkut apa aja yang bisa diangkut. Upahnya lumayan buat beli beras dan... obat Mama."


Ayah Ina, Pak Johan, muncul dari balik tumpukan labu. Ia melihat Dion dan tersenyum tipis, senyum yang penuh empati karena ia tahu Dion adalah tetangga barunya yang bernasib malang.


"Eh, Dion. Sudah sarapan?" tanya Pak Johan.


Dion menggeleng sopan. "Belum, Pak. Nanti aja kalau udah selesai satu putaran lagi."


"Jangan gitu. Nanti kamu pingsan di tengah pasar, malah repot. Ina, ambilkan nasi kuning di bungkus plastik itu. Kasih ke Dion," perintah Pak Johan.


Lihat selengkapnya