Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #5

❀𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐓𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐌𝐚𝐦𝐚❀

Johan memutar gagang pintu unit 303 dengan perlahan. Pintu itu berderit nyaring, membentur lantai dan membuka ruangan sempit yang kini terasa teramat hampa. Tidak ada sapaan hangat dari Anes lagi, yang tersisa hanyalah sunyi yang menyiksa.


Ina berjalan menyeret kakinya yang kotor. Anak perempuan itu langsung menerobos barisan warga yang mulai ikut masuk memenuhi ruang tengah, lalu duduk bersandar di sudut ruangan tergelap.


Mbak Yuni membungkuk, menyejajarkan posisinya lalu tangannya terulur hendak mengusap dahi Ina yang kotor oleh bercak tanah. "Mbak Yuni ambilin makanan ya? Kamu belum makan, kan?"


Ina langsung memalingkan wajahnya, menepis tangan Mbak Yuni dengan bahunya. Tangannya meremas kedua lutut yang ditarik ke dada, mengunci diri tanpa bersuara.


"Jangan dipaksa dulu, Yuni," ucap seorang wanita dari ambang pintu sambil memegangi baskom berisi air hangat. "Anak itu masih kaget sekali."


"Tapi kasihan, Bu. Perutnya belum ke isi apa pun," sahut Mbak Yuni pelan sambil menghela napas panjang. Ia menatap Ina dengan mata berkaca-kaca. "Na... kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama mbak, ya?"


Ina tidak menjawab. Matanya yang membengkak parah menatap kosong pada dinding di depannya.


Beberapa warga rusun mulai berdatangan memadati sudut-sudut unit 303. Pria-pria bersarung dan berpeci duduk bersila merapat hingga ke ambang pintu luar, bahkan sebagian harus duduk lesehan di atas tikar yang dibentangkan hampir di sepanjang lorong lantai tiga. Gema bacaan Yasin dan tahlil mulai terdengar.


"Pak RT, tikar yang di lorong kurang dua lagi," kata Pak Anto, tetangga lantai dua, sambil menyembulkan kepalanya di pintu.


"Ambil di rumah saya aja, Anto. Di rumah ada istri saya, bilang sama dia mau ambil tikar." balas Pak RT setengah berbisik sambil merapikan posisi duduknya.


"Siap, Pak RT. Ini kue-kue kering ditaruh di piring mana?" tanya Pak Anto lagi sambil menunjuk dus di tangannya.


"Taruh di meja kecil dekat kompor aja," jawab Pak RT pelan.


Di sudut ruangan lain, seorang tetangga wanita mengendong putra Johan. Bayi itu bergerak gelisah, mengeluarkan suara rengek kecil.


"Kasihan bayi ini, Pak Johan. Sepertinya dia haus," ucap wanita itu sambil menepuk-nepuk paha bayi itu secara perlahan. "Apa nggak ada susu atau apa begitu?"


Johan yang duduk bersila di dekat pintu kamar utama hanya menatap kosong ke lantai.


"Ada susu formula sisa sampel dari Bidan kemarin di atas meja, Bu." jawab Johan dengan suara parau menyayat hati. "Seduh pakai air hangat di termos yang ada di dapur."


"Iya, Pak Johan. Biar saya buatkan sebentar," sahut wanita itu sambil berdiri pelan-pelan agar tidak memicu tangis si bayi. "Gelas ukurnya ada?"


"Di samping rak piring, Bu."


Opa Tole yang duduk di dekat pintu menyandarkan tongkat kayunya ke tembok. Ia memandang Johan dengan raut wajah berduka yang amat dalam. "Johan, ngana so makang?"


Artinya: "Johan, kamu sudah makan?"


Johan menggeleng, matanya tertuju pada Ina. "Belum, Opa."


"Musti makang, Jo. Ngana itu sekarang punya dua anak yang musti ngana urus," tegur Opa Tole pelan namun tegas. "Kalo ngana tumbang, sapa yang bisa Ina deng bayi itu andalkan? Jangan seiko deng ngana perasa sedih."


Artinya: "Harus makan, Jo. Kamu itu sekarang punya dua anak yang harus kamu urus. Kalau kamu tumbang, siapa yang bisa Ina dan bayi itu andalkan? Jangan ikutin rasa sedih kamu aja."


"Nanti, Opa. Nanti kalau tahlilan sudah selesai," jawab Johan pelan sekali.

Lihat selengkapnya