Hujan seringkali datang tanpa permisi. Ia turun sebagai rintik halus yang mendinginkan aspal, lalu tiba-tiba berubah menjadi guyuran deras yang membuat atap-atap seng bergemuruh. Namun, sore itu, hujan hanya menyisakan aroma tanah yang bangkit dari sela-sela akar pohon besar yang tumbuh di belakang blok bangunan.
Pohon itu sudah ada di sana jauh sebelum rusun ini dibangun. Batangnya besar, berkerak, dengan daun-daun lebar yang mampu memayungi siapa saja yang ingin bersembunyi dari dunia.
Ina duduk di atas akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah, jemarinya sibuk memilin sisa benang wol yang ia temukan di laci Mamanya. Ia tidak merajut apa-apa, hanya memutar-mutarnya di sela jari, kebiasaan baru untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Di depannya, Dion berdiri menyandarkan punggung pada batang pohon yang kasar. Matanya menatap ke arah lereng bukit yang perlahan tertutup kabut tebal.
"Tadi malam ibuku bicara lagi dengan dinding," kata Dion pelan. Suaranya datar, namun ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ina berhenti memilin benang. "Ibumu?"
Dion mengangguk. "Dia ngira dinding itu Maya. Dia ketawa, Ina. Dia nyuapin dinding itu dengan nasi, terus dia nangis karena dinding itu nggak mau nelan makanannya. Aku harus bersihin nasi yang jatuh ke lantai sambil dengarin dia maki-maki aku."
Ina menelan ludah. Ia teringat bagaimana ibunya dulu selalu mengusap kepalanya sebelum tidur, membisikkan doa-doa yang menenangkan. Membayangkan seorang ibu yang bicara pada dinding terasa seperti horor yang nyata bagi Ina.
"Kenapa kamu nggak lari aja?" tanya Ina. Pertanyaan itu kasar, tapi bagi anak seusia mereka yang sedang terluka, pelarian seringkali terlihat sebagai satu-satunya jalan keluar yang logis.
"Kamu punya kaki, Dion. Kamu bisa pergi ke rumah saudaramu, atau ke mana aja."
Dion menoleh, menatap Ina dengan pandangan yang dalam, tatapan yang membuat Ina merasa jauh lebih kecil darinya. "Kalau aku pergi, siapa yang akan ngurus ibuku nanti? Siapa yang akan beliin roti kalau dia lapar tengah malam?"
"Tapi dia nyakitin kamu," sergah Ina. "Dia nyebut kamu pengkhianat. Dia bilang kamu sama aja kayak ayahmu."