Ina melempar kerikil kecil dari genggamannya ke celah tangga. Benda itu memantul pelan, menimbulkan bunyi sebelum akhirnya menghilang di belokan lantai dua.
Ia duduk di ambang tangga rusun lantai tiga. Kakinya yang tak bersandal menjuntai ke bawah, menyentuh lantai tangga. Dari dalam unit 303, suara tangis adiknya kembali pecah. Suara itu melengking tinggi, mengisi setiap sudut kepala Ina hingga dadanya terasa sesak dan ia ingin berteriak sekeras-kerasnya.
"Ina, tolong ambilin termosnya," suara Ayahnya terdengar dari dalam.
Ina tidak bergeming. Ia hanya menatap intens pada semen yang terkelupas di dinding tangga. Ia berpura-pura tidak mendengar.
Mia, anak perempuan tetangga dari unit 308, melangkah melintasi koridor sambil membawa kantong plastik berisi garam. Langkah kakinya terhenti, lalu ia memilih memutar tubuh dan duduk bersila tepat di samping Ina.
"Mama kamu bener-bener udah nggak ada ya, Na?" bisik Mia pelan, kepalanya dimiringkan sedikit.
Ina mengunyah bibir bawahnya sampai terasa perih, menolak memandang Mia. "Jangan nanya-nanya."
Mia terdiam, menunduk memain-mainkan garamnya. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di halaman bawah. "Eh, itu mobil siapa?"
Mia menunjuk ke arah gerbang utama rusun dengan ujung jarinya. Mata Ina ikut terpaku pada pemandangan di bawah sana.
Sebuah mobil bak terbuka hitam berhenti dengan kepulan asap tipis di depan gerbang rusun. Di atas baknya, ada tumpukan barang yang diikat acak dengan tali plastik. Sebuah kasur gulung, lemari kayu kecil yang pintunya copot sebelah, serta beberapa kardus mie instan.
"Ada orang pindah," gumam Mia sambil memiringkan badannya melongok dari sela pagar besi koridor.
Pintu penumpang mobil itu terbuka. Seorang wanita turun dari sana. Dari lantai tiga, Ina bisa melihat sosok itu dengan amat jelas. Wanita itu mengenakan daster batik bermotif bunga. Rambutnya disanggul asal-asalan, menyisakan anak-anak rambut yang mencuat liar ditiup angin.
Lalu, muncul sosok anak laki-laki. Anak itu tampak sebaya atau mungkin dua tahun lebih tua dari Ina. Badannya kurus, terbalut kaus hitam yang kebesaran. Tanpa banyak bicara, anak laki-laki itu memanjat bak mobil, mengangkat sebuah karung goni tebal, lalu memikulnya di bahunya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi sedikit pun saat melangkah menaiki anak tangga pertama.
"Ina, termosnya."
Johan muncul mendadak di ambang pintu unit 303. Penampilannya jauh lebih berantakan dari hari-hari sebelumnya. Matanya merah dengan kantung mata hitam tebal. Rambutnya kusam tak tersisir, dan ada bekas muntahan bayi yang sudah mengering di pakaiannya.
Ina mendongak sebentar tanpa berniat berdiri dari duduknya.
"Ada tetangga baru, Om. Mungkin mau tinggal di sebelah." ujar Mia.
Langkah Johan terhenti di ambang pintu. Ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah bawah, lalu menelan ludah dengan tenggorokan yang tampak kering. Napasnya terdengar berat dan tersengal.
"Oh... syukur kalau ada tetangga baru," ucap Johan dengan suara parau. "Tolong Ayah sebentar, Ina. Arie belum berhenti nangis dari tadi. Susunya habis, termosnya Ayah nggak tahu ada di mana, tiba-tiba hilang."
Ina memalingkan wajahnya kembali menatap tangga, sudut bibirnya terangkat tipis menyunggingkan senyum dingin. "Biarin aja, termosnya udah Ina sembunyikan."