Ina terlentang di atas kasurnya. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya yang gelap. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Setiap kali mencoba memejamkan mata, kegelapan itu justru memunculkan bayangan wajah mamanya.
Ina menghembuskan napas panjang, menahan denyut nyeri yang menjalar dari tenggorokan hingga ke dadanya. Ia bangkit perlahan, melangkah keluar kamar sambil berjinjit, berusaha sekuat tenaga agar tidak membuat suara sekecil mungkin dan membangunkan ayahnya.
Ia membuka pintu unit 303, bau itu langsung menghantam hidungnya. Bau itu adalah bau alkohol yang sangat menyengat. Lampu di koridor berkedip-kedip, menciptakan bayangan hitam panjang di sepanjang dinding rusun. Langkah kaki Ina terhenti seketika. Pemandangan di depannya membuat tubuhnya mendadak kaku.
Dion sedang berlutut di atas lantai yang basah. Di depannya, mamanya duduk tersungkur lemas dengan daster yang terangkat separuh paha. Punggung wanita itu bersandar pada pintu unit mereka. Wanita itu menangis, sesekali tersendat-sendat oleh cegukan dan gumaman tidak jelas yang keluar dari bibirnya.
Sebuah botol kaca berwarna hijau tua tergeletak miring di samping kaki wanita itu. Isinya yang tersisa sedikit menggenang di lantai, menyebarkan bau menyengat.
"Ayo, Ma... masuk. Di sini dingin," suara Dion terdengar sangat tenang.
"Lepasin Mama!" wanita itu meronta mendadak, mengibaskan tangannya dan memukul bahu Dion. "Kenapa kita harus tinggal di tempat seperti ini? Mana Papa kamu? Mana dia?"
Dion tidak bergeser satu senti pun. "Jangan teriak-teriak, Ma. Nanti ada tetangga yang ke bangun."
"Dia janji bakal bayar semuanya." jerit wanita itu lagi, tangannya berganti mencengkeram kaus Dion hingga melar. "Dia janji jaga Dina! Mana janji itu, Dion?"
Dion memejamkan matanya sekejap, menahan napas panjang sebelum membukanya kembali. "Dina udah nggak ada, Ma. Dia udah tenang, jangan sebut-sebut nama Dina lagi."
"Kamu bohong!" bentak wanita itu sambil terbatuk-batuk keras. "Dina masih ada!"
Dion mencoba merangkul lengan mamanya, berusaha menyisipkan bahunya di bawah ketiak wanita itu untuk memapah tubuhnya berdiri. "Ayo masuk, Ma."
"Kamu pengen Mama mati juga, kan?" wanita itu tertawa tiba-tiba. "Lihat anak ini! Dia pengen Mamanya mati supaya dia bebas!"
Ina berdiri mematung di kegelapan koridor, hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Ia meremas ujung baju tidurnya. Ia merasa seperti seorang pengintip yang tak tahu diri, namun kedua kakinya seolah tak ingin beranjak dari sana.
Ina memperhatikan Dion baik-baik. Anak laki-laki itu tidak membalas teriakan kejam mamanya sama sekali. Tidak ada guratan amarah di wajahnya. Anak laki-laki itu justru merogoh kain dari pundaknya, berlutut lebih rendah, dan mulai menyeka tumpahan minuman keras di atas lantai dengan gerakan perlahan agar cairan itu tidak merembes mengenai daster mamanya.
"Dion nggak pengen Mama mati," bisik Dion pelan sekali. "Aku cuma pengen Mama masuk dan tidur."
Wanita itu kembali terisak, kali ini jauh lebih keras dan pilu. Ia menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya. "Kenapa bukan Mama aja yang diambil Tuhan, Dion? Kenapa harus Dina? Dia masih kecil... dia belum tahu apa-apa."
Dada Ina tersentak hebat saat mendengar kalimat itu. "Dina? Sebenarnya dia siapa? Apa mereka juga baru aja kehilangan seseorang yang sangat mereka sayangi?"
Tiba-tiba, mata Dion beralih tajam ke arah kegelapan tempat Ina berdiri. Lampu neon di atas kepala mereka berkedip sekali lagi, menumpahkan cahaya remang tepat di wajah Ina. Tidak ada rasa malu, canggung, atau panik di wajah anak laki-laki itu saat ketahuan sedang mengurus mamanya yang mabuk berat. Yang ada di dalam manik matanya hanyalah tatapan datar, dingin, dan kehampaan yang amat sangat.