Sepotong Roti di Ujung Senja

Andini Djiko
Chapter #7

Bab 6: Pergi Tanpa Pamit

Langit hari ini tidak menunjukkan tanda-tanda badai, namun warnanya abu-abu pucat, seperti kertas usang yang dibiarkan kehujanan. Kabut turun lebih awal, menyapu puncak-puncak pohon cengkih dan menyelinap masuk ke lorong-lorong rusun, membawa hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Di lantai tiga, suasana terasa sangat aneh. Tidak ada teriakan dari unit 304. Tidak ada bunyi botol pecah. Yang ada hanyalah sunyi yang tajam.


Ina baru saja pulang dari warung bawah membawa sebungkus garam saat ia melihat pintu unit sebelah terbuka lebar. Ia berhenti sejenak, melongok ke dalam. Ruangan itu tampak lebih rapi dari biasanya, namun terasa kosong. Bau alkohol yang biasanya dominan kini tertutup oleh wangi bedak tabur murah yang menyengat dan aroma minyak wangi bunga melati yang sudah kedaluwarsa.


Di tengah ruangan, Dion sedang berdiri mematung. Ia menatap sebuah gelas plastik berisi air putih yang masih penuh di atas meja kayu.


"Dion?" panggil Ina pelan.


Dion menoleh. Wajahnya tidak berekspresi, namun matanya tampak bingung. "Dia berdandan, Ina."


"Siapa? Ibu kamu?"


Dion mengangguk pelan. "Tadi pagi dia bangun lebih awal. Dia mandi, keramas, bahkan memakai gincu merah yang biasanya dia sembunyikan di bawah bantal. Dia nggak marah-marah. Dia bahkan senyum ke aku."


Ina masuk selangkah ke dalam ruangan. "Bukannya itu bagus? Berarti dia udah sembuh?"


Dion menggeleng, jemarinya meremas pinggiran kaosnya. "Nggak. Senyumnya... senyumnya nggak sampai ke mata. Dia bilang dia mau pergi ke rumah temannya sebentar. Katanya ada urusan penting tentang pekerjaan menjahit. Dia nyuruh aku nunggu di tangga bawah supaya aku bisa langsung melihatnya saat dia pulang nanti."


Ina mengerutkan kening. "Terus kenapa kamu masih di sini? Ayo turun ke tangga."

Lihat selengkapnya