Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #8

❀𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐓𝐚𝐤 𝐒𝐚𝐦𝐚 𝐋𝐚𝐠𝐢❀

Asap tipis membumbung tinggi dari panci kecil. Johan memegang kain lap untuk memindahkan panci menuangkan air panas itu perlahan-lahan ke dalam termos kecil.


"Na, air panasnya udah Ayah tuang ke termos kecil," kata Johan dengan suara lembut. "Kalau kamu mau bikin susu atau sesuatu, pakai yang itu aja ya, Nak."


Ina tidak menyahut. Tangannya sibuk memotong-motong helai benang wol sisa rajutan mamanya. Ia memotong benang itu menjadi potongan-potongan kecil yang berhamburan di atas rok seragam sekolahnya yang belum diganti.


Johan menghela napas pendek. Ia berjalan mendekati boks bayi di dalam kamar, menyelimutkan kain selimut ke tubuh bayi itu yang masih tertidur lelap. Ia menggendongnya ke dekapannya, membungkus tubuh kecil itu dengan kain jarik. Langkahnya bergerak mendekati pintu depan, lalu ia menoleh sebentar ke arah Ina.


"Ayah ke rumah Mbak Yuni sebentar, mau titip Arie," ujar Johan sambil membetulkan posisi kain jariknya. "Ayah harus segera berangkat ke pasar."


Gunting di tangan Ina terhenti sejenak. "Sana bawa aja. Nggak usah dibawa pulang sekalian juga nggak apa-apa."


Johan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Matanya membelalak menatap anak gadisnya. Pria itu menggigit bibirnya sendiri, menahan gejolak di dadanya, sebelum akhirnya melangkah keluar tanpa membalas satu kata pun. Langkah kaki Johan terburu-buru menuruni tangga menuju lantai dua.


"Eh, Pak Johan." sapa Mbak Yuni yang sedang menyapu koridor depan unitnya. Wanita itu langsung menghentikan gerakanya saat melihat Johan berjalan tergesa sambil menggendong bayi. "Mau berangkat ke pasar sekarang?"


"Iya, Mbak Yuni," sahut Johan sambil membetulkan letak kain jariknya. "Saya mau titip Arie lagi, Mbak. Nggak apa-apa, kan? Saya udah buatin susu."


"Ya Allah, Pak Johan, ya nggak apa-apa toh," Mbak Yuni menyandarkan sapunya ke dinding, lalu dengan cekatan mengulurkan kedua tangannya menyambut bayi itu. "Sini biar saya yang jaga. Arie ini anaknya pinter, nggak rewel kok dari kemarin."


Johan menyerahkan tas kain berisi botol susu dan popok. "Makasih banyak ya, Mbak Yuni. Maaf saya merepotkan terus setiap hari."


Mbak Yuni mengusap pipi bayi itu. "Repot apanya, Pak? Kita kan tetangga. Oh iya, Pak Johan gimana keadaan Ina?"


"Masih begitu, Mbak. Masih ketus sama saya. Makan juga cuma dua suap kalau saya paksa."


"Aduh, kasihan anak itu." Mbak Yuni menghela napas panjang, raut wajahnya berubah cemas. "Ina itu masih belum ikhlas ditinggal Mamanya. Pak Johan yang sabar ya. Jangan dimarahi kalau dia lagi seperti itu."


"Saya nggak pernah marahi dia, Mbak Yuni. Saya cuma bingung, gimana caranya membujuk anak itu."


"Nanti saya pergi coba lihat dia," ujar Mbak Yuni sambil menepuk pelan bahu Pak Johan. "Saya tanyain keadaannya, sekalian antarin kue sisa jualan saya tadi pagi."


"Makasih banyak, Mbak Yuni. Saya pamit dulu ya."

Lihat selengkapnya