Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #9

โ€๐‡๐š๐ซ๐ข ๐๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ฆ๐š ๐Š๐ž๐ซ๐ฃ๐šโ€

Dion melemparkan dompetnya ke atas meja. Tiga lembar uang lima ribuan dan dua koin lima ratus perak yang jatuh meluncur ke atas lantai. Di pojok ruangan, mamanya duduk memeluk lutut.


"Udah nggak ada lagi uangnya? Satu botol slaja, Dion. Kepala Mama mau pecah ini. Beli yang kecil aja ya." pinta mamanya.


Dion tidak langsung menjawab. Ia memunguti uang dari lantai, lalu meremas tiga lembar uang lima ribuan itu di dalam genggamannya hingga kusut membentuk bola kecil.


"Uangnya habis, Ma," jawab Dion tanpa menatap wajah mamanya.


"Kamu bohong!" seru mamanya sambil memukul lantai. "Kemarin kamu bilang masih ada sisa! Kamu sembunyikan di mana, Dion?"


"Memang udah habis," ulang Dion, suaranya tetap tenang. "Dipakai bayar sewa mobil kemarin sama biaya makan gini sebulan ini, Ma."


"Cari, Dion! Mama nggak mau tahu!" bentak mamanya. "Pinjam ke siapa gitu! Ke tetangga sebelah! Ke siapa aja!"


Dion memutar tubuhnya, melangkah menuju lemari. "Kita nggak kenal siapa-siapa di sini, Ma. Nggak ada yang mau meminjamkan uang ke kita begitu aja."


"Kamu belum mencoba!" jerit mamanya, air matanya mulai menetes melewati pipinya. "Kamu mau lihat Mama mati kesakitan begini, hah?"


Dion memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas panjang yang terasa panas di dadanya. Sisa uang tabungan keluarga mereka yang dibawa dari hasil penjualan rumah lama benar-benar habis tak bersisa, terkuras tanpa ampun untuk kebutuhan makan harian, bayar sewa rusun, dan pasokan botol-botol minuman mamanya demi menahan amukan histeris yang saban malam menghantui lantai tiga itu.


Dion sadar betul, ia tidak bisa tinggal diam menunggu keajaiban yang tidak akan pernah datang. Ia melepas kemeja sekolahnya, melipatnya asal-asalan, lalu menggantinya dengan kaos hitam.


"Mau kemana kamu?" tanya mamanya cepat saat melihat Dion meraih kunci pintu. "Dion! Mama lagi bicara sama kamu."


"Cari uang," jawab Dion pendek.


"Beli apa yang Mama minta dulu!" panggil mamanya dengan nada memohon. "Dion... tolong Mama."


"Nanti kalau dapet uang," kata Dion sambil mengunci unitnya.


โค๏ธโ€๐Ÿฉนโค๏ธโ€๐Ÿฉนโค๏ธโ€๐Ÿฉน


Dion berjalan kaki, menyusuri trotoar sejauh dua kilometer menuju pasar tradisional, tempat yang sama di mana Johan menggantungkan hidupnya setiap hari. Pasar sore itu riuh, becek, dan berbau menyengat oleh perpaduan dari segala macam aroma. Dion menyusuri lorong-lorong sempit di antara lapak, matanya mencari-cari sela di mana tenaganya bisa dihargai dengan beberapa lembar rupiah.


"Mana ini buruh panggul? Jangan cuma nongkrong di pangkalan!" jerit seorang pria paruh baya bertopi hitam dari atas lapak sayurnya. Pria itu sibuk menumpuk kardus-kardus kol dan sawi putih yang baru diturunkan dari mobil pick-up. "Ini barang harus dipindah ke lapak dalam sebelum hujan turun!"


Dion mendekat cepat, menghentikan langkahnya tepat di depan tumpukan kardus tersebut. "Pak, saya bisa bantu panggul."


Pria bertopi itu menoleh, memandangi tubuh Dion dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan kening berkerut. "Kamu masih anak-anak. Kuat bawa kardus kol begitu? Beratnya bisa lima kilo lebih satu kardus."


Dion meremas ujung kaosnya, menatap lurus mata pedagang itu. "Kuat, Pak. Coba aja satu kardus dulu."

Lihat selengkapnya