Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #10

❀𝐁𝐚𝐮 𝐁𝐮𝐬𝐮𝐤❀

Ina sedang menatap sebutir telur di mangkuk ayam jago ketika bau menyengat menusuk hidungnya. Dari tadi, satu-satunya suara di rumah ini hanyalah detak jam dinding yang suaranya mulai melambat seolah ikut malas menghadapi hari.


Tek... tok... tek... tok...


Dan sekarang, suara kedua muncul, lengkingan tangis bayi Arie yang pecah dari arah boks bayi di sudut ruang tengah. Pekikan melengking yang disusul bau busuk yang semakin pekat menguasai ruangan.


Ina meletakkan telur itu kembali ke mangkuk. Ia mendengus kasar, lalu memutar tubuhnya dan melangkah berdiri di tepi boks bayi itu. Sepasang mata bulat bayi Arie yang basah oleh air mata langsung menatapnya. Bayi itu menendang-nendangkan kakinya, membuat kotoran kuning kecokelatan yang keluar dari sela-sela popoknya makin belepotan ke mana-mana, bahkan mulai merembes tebal mengenai kain sarung yang menjadi alas tidurnya.


"Jorok!" Ina spontan mundur satu langkah, menutup hidung dan mulutnya. Perutnya mendadak terasa mual.


Bayi itu semakin kencang menangis. Wajahnya berubah memerah, kedua tangannya melambai dan menggapai-gapai liar ke udara seolah meminta pertolongan dari siapa saja yang berdiri di dekatnya. Ina menatapnya tanpa iba. Tidak ada rasa kasihan di dalam hatinya, hanya ada rasa jijik, jengkel, dan kebencian mendalam yang memenuhi kepalanya.


Pintu kamar mandi terbuka. Langkah kaki Johan tergesa-gesa keluar, basah oleh percikan air dengan celana yang digulung sebatas lutut.


"Ya ampum, Arie." ucap Johan panik. Ia berlari kecil mendekati boks bayi itu. "Sabar ya, Nak. Sabar, Ayah bersihkan dulu."


Johan membungkuk, dengan sigap menahan kedua kaki Arie yang terus menendang-nendang. Matanya melirik sebentar ke arah Ina yang masih berdiri mematung tiga langkah di belakangnya sambil memegangi hidung.


"Na, tolong ambilkan kain lap basah di kamar mandi," pinta Johan memohon, tangannya mencoba membendung kotoran yang makin meluber. "Sama ember kecil di samping keran itu."


Ina tidak bergeming, tatapannya dingin menatap punggung ayahnya. "Ambil aja sendiri."


"Tolong Ayah sebentar aja, Ina." ucap Johan lagi, suaranya terdengar sangat memohon. "Kasihan adek kamu, kotorannya udah makin ke mana-mana."


"Dia bukan adek Ina," sahut Ina cepat, ia memalingkan wajahnya. "Ina nggak mau bantu bayi jorok itu."


Johan menghembuskan napas panjang. Ia tidak membalas lagi. Dengan tangan kirinya yang menahan kedua paha bayi Arie, pria itu merangkak pelan meraih sisa kain perca di bawah boks, berusaha menyeka kotoran itu sebisanya tanpa membuat bayi itu makin merasa tidak nyaman.


Oeeeek... oeeek...


"Ssst... Ssst... Anak pinter, diam ya, sayang." Johan membujuk, menepuk-nepuk dada bayi itu lembut. "Maafin Ayah ya. Maaf."


Ina berjalan membelakangi mereka, meraih panci kecil di atas kompor gas. Ia memutar knop kompor, membiarkan api biru menyala menyambar pantat panci.


"Kamu mau ngapain, Na?"


"Mau bikin susu," jawab Ina pendek.

Lihat selengkapnya