Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #11

❀𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐁𝐢𝐚𝐬𝐚❀

"Na, bekalnya udah Ayah taruh di tas," kata Johan.


Ina tidak menjawab. Ia hanya menarik tasnya, lalu menaiki mobil sayur tanpa memandang wajah ayahnya.


"Arie udah Ayah titip lagi ke Mbak Yuni tadi," tambah Johan sambil mulai menyalakan mesin mobil sayurnya. "Nanti pulang sekolah tunggu Ayah di depan gerbang ya. Jangan pulang sendiri."


"Ina bisa pulang sendiri," sahut Ina ketus.


Johan menelan ludah pelan, mulai menjalankan mobil sayur itu melintasi jalanan beraspal di depan rusun. Di sepanjang jalan menuju sekolah, suasana jalanan bergerak begitu riuh.


Mobil sayur itu berhenti tepat di seberang gerbang sekolah Ina. Ina langsung membuka pintu mobil, turun tanpa menunggu benar-benar berhenti.


"Na, uang jajannya..." Johan merogoh saku celananya, mengulurkan satu lembar uang lima ribuan.


Ina menarik uang itu dengan cepat dari jemari ayahnya. "Ina masuk."


"Belajar yang rajin ya, Nak," pesan Johan, matanya menatap anak gadisnya yang sudah berbalik membelakangi dirinya.


Ina melangkah cepat menembus kerumunan anak-anak berseragam putih merah yang memadati gerbang. Ia sengaja mempercepat langkah kakinya agar ia tidak mendengar kebawelan ayahnya lagi. Begitulah ia berpikir sekarang.


Ina masuk ke dalam kelasnya, ia duduk di baris ketiga dekat jendela, menopang dagunya dengan sebelah tangan.


Mia datang menghampiri Ina. "Na, ibu kantin jualan pisang goreng goroho pakai sambal roa hari ini. Enak banget pasti. Nanti kita ke kantin bareng, ya?"


Ina tidak merespon perkataan Mia. Penggaris plastik di tangan kirinya diputar-putar di atas meja kayu yang penuh ukiran nama siswa-siswi terdahulu.


"Ina, kamu dengar nggak apa yang aku bilang dari tadi?" seru Mia sambil menepuk meja Ina keras-keras.


Brak!


Ina tersentak. "Apa?"


"Tuh kan, melamun terus!" Mia mendengus kesal. "Aku bilang, nanti jam istirahat kita ke kantin bareng, ya? "


Ina mengetuk-ngetukkan ujung penggarisnya ke meja.


Tik... tik... tik...


"Nggak punya uang."


"Kamu bohong ya? Aku lihat tadi kamu di kasih uang jajan sama Ayah kamu," ucap Mia sambil menunjuk saku seragam Ina dengan ujung pensilnya. "Bisa beli pisang goreng, masih sisa seribu buat beli es sirup."


"Males," jawab Ina pendek, mengalihkan pandangannya kembali ke arah luar jendela.


Pikirannya kini melayang jauh, memisahkan dirinya dari riuh ruang kelas yang bising oleh suara teman-temannya. Ia membayangkan rusun yang sepi saat jam-jam begini. Apakah bayi Arie sedang menangis bersama Mbak Yuni? Apakah Dion sudah berangkat ke sekolahnya?


"Kamu tuh berubah banget ya sekarang. Semenjak... Mama kamu nggak ada, kamu jadi diam terus. Di ajak main kemarin juga nggak mau," protes Mia.


Ina mengepalkan tangannya. "Kalau nggak mau temenan sama aku, ya nggak usah."


Lihat selengkapnya