Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #12

❀𝐓𝐞𝐫𝐥𝐚𝐦𝐛𝐚𝐭❀

Dua bulan berlalu, sejak Dion dan mamanya pindah ke rusun itu. Unit 304 adalah tempat yang paling dihindari anak-anak rusun.


Dion terbangun oleh bunyi bising dari arah dapur. Ia bangkit dari kasurnya, melangkah keluar menuju dapur. Dion mengerjapkan matanya berulang kali. Ia menggosok matanya dengan tangan.


Mamanya kini berdiri di depan kompor. Rambutnya yang biasa terurai berantakan, kini disanggul rapi. Ia memegang sodet kayu, membalikkan tempe goreng di atas wajan. Gerakannya terlihat begitu tenang. Dion mematung, tidak berani menggerakkan kakinya walau satu inci pun.


"Dion," panggil Mamanya.


Dion tersentak kecil, menyerap suara itu dengan seluruh indranya. Mamanya Dion menoleh sedikit, menatap mata anaknya yang masih terpaku.


"Beras di kaleng tinggal sedikit," kata mamanya sambil meletakkan tempe goreng yang baru diangkat ke atas piring. "Nanti sore kalau kamu ke pasar, beli setengah kilo lagi ya."


Dion menelan ludahnya yang terasa kering di tenggorokan. "I-iya, Ma."


Mamanya tidak menambahkan kalimat apa-apa lagi. Ia mematikan kompor dengan sekali putaran kencang sampai nyala apinya padam sepenuhnya. Wanita itu lalu duduk, meraih piringnya sendiri, lalu mengunyah potongan tempe goreng dengan tenang sambil memandangi luar jendela.


Dion menyadarkan dirinya, sesegera mungkin mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, anak itu keluar dari kamar mandi. Ia masuk ke kamarnya, Tangannya meraih seragam putih biru yang tergantung di dinding. Matanya tidak bisa lepas melirik ke arah luar pintu kamarnya. Ada rasa hangat yang mendadak menyeruak memenuhi hatinya yang selama dua bulan ini lapar akan ketenangan.


Mamanya kembali. Bukan mama yang selalu berteriak histeris atau membuat keributan lainnya, melainkan sosok mamanya yang biasa Dion ingat dari bertahun-tahun lalu. Dion keluar dari kamarnya, ia menggendong tas ranselnya. Saat hendak melangkah keluar dari pintu depan, Dion menghentikan kakinya sejenak.


"Dion ke sekolah dulu, Ma," pamit Dion.


Mamanya hanya mengangguk pelan. Dion melangkah keluar, lalu menarik pintu unit 304 perlahan-lahan. Baru tiga langkah Dion keluar dari rumahnya, telinganya langsung di kagetkan dengan dentuman pintu yang ditutup kasar dari unit sebelah.


Brak!


Pintu unit 303 bergetar kencang. Ina melangkah keluar dengan wajah ditekuk habis-habisan. Kaus kakinya yang melorot bahkan tidak dihiraukannya. Johan muncul menyusul dari pintu yang baru dibuka kembali.


"Na, Ayah antar," panggil Johan. Nada suaranya lembut sekali, tidak ada nada tinggi sama sekali, seolah ia takut makin membuat anak perempuannya itu meledak. "Ayah sekalian mau jalan antar muatan kol ke pasar ini. Daripada jalan kaki cape, Na."


Ina tidak berhenti. Ia sengaja mempercepat langkahnya menuju tangga, membelakangi ayahnya.


"Mending jalan!" sahut Ina ketus tanpa menoleh sedikit pun.


Johan melangkah, memandangi punggung anak perempuannya. "Jangan begitu, Na. Nanti kamu terlambat. Ini udah jam enam lewat tiga puluh lima. Kalau Ayah antar, kan cuma sepuluh menit sampai sekolahnya."


"Nggak mau!" potong Ina galak. Ia menghentakkan kaki kanannya kencang-kencang di anak tangga pertama. "Biarin terlambat!"


Dion mematung dua meter di belakang Johan, memandangi interaksi ayah dan anak itu dalam diam. Ia menarik napas pendek, lalu memilih menggeser tubuhnya menyusuri pinggiran pagar besi koridor agar tidak menghalangi jalan Johan.


Johan menoleh sebentar ke arah Dion, mengukir senyum tipis yang dipaksakan. "Eh, Dion... mau berangkat sekolah juga?"


Dion mengangguk sopan, menundukkan kepalanya sedikit. "Iya, Om."


"Mau Om antar nggak?" tawar Johan.


Dion menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak usah, Om."


"Dion, tolong liatin Ina ya kalau di jalan," pinta Johan dengan nada memohon yang sangat halus. "Dia lagi ngambek sama Om."


"Iya, Om. Nanti Dion perhatikan dari belakang," sahut Dion pendek.


"Terima kasih ya, Dion."


Lihat selengkapnya