Sepotong Roti di Ujung Senja

AksaraNini
Chapter #13

โ€๐๐ž๐ซ๐ ๐ข ๐“๐š๐ง๐ฉ๐š ๐๐š๐ฆ๐ข๐ญโ€

"Angkat lima karung lagi, Yon! Habis ini kelar!" jerit Bang Ferdi dari atas bak truk.


Dion mengusap keringat di pelipisnya dengan lengan kausnya yang sudah basah oleh keringat. Ia mengambil karung goni berisi kentang berbobot sepuluh puluh kilogram itu ke dada, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga otot lengannya menegang, lalu menghempaskannya ke atas tumpukan karung di bak truk.


"Nih, dua puluh ribu buat kamu," Bang Ferdi merogoh saku celananya, menarik selembar uang kertas dua puluh ribu, lalu menyodorkannya ke arah Dion.


Dion menerima uang itu. "Makasih, Bang."


"Langsung pulang kamu? Nggak mau nunggu lapak Bang Jaka buka?" tanya pria itu sambil mematikan rokoknya di pinggiran truk.


Dion menggeleng pendek sambil melipat uangnya, memasukkannya ke saku celananya. "Langsung pulang, Bang. Mau singgah belikan Mama roti bakar dulu."


"Yee... anak berbakti," celetuk Bang Ferdi sambil tertawa kecil, menepuk bahu Dion kencang sampai Dion agak terdorong ke depan. "Sana-sana, keburu habis rotinya."


โค๏ธโ€๐Ÿฉนโค๏ธโ€๐Ÿฉนโค๏ธโ€๐Ÿฉน


Dion setengah berlari menyusuri trotoar menuju rusun. Dalam hatinya, ada rasa hangat yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan ini. Tiga hari terakhir ini seperti mimpi yang tak pernah berani ia bayangkan sebelumnya. Mamanya bangun pagi tanpa ada histeria, berkegiatan seperti orang normal, bahkan mulai tersenyum lagi.


Dion menaiki anak tangga rusun dua-dua sekaligus. Lantai satu, terus naik ke lantai dua, hingga akhirnya sampai di lorong lantai tiga. Langkah Dion mendadak melambat di tiga meter sebelum pintu unit 304. Pintu rumahnya terkunci dari luar. Kait besi gembok terpasang di lubang engselnya. Dion mengerutkan dahi, alisnya bertaut. Jemari tangan kirinya yang memegang kantong plastik roti meremas kencang. Ia melangkah mendekat, meraih gembok itu.


"Ma?" panggil Dion, suaranya dipelankan, menempelkan telinganya di celah pintu.


Tidak ada sahutan. Kesunyian di dalam ruangan itu begitu terasa. Dion merogoh saku celananya, menarik kunci cadangan, lalu memutarnya di lubang gembok.


Klek.


Pintu itu terbuka.


"Ma?" panggil Dion lagi, matanya melirik ke sekeliling ruangan itu.


Ruangan itu kosong, sesuatu yang sama sekali tak pernah terjadi sebelumnya. Daster-daster yang biasanya tergantung berantakan di tali jemuran dalam ruangan sudah hilang, menyisakan gantungan kawat saja. Mata Dion terhenti pada meja di tengah ruangan. Sebuah gelas plastik berisi air putih berada di sana. Di bawah gelas itu, ada selembar kertas.


Dion meletakkan plastik rotinya di atas lantai begitu saja. Langkah kakinya terasa berat saat mendekati meja. Tangannya diulurkan pelan-pelan, mengangkat gelas itu dengan jemari yang mendadak hilang tenaga, lalu menarik lembaran kertas kecil yang agak lecek. Di atas kertas itu, ada goresan tinta pulpen yang bertuliskan: Dion, Mama pergi. Jangan cari Mama lagi. Maafin Mama.


Dion memandangi barisan tulisan itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Huruf-huruf itu tidak berubah. Tulisan tangan mamanya, tercetak nyata di sana. Dion menarik kursi di samping meja, lalu duduk. Tangannya menaruh kertas itu kembali di atas meja. Ia menatap kertas itu tanpa berkedip sedikit pun.


Menit berganti jam. Suara anak-anak yang bermain bola di pelataran bawah perlahan-lahan surut digantikan oleh bunyi panci tetangga yang sedang memasak makan malam. Lampu koridor di luar perlahan dinyalakan, membiarkan cahaya kuning remang-remang menerobos masuk lewat celah ventilasi udara, menimpa punggung Dion yang duduk tegak tak bergerak.

Lihat selengkapnya