Blurb
Jatuh cinta itu fitrah manusia. Kalau ada yang mencintaiku karena aku cantik maka itu haknya. Ia tidak salah bahkan jika ia mengucapkannya kepadaku. Terlebih jika aku pun suka dengannya karena ia ganteng, itu juga hakku. Aku masih berhak mencintai yang belum punya pasangan.
Aku bakal respon kok. Aku khawatir aja dibilang sombong, disangka aku telah punya cowok padahal nyatanya belum punya. Pernah ada tapi cowokku malah selingkuh. Aku respon yang suka padaku iya, tapi jika aku dianggap memberinya harapan aku si nggak mau, aku belum siap untuk diharapkan.
Jika aku disebut sana-sini mau karena aku merespon siapa saja yang suka padaku, bisa jadi kamu salah, bisa jadi aku benar. Merespon kan tidak harus mengiyakan semuanya, merespon kan tidak harus menjalin hubungan dengan semuanya atau pin salah satunya. Merespon juga tidak harus merendahkan pandangan orang terhadapku, sewajarnya saja kan bisa. Bukan berarti karena aku kesepian juga tapi apa salahnya sedikit peduli, hanya yang nyaman yang mampu masuk ke relung hati.
Disebut tak setia? Ukuran setiap menurut anda seperti apa? Tidak boleh lagi menggerakkan kedua jempol tangan membalas lebih dari satu orang? Bukankah itu telah mengikat? Bukan kah hal itu telah mengekang? Kenapa bicara setia sedangkan aku tidak ada hubungan dengan siapa-siapa? Bagaimana kalau hatinya saja dijaga sedangkan jempolnya tetap bisa lebih dari satu arah?
Toh yang menyatakan perasaan belum punya pasangan. Toh belum tentu siapa yang bakal jodoh. Aku si tidak mau merebut kebahagiaan orang lain, tidak mau dijadikan harapan orang lain. Aku masih ingin fokus kepada tujuanku, mengejar pendidikan lebih tinggi, karir yang cemerlang dan menbahagiakan kedua orang tua. Serta kelak bisa hidup bahagia dengan orang pilhanku.
Maka ketika ada yang menyatkan perasaan, maaf itu termasuk mengganggu fokusku. Jangan salahkan jika penolakanku membuat semunya jadi kelu.
Jatuh cinta boleh, menyatakan perasaan boleh saja, tapi diajak saling berharap, nanti dulu keknya.