Embun pagi masih rebahan di atas daun-daun bunga Janda Bolong di halaman rumahku. Aku tiba pagi sekali setrlah perjalanan dari Sharjah ke kampungku.
Bahagia pulang kampung bukan hanya karena bertemu keluargaku, melainkan dia yang sejak jauh waktu telah mengisi relung hatiku. Selepas magrib aku ingin bertamu ke rumahnya, tetapi katanya ia sedang tidak ada di rumah.
Besar harapan berumah tangga bersamanya, sakinah, mawaddah warahmah adalah do'aku selama ini dan mungkin do'anya juga. Tetapi dia sedang tidak ada di rumah. Katanya masih di luar daerah. Bukan salahnya.
Memang aku tidak pernah menanyakan sekarang ia berada di mana di saat percakapan yang selama ini diketik oleh dua jempol tanganku.
Aku belum pernah bertemu dengannya. Alangkah penasarannya diriku tentangnya. Hingga aku memantapkan diri datang sendiri ke daerah tempat ia kuliah.
Kami bertemu. Sungguh ia sempurna!
"Gadis Turkey yang abang lihat di Sharjah mirip sekali dengan adek." kataku padanya. Sengaja kupetik kalimat yang berbeda dengan, 'Adek mirip gadis Turkey', bukan. Haruslah gadis Turkey yang mirip dengannya.
Aku menjaganya dengan sepenuh hatiku selagi ia bersamaku. Diantara penjagaanku ialah tidak sedikitpun kuberi celah supir Grab yang ingin mendengar suaranya di saat supir itu bertanya, "Mbaknya asli sini, Mbak?" Segera kujawab, "Bukan, Bang, kami orang jauh." jawabku. Dasar emang supir itu, kenapa kalimat pertanyaannya mesti menyebut kosa-kata 'mbak?' padahal ada aku sebagai abang. Tidaklah begitu lama aku berjumpa dengannya. Namun agar terkesan lama biarlah kusebutkan detiknya saja. Kira-kira ada lah sepuluh ribu delapan ratus detik kami bertemu.
Aku tidak mampu duduk di sebelahnya, bukan karena ia tidak menginginkan dan tidak mengizinkan hal itu, tetapi mengingat betapa tidak sopannya duduk di sebelah orang yang bukan mahram bagiku. Memberanikan diri menemuinya saja setelah terjadi perperangan antara nurani dan hasratku. Nuraniku kalah telak karena betapa besarnya hasratku ingin berjumpa dengannya! Akhirnya tiba di kafe itu, aku duduk di depannya.
Kukira aku berhasil menundukkan pandanganku, nyatanya mataku selalu mencari celah menatap elok wajahnya. Di sela-sela obrolan basa-basi aku menyelipkan pertanyaan, "Setelah nikah abang tinggal balik ke Maroko mau?"
"Nggak mau, Bang. Kalau gitu ngapain cepat-cepat nikah."
"Nanti setelah menikah stay di pondok dengan abang, mau?"
"InsyaAllah, Bang."
Tidak lama liburan di kampung, aku balik ke Sharjah. Dia ikut mengantarku sampai ke bandara dari asrama UINSU. Anehnya, aku merasa ini adalah perpisahanku selamanya dengannya. Bukan karena ajal, tetapi semacam ada rasa khawatir hatinya direnggut orang lain. Sikap pesimisku amat besar! Langkahku berat. Mataku mengembun.
Kulihat ia melambaikan tangan kanannya, kemudian ia pergi meninggalkan bandara. Di ruang tunggu, pesan itu masuk lewat WA, darinya untukku.
"Maaf bang, Munir, jangan terlalu berharap. Sebenarnya sudah ada yang duluan ingin serius denganku." Singkat, padat dan menyayat hatiku.
Rasa-rasanya aku tidak ingin masuk pesawat. Tidak ingin balik ke Sharjah. Ingin menikah dengannya segera. Sungguh berat ketika realistis dan kemauan bersatu. Kemauanku ingin keluar dari ruang tunggu dan mengikutinya pulang. Tetapi realistisnya aku harus balik, tiketku tidak bisa ditunda. Kalau ditunda harus beli tiket baru lagi yang harganya sebanding dengan mahar jika aku benaran menikah dengannya.