Selama empat tahun kuliah di Al-Qasimia University aku pun lulus. Di hari wisuda yang memberikan piagam kelulusanku ialah Dr. Najlah. Haru, bangga, dan bahagia menyelimuti dada.
Teringat perjuangan awal bagaimana aku bisa sampai ke Sharjah dan duduk di bangku kuliah Al-Qasimia University. Untuk biaya awal keberangkatanku ayah sempat menggadaikan tanahnya.
Waktu itu siang hari setelah shalat zuhur. Ayah duduk di ruang tengah. Ibu sedang isitirahat di kamarnya. Aku sendiri di kamarku. Lalu pesan masuk lewat G-Mail mengabarkan kelulusanku.
Aku segera keluar dari kamar dan kupeluk ayah dan bilang kalau aku lulus. Lalu aku datangi ibu di kamarnya aku peluk ibuku sembari menangis sendu, aku dan ibu berkali-kali berucap syukur alhamdulillah, kampus impianku. Cita-cita lamaku yang mana dulu ketika aku kelas enam saat ibu datang ke pondok membayarkan uang bulananku. Aku antar ibu hingga ke gerbang.
Sambil menunggu angkot tiba-tiba bapak pimpinan lewat di hadapan kami hendak keluar dan ibu coba meberhentikan mobil beliau dan aku mendengar ibuku bilang ke bapak pimpinan bahwa cita-citaku ke Sharjah kuliah di Al-Qasimia University. Ibu mohon dukungan dan didoakan. Kulihat bapak pimpinan senyum-senyum sembari mengiyakan. Dua hari berikutnya ketika bapak pimpinan mengajar nahwu di kelas kami di lantai satu gedung bertingkat itu.
Bapak pimpinan bilang di hadapan semua teman-temanku bahwa ada seorang teman kalian di kalas ini yang kemarin ibunya memberhentikan mobil saya dan bilang anaknya mau ke Sharjah kuliah di Al-Qasimia University. Bagaimana mau kuliah ke sana. Kalian ini pelajarannya belum memadai, di sana ada balaghah, nahwu dan shorofnya sudah level tinggi nantinya, kemudian harus jago bahasa arabnya. Intinya bapak pimpinan tidak yakin salah satu dari kami bisa lulus dan belajar di sana, tidak akan mampu mengikuti pelajaran. Beliau sambil ketawa kecil memberitahu semuanya dan teman-teman telah menebak kalau itu adalah ibuku, kalau itu adalah keinginanku yang sejak kelas empat KMI mereka tahu. Aku sempat down namun tidak ingin menyerah, semangat dan harapan tetap ke sana. Hari-hari doaku adalah menyebut Sharjah, menyebut Al-Qasimia University.
Esok harinya ibu menawarkan ke tetangga yang mau meminjamkan duitnya sebagai jaminanannya tanah ayah.
Aku pergi ke Medan berdua dengan adik sepupuku untuk membuat paspor. Tetapi karena aku belum punya KTP dan aku disuruh datang lagi besok setelah membuat KTP. Padahal pulang ke Aceh Tenggara cukup jauh dan memakan biaya. Lima hingga enam jam perjalanan ketika itu dengan BTN.
Aku keluar dari ruang imigrasi.
Tiba-tiba aku didatangi seorang pria dan menanyakan kendalaku.
Awalnya aku tidak tahu ia seorang calo kecuali setelah ia menawarkan bantuannya dengan bayaran 900 ribu, ia bakal membuat KTP sementara agar bisa digunakan untuk membuat paspor. Ia berjanji bakal menemani dari awal hingga paspor jadi langsung esok harinya. Aku pun menbayar hampir setengah harga yang disepakati.