Malam sebelum besok paginya kami BBQ di tanah lapang rumput depan masjid kampus. Tiba-tiba hp-ku berdering. Ada panggilan Whatsapp dari Rais 'Am El-Amin. Beliau menanyakan kapan aku pulang. Aku jelaskan insyaAllah tiba di Aceh Tenggara tiga hari kemudian sebab aku ingin satu hari dulu di Jakarta.
Rais Aam memberitahuku bahwa beliau telah menyiapkan jodoh untukku. Jantungku berdetak tak tentu. Bagaimana bisa? Sedangku aku telah lama menjalin LDR dengan seseorang yang ingin aku jadikan pedamping hidupku. Sejak ia hendak masuk kuliah dan kini ia hampir lulus juga.
Setelah BBQ, aku balik ke kamar dan hal itu pun kusampaikan ke kekasihku itu bahwa aku telah dijodohkan. Ia pun menebak nama-nama alumni kakak seniornya yang ia curigai bakal calon jodohku. Dan ia pun merajuk tidak mau lagi diganggu sebelum aku berhasil mengenalkannya ke Rais Aam.
Aku menyakinkannya bahwasannya aku akan tetap memilihnya. Ia pun mengiyakan hal itu. Aku janji bakal mampu menyakinkan Rais Aam bahwa aku tak salah pilih, ini alumni terbaik di angkatannya.
Ia berfoto di samping Rais Aam empat tahun lalu, namanya yang pertama dipanggil ketika yudisium karena nilai tertinggi, namanya Qatrunnada Warda. Tapi biasanya aku selalu memanggilnya adek, dek, dekkuh, atau kami sama-sama manggil ay-singkatan dari ayang.
Setelah dari tiba di Bandara Soetta, aku pesan langsung menuju ke kediaman alumni El-Amien yang tinggal di asrama mahasiswa di Darunnajah. Tiba di sana monil yang aku tumpangi langsung saja masuk dari gerbang utama dan aku menunggu Zahrul di parkiran.
Sembari menunggunya aku sempatkan membeli minuman di kantin. Tak lama ia datsng dan mengajakku menuju asramanya.
Aku bongkar koper dan aku bagikan beberapa oleh-olehku ke Zahru dan teman-temannya.
Sebelum magrib aku mandi. Malamnya kami keluar naik motor dan menikmati Jakarta di malam hari. Kami berfoto dari tempat yang telah dibangun untuk menikmati keindahan Bundaran HI dari atas. Kemudian kami ke arah monas dan berhenti di tanah lapang yang banyak sekali orang-orang berjualan.