DINGIN. Tubuh lemahku tenggelam dalam kesunyian. Semakin dalam, semakin gelap hingga tak kurasakan lagi denyut tubuhku. Sedikit-sedikit, kurasakan air asin mulai menyerobot masuk ke dalam mulutku.
Kakiku berusaha menendang tanpa arah, sementara napasku terus terpotong, dan untuk pertama kalinya aku sadar—aku tak pernah belajar berenang.
Suara samar dari permukaan terdengar, seolah-olah ia sedang memanggilku, menarik kesadaranku yang memudar.
“Pegang tanganku!”
Air di sekitarnya beriak saat ia berenang menuju ke arahku. Suaranya terdengar jernih, seolah air tak mampu meredamnya. Saat kulihat siluetnya mendekat, pelan-pelan kuulurkan tangan, berusaha melawan arus air yang menarikku ke jurang kegelapan.
Namun, belum sampai lima detik, tanganku sudah tak bisa digerakkan dengan pikiran yang mulai mengawang. Refleksku memaksa untuk menghirup, menyebabkan air asin semakin leluasa masuk tanpa ampun.