“KAMU kapan nikah?”
Dentingan garpu dan sendokku berhenti saat mendengar pertanyaan dari wanita gemuk bergaun merah. Suasana meja bundar ini mendadak sunyi, menyisakan beberapa tatapan penasaran yang tertuju ke arahku.
Ah, celaka. Semakin larut, semakin mencekam pula pertanyaannya.
Aku berakting tenang—meletakkan alat makan dan tersenyum manis.
“Aku? Harusnya aku loh yang nanya ke Ayi¹. Anak Ayi ‘kan udah punya pacar. Orang kaya lagi.”
Wanita kepo itu tertawa kencang, lalu menggandeng tangan mulus anak gadisnya yang memasang tampang tak enak. Tiga orang lainnya yang masing-masing duduk berjarak satu kursi hanya bisa tertawa canggung dan menunduk tak peduli.
Aku melirik sup asparagus yang mulai mendingin. Muncul tiga kerutan di dahi lebarku, menduga cita rasanya pasti telah berkurang banyak. Namun, tingkah menyebalkannya tak berhenti di situ.
“Iya, dong! Anak Ayi nggak perlu kamu khawatirin. Kamu, tuh, udah masuk usia nikah, tapi masih jomlo aja. Udah punya pacar belum, sih? Jangan terlalu sibuk kerja, nanti juga ujung-ujungnya masuk dapur buat ngelayanin suami.”
Aku berganti melirik wanita tua penuh uban yang bergeming di kursi roda, sama sekali tak berniat menolongku keluar dari situasi aneh ini. Tangan keriputnya justru sibuk menyeka tetesan minuman kaleng di baju motif bunga mawar kesukaannya.
Aku sengaja terbatuk beberapa kali demi mencari perhatian, hanya saja lantunan keras musik Mandarin menenggelamkan suaraku.
Aku menyerah. Sudah kuduga ajakan ini akan menjadi petaka. Di hari ketujuh kepulanganku, Mama memintaku menemani Amah ke pesta pernikahan anak dari temannya. Aku sempat menolak, tetapi Mama bersikeras dan mengancam tidak akan membuatkan nasi jamblang yang sudah kuidam-idamkan semenjak pulang.
Sial, keluarga ini dipenuhi orang licik.
Harusnya ini menjadi malam yang biasa. Makan, senyum, pulang. Namun, gara-gara wanita gembrot ini, aku malah diinterogasi soal hidupku sendiri.
Aku bersandar ke kursi dan bersedekap, duduk congkak dengan kepala mendengak. Kaki pendekku menendang kaleng minuman kosong di bawah meja ke arah lawan.
Tahi lalat di pinggir mulutku terasa gatal, saatnya beraksi.
“Oh ya? Ayi bisa ngomong kayak gitu karena pengalaman pribadi, ya? Kasihan, deh. In my opinion, anak gadis itu nggak usah dipaksa nikah cepat-cepat. Nanti kalau ujung-ujungnya cerai, gimana?”
Aku menutup mulut dengan kedua bola mata membulat, seolah-olah tak sengaja mengatakan kalimat sindiran itu.
“Oh, sorry. Lupa kalo Ayi udah cerai karena diselingkuhi.”
Aku hanya menebak, tetapi wanita gemuk itu naik pitam, bahkan bedak dempul tak bisa menutupi wajahnya yang memerah padam. Lekas-lekas telapak tangan gempalnya menggebrak meja, membuat tiga penonton setiaku terkejut bukan main.
“Kurang ajar! Cucumu ini harus dikasih pelajaran, Nei! Udah lama ngerantau, pulang-pulang malah makin nggak bener omongannya.”
Dengan mata berapi-api, ia berusaha menguliti seluruh tubuhku, sedangkan anaknya sedang sibuk menenangkan inner child ibunya yang tersentil. Menemukan bahan baru, lidahnya berdecak kencang.
“Di acara nikahan pun cuma pake kemeja sama celana panjang. Memalukan, pantes nggak punya cowok, nggak punya attitude juga!”
Punggungku tegak saat mendengar kalimat sembrononya. Tak mau kalah, aku menoleh sembari memasang wajah memelas sekadar menyaksikan ekspresi Amah yang berubah keruh.
Apa Amah marah?
Entahlah, setelah lama hidup sendiri, aku jadi tak pandai membaca mimik atau suasana hati seseorang.
“Dia udah lama tidak pulang, makanya belum terbiasa di sini. Lu maklumi ajalah. Lu ‘kan lebih tua, harus lebih sabar dikit.”
Aku terkikik geli di depan semua orang, merasa puas pada kalimat pembelaan Amah yang membuatnya kicep.
Setelah suasana mencair, kami kembali menikmati hidangan selayaknya tak pernah berperang kata-kata anarkis. Aku beberapa kali menoleh ke pintu keluar saat mencium wangi dupa—mungkin berasal dari umat yang bersembahyang di kelenteng depan.