MOTOR kami berhenti di depan rumah gaya kuno berlantai dua—rumah peninggalan Akong. Saat mau turun, tanganku refleks mencari pegangan, yaitu bahu Alder. Namun, reaksinya justru membuatku terheran-heran. Ia segera membelokkan bahunya, seperti najis disentuh olehku. Aneh, apakah ada mata di kuduknya?
Akhirnya aku turun berpegangan pada besi belakang motor, membuka pagar dan berjalan masuk ke pekarangan yang kalau kuingat, tak sepadat ini. Maksudku, dulu Amah memang sering menanam mawar dan bunga-bunga liar yang tak kutahu namanya. Dari merah hingga hitam, berbagai macam warna dikoleksi. Bahkan, ia bisa meminta bunga milik tetangga atau orang asing tanpa tahu malu.
Berbekal lampu taman, kulihat bunga mawar menumpuk di satu bagian, beberapa sudah mengering di ujung batangnya. Saat Amah sehat, mereka dirawat dengan telaten dan menyegarkan suasana rumah, kini dipaksa tumbuh sendiri tanpa diurus.
Walau suasana di sekitarnya telah banyak berubah, rumah ini masih berdiri kokoh, seolah tak tersentuh waktu. Hanya catnya yang memudar tak keruan, menampakkan dinding batu tua yang sudah menghitam di beberapa sisi.
Aku menoleh ke selatan. Rumah ini berdiri tak jauh dari pantai—sekitar satu kilometer saja. Kadang, angin asin menyelinap masuk, membawa aroma laut yang samar dan lembap. Hujan lebat yang reda dua jam lalu meninggalkan rasa dingin, menjadikan malam ini terasa sempurna untuk terlelap di bawah selimut Kuromi-ku.
Namun, sialnya aku melihat anggota keluarga lengkap sedang duduk di meja makan lewat jendela yang hanya ditutupi gorden putih. Perang pasti akan meletus malam ini. Aku merenggangkan ekspresi wajah, berusaha terlihat lelah dan butuh tidur.
Alder ternyata membuntuti dari belakang, terlalu tenang hingga tak kusadari ia telah mendahuluiku dan masuk ke ruang penghakiman berkedok rumah itu. Sebelum masuk, aku sedikit memutar ke belakang, mencuci tangan di keran yang memang dirancang untuk menyiram tanaman Amah.
Agak melamun, aku kaget saat suara berat seseorang memanggil namaku lewat jendela ruang tamu. Kepalanya menengok ke luar, tepat di atas kepalaku.
“Masuk. Amah mau ngomong.”
Aku mengangguk singkat, baru sadar sudah mencuci tangan cukup lama hingga kulitku mengeriput. Setelah menyeka tangan menggunakan kain lap yang tergantung di tembok, aku masuk lewat pintu depan.
“Ada apa, nih, rame-rame? Mau bagi-bagi angpau part dua?” candaku saat sampai di dapur dan mengambil tempat di sebelah Alder. Ia duduk tegap menghadap pintu, seolah mengawasi sesuatu.
Omong-omong, aku memang pulang berbarengan dengan Imlek. Sekitar seminggu lalu, Mama menelepon, menyuruhku pulang dan merayakan Imlek bersama. Tahun lalu, aku tak bisa pulang karena pandemi dan terpaksa menetap di apartemen sewaanku selama sepuluh tahun merantau di Jakarta.
“Kamu masih inget Libra nggak, Pe?”
Suara Mama terdengar hati-hati. Tangannya juga bergerak gelisah di atas meja, terlihat seperti orang yang sedang menimbang kata-kata agar tidak salah bicara.
Aku tidak langsung menjawab. Aku tahu persis siapa Libra. Namun, entah mengapa, rasanya lebih mudah berpura-pura lupa daripada mengaku bahwa aku masih mengingatnya.
Kursi di depanku berderit saat Mama mencondongkan tubuhnya ke arahku. Ia bersemangat, sudah tak segugup tadi.
“Orang tuanya sebulan lalu datang ke rumah. Mereka mau jodohin Libra sama kamu.”
Hening.
Aku bersandar ke kursi, memilin ujung baju yang seratnya terasa kasar di ujung jari. Pandanganku lurus ke meja, sibuk mencari jalan keluar dari situasi aneh ini.
Seperti sales kendaraan, Mama lanjut mempromosikan Libra dalam satu tarikan napas.
“Libra orangnya baik dan enak diajak ngobrol, kok. Minggu kemarin dia beliin Mama oven listrik, Papa dikasih obat herbal. Pas Amah ultah, dia langsung beliin kursi roda baru juga.”
Aku terkekeh, tak bisa lagi menahan diri. Perlahan, kupandang wajah Amah. Keriput di kulitnya makin dalam, pipinya kempot karena ompong, dan yang paling terasa, tubuhnya jauh lebih kurus dari tahun lalu. Baju motif kembang yang biasa ia pakai kini kedodoran, memperlihatkan tulang selangkanya yang menonjol.
Ah, ternyata yang Mama bilang itu ada benarnya.
“Apa gara-gara omongan Ayi tadi?”
Aku mengawasi pergerakan Amah yang tak berubah. Napasnya sangat teratur, tak terkejut atau canggung seperti Mama.