Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #4

02. PEONY: Dia, Teman Lamaku?

AKU membuka pintu kamar dan mengintip sedikit, mencari keberadaan makhluk hidup yang menghuni rumah ini. Setelah tak menemukan siapa pun, aku keluar dengan perasaan lega.

Kamarku berada di lantai dua. Kadang, angin asin dari laut terbawa masuk saat jendelanya lupa kututup. Di sini hanya ada tempat sembahyang yang menghadap balkon, sementara kamarku berada di sisi berlawanan.

Aroma dupa tercium, sedikit menyengat karena sudah lama meresap ke tembok, menandakan ada orang yang mungkin sudah sembahyang pagi-pagi sekali.

Aku belok untuk menuruni tangga, masih merasa cukup percaya diri bahwa akulah orang pertama yang bangun di saat matahari belum bersinar.

“Mau ke mana?”

Aku nyaris terpeleset di anak tangga terakhir saat mendengar suara berat dari arah dapur. Dalam temaram cahaya kulkas yang terbuka, kusadari sosok jangkung itu adalah Alder. Ia menutup pintu kulkas, lalu mendekatiku dengan sebotol air mineral di tangan.

Aku melirik jam dinding di sebelah foto keluarga sebelum membalas pertanyaannya.

“Emangnya nggak boleh? Lagian baru jam enam, kenapa udah bangun?”

Saat Alder bergerak maju untuk menaruh botol ke meja makan, aku refleks mundur, berusaha menjauh dari pandangannya. Dari sudut mata, kulihat sesuatu mengalir dari lehernya—keringat, mungkin. Rambut cepaknya basah, singlet hitamnya pun lembap menempel di tubuh.

Bagian kumis dan janggutnya tampak kehijauan, mungkin baru dicukur asal karena masih menyisakan bulu-bulu halus di beberapa bagian.

Mataku langsung memelotot horor melihat ketidakrapian itu. Apakah kiamat sudah dekat?

“Lu habis ngapain?”

Saat kepalanya menunduk ke arahku, sebuah kalung perak dengan nama ‘Alder’ tak sengaja tersingkap. Tawaku nyaris menyembur kalau saja situasi saat ini tidak canggung.

“Lu pake kalung nama? Udah gede, masih aja pake gitu-gituan. Aneh.”

Alder tak membalas ejekanku yang langsung memutus topik di antara kami.

“Udah lama nggak pulang, jangan berkeliaran, nanti nyasar.”

Aku mengernyit mendengar kalimatnya yang kaku dan terpotong. Setelah sekian tahun tak bertemu, perubahan pada Alder terasa mencolok.

Biasanya, ia bukanlah tipikal yang suka bangun pagi. Bukan juga orang yang mau berkeringat di pagi hari hanya untuk olahraga. Cara bicaranya juga aneh, tidak seluwes dulu.

“Jalan-jalan di kompleks doang. Bosen di rumah.”

Alder tak membalas omonganku. Ia hanya menyeka keringatnya menggunakan tangan kosong dan pergi begitu saja. Semua sikap janggalnya membuatku takut. Apa Alder juga terkena virus yang membuatnya berubah menjadi orang lain?

Sembari menggeleng kecil, aku berjalan ke arah pintu utama, ingin menikmati embun pagi dan udara sejuk sehabis diguyur hujan.

Seingatku, ada dua matahari di Cirebon. Maksudku, dulu kami sering mengatakan kalimat sarkas itu karena kesal dengan cuaca panas yang tak berkesudahan.

Saat kaki telanjangku menyentuh tanah dan pasir di halaman, hatiku terasa penuh. Rasanya seperti aku kembali menjadi bocah sepuluh tahun yang hanya tahu tertawa dan bermain.

Saat pagi, aku baru bisa melihat dengan jelas kalau tanah di halaman samping sudah mengeras dan retak. Tempat itu dijadikan garasi mobil dan tak ditanami rumput jepang lagi. Dulu, di sana adalah spot favorit untuk bermain bulu tangkis. Mama menjadi wasit, sedangkan aku dan Alder akan bermain hingga salah satu di antara kami menangis—aku.

“Permisi.”

Aku kaget. Rasa kantuk sayup-sayup tadi kini sepenuhnya menghilang. Seseorang berdiri di pagar rumah. Kepalanya yang kecil celingak-celinguk mencari sesuatu. Aku bergeming, tak cukup ramah untuk menyapanya duluan.

“Saya mau ambil bola anjing saya. Kayaknya tadi jatuh ke sini.”

Gara-gara ucapannya, aku jadi ikut celingak-celinguk mencari barangnya. Saat mataku menangkap benda bulat berwarna oranye nongkrong di atas mawar merah Amah, aku langsung panik.

Lihat selengkapnya