Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #5

03. PEONY: Sepuluh Tahun, Ternyata Cuma Aku Yang Tak Berubah

AKU mengomel tak keruan di depan meja rias setelah insiden keceplosan tadi pagi. Kalau saja manajemen emosiku baik, aku takkan repot-repot duduk di sini memakai lipstik hitam dan cushion salah shade.

Saat sedang menepuk kulit wajahku dengan spons, aku mulai memikirkan hal lucu hingga tak kuasa menahan seringai.

“Mampus. Biarin aja lu malu duduk sama lenong!”

Hanya dengan menatap pantulan diriku di cermin, orang gila pun akan waras saking ketakutannya. Aku mengombinasikan banyak warna aneh dalam riasan, membuat wajahku terlihat gotik, tetapi juga menor. Belang di antara leherku yang kuning langsat dan wajah yang pucat seperti mayat sangat menusuk mata. Hahaha, kacau sekali.

Sebagai pelengkap, aku memakai cincin batu akik hitam milik Papa yang kucuri dari kulkas.

Setelah kupikir-pikir, dulu, Libra juga termasuk teman main kami. Walaupun agak sombong, ia masih mau bermain dengan Heksa yang notabene anak penjual koran. Tak jarang, ia menraktir kami jajanan di warung.

Betul kata Mama, Libra orang baik, tetapi aku hanya menganggapnya sebagai sosok adik yang sulit dipuaskan. Ucapannya selalu menyebalkan, tipikal orang tsundere.

Sudahlah. Mungkin setelah bertemu dan melihat wajahku yang seperti ini, ia akan berubah pikiran.

Ting!

Satu notifikasi masuk. Saat kubuka, ada nomor asing yang mengirimiku lokasi sebuah kafe. Tidak ada gelembung teks lain, hanya itu.

“Ini harusnya Libra, ‘kan?”

Aku menyelesaikan riasanku dengan menaburkan glitter di kelopak mata dan pipi. Dapat ide baru, aku mencoba memakai kacamata hitam dan tersenyum puas. Ah, luar biasa gila.

Lihat saja, akan kutaklukkan bocah kemarin sore itu!

Saat sedang mesem sendiri, pintu kamarku diketuk agak keras. Aku panik, buru-buru kurapikan kaus hitam kebesaran yang kupadukan dengan celana jin warna serupa. Tak lupa kuambil tas mini yang hanya cukup diisi handphone dan dompet gratisan dari membeli emas.

“Siapa?”

“Aku.”

Suara berat itu langsung memperburuk suasana hatiku. Saat pintu terbuka, bisa kulihat dahi Alder sedikit berkerut, matanya juga melebar sekilas, lalu kembali datar, seolah tak peduli.

“Amah nyuruh aku yang antar.”

Aku melipat tangan di dada.

“Ha! Saking nggak percayanya, sampe ngutus cucu kesayangan buat mantau.”

Alder tak menanggapi. Ia langsung pergi ke bawah dan menunggu.

Aku masih mengomel pelan sambil memasang sepatu pantofel hitam yang baru-baru ini kubeli daring. Apa menurut mereka wanita akan mati kalau tak menikah?

“Next life, gue mau jadi cowok mokondo aja, deh.”

Saat menuruni anak tangga, aku melihat Mama sedang menata piring di meja makan. Seketika aroma masakan rumahan merebak, membuat perut kosongku keroncongan.

“Makan dulu nggak?”

Tanpa melihat ke arahku, Mama bertanya dengan intonasi datar, seperti tak terjadi apa-apa. Tangannya sibuk membungkus kue gapit yang mungkin akan dibagikan ke tetangga.

Aku melirik jam dinding dan menghela napas. Ternyata waktunya sudah mepet.

“Nggak, makan di sana aja.”

Kepalaku celingak-celinguk mencari Alder di ruang tamu.

“Dia udah nunggu di luar.”

Aku mengangguk dan pergi menyusul Alder yang sudah duduk di atas motor matiknya. Ia hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, sama sekali tak takut pada sinar matahari yang menyengat.

Satu-satunya hal yang ia lindungi adalah mulut pendiam itu. Warna maskernya pun merah jambu. Pasti milik Mama.

Ia menyerahkan helm kepadaku.

“Ew, bau matahari.”

Aku memakainya dengan terpaksa, hitung-hitung sebagai kejutan lain untuk Libra. Menimbang ia adalah orang higienis yang takut kotor, bau ini akan menjadi pengalaman baru untuknya.

Perjalanan kami hanya diisi suara angin, klakson pemotor lain, dan polusi udara dari asap motor. Tidak ada percakapan berarti, hanya basa-basi mengenai lokasi kafe yang sudah ditentukan Libra.

Lima belas menit, kami sampai di depan kafe yang lebih mirip mansion orang kaya. Aku bergidik, tiba-tiba menyesali riasan dan pakaianku yang norak. Saat melepaskan helm, Alder menyodorkan saputangan abu-abu padaku.

“Hapus kalo udah.”

Lihat selengkapnya