Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #6

04. PEONY: Jadi, Cuma Salah Paham?

AKU memelesat bagaikan seekor citah yang mengejar mangsa, menerobos kerumunan pejalan kaki, dan sampai tepat di belakang punggungnya.

“Tu–tunggu!”

Saat berhasil meraih pergelangan tangannya, aku bertumpu ke lutut dengan dada kembang-kempis kehabisan oksigen. Keringat sebesar biji jagung mengalir hingga ke pinggir bibir, memberikan sensasi asin di lidahku yang tak sengaja menjilatnya.

Saat ingin meluruskan pinggang, aku baru teringat soal riasan gotikku. Tidak. Heksa tidak boleh melihatku dalam keadaan tragis seperti ini!

Tangan yang kugenggam paksa menunjukkan perlawanan. Ia bergerak gelisah minta dilepaskan. Napasku belum pulih sepenuhnya, membuat cengkeramanku menguat sekadar menghirup udara segar.

“Ada apa, ya, Teh?”

Namun, kesabaranku tak bisa lagi menolelir kebohongannya. Refleks aku mendongak, nyaris saja membentur kepalanya yang menunduk ke arahku.

“Teteh kata lu? Heksandra Tan, lihat baik-baik muka gue. Lu udah lupa sama gue?”

Aku mengguncang tubuhnya gemas, sedikit frustrasi melihat sikapnya yang banyak berubah sejak hari itu. Namun, sekeras apa pun ia berbohong, wangi bunga selasih ini takkan mampu menutupi penyamarannya.

Ia hanya diam dan mengamati, tidak menjawab ataupun membantah. Pelan-pelan kulepaskan cengkeramanku, berusaha menahan diri agar ia tak lari lagi.

Heksa sempat ragu, berulang kali membuka mulut dan menutupnya lagi. Setelah beberapa menit, dilema itu akhirnya berakhir.

“Mau ikut aku?”

Aku buru-buru mengangguk, tetapi detik berikutnya, yang kurasakan adalah neraka dunia. Perutku melilit, kepalaku pusing dan ya, terjadilah tragedi bersejarah—aku muntah di depan Heksa tanpa sempat bergerak satu inci pun.

Makanan dan minuman manis tadi berlomba-lomba keluar dari mulutku, bahkan hidung mungilku mengeluarkan cairan hijau pekat bercampur ingus. Sial, perut kampungan ini benar-benar sengaja mempermalukan pemiliknya.

Pusing, mual, jijik. Sekarang aku benar-benar kehilangan muka sekadar mengangkat kepala. Saat pikiranku berkecamuk, sebuah saputangan harum bunga selasih mencium bibirku. Rambutku yang terurai sebahu juga dipegang olehnya agar tak terkena muntahan.

“Udah mendingan? Kita cari tempat teduh dulu, yuk.”

Aku mengangguk dan mengikuti Heksa sembari menikmati pemandangan punggung lebarnya. Dulu, jangankan punggung lebar, tinggi badannya pun hampir sama denganku. Aku menghela napas lega. Anak kecil ini sudah tumbuh dengan baik.

Kami akhirnya mampir ke sebuah taman sekolah dasar. Setelah meletakkan barang bawaannya di kursi kosong dekat pohon beringin, Heksa masuk ke sebuah toko kelontong dan membelikanku sebotol air mineral.

“Makasih.”

Setelah Heksa mengambil tempat duduk di sebelahku, aku langsung menanyakan hal yang menggangguku sedari tadi.

Lihat selengkapnya