Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #7

05. PEONY: Omong Kosong Lainnya

AKU bersenandung kecil setelah turun dari ojek online yang kupesan satu jam lalu. Aku bertekad akan memasang senyum ceria hari ini.

Tadi, Heksa memberikan nomornya padaku. Setelah mengatakan banyak omong kosong tentang melepaskan, nyatanya aku masih bergantung pada kenangan indah sepuluh tahun silam.

Tiba-tiba bibirku mencebik sedih. Aku pulang tanpa alas kaki. Mungkin karena masih baru, ujung sepatu yang kukenakan masih keras dan melukai tumit. Daripada bekas luka di kakiku bertambah, lebih baik aku tenteng saja sepatu ini.

“Menyedihkan banget hidup gue.”

Aku menendang kesal rumput pendek hingga kuku jempolku tak sengaja mengeruk tanah.

Sial, kuku mengilat seharga lima ratus ribu rupiah ini sudah ternodai oleh tanah lembek.

Aku berhenti. Telingaku berkedut saat mendengar langkah kaki tergopoh-gopoh dari halaman samping. Dari kejauhan, kulihat sosok Alder yang mengenakan pakaian serupa saat mengantarku tadi siang. Bedanya, sekarang banyak noda hitam di baju putih itu.

“Lewat belakang, ada tamu.”

“Siapa? Kenapa harus lewat belakang, sih? Emangnya gue imigran gelap?”

Alder berjalan pelan, membuatku mau tak mau mengikutinya. Ia tak melihatku, hanya lanjut memberikan informasi yang menarik.

“Ada Tuapek¹ sama istrinya. Ada Ce Reni sama Ce Rena juga.”

Aku mengangguk paham dengan alasan Alder mencegatku. Orang-orang yang disebutkannya tadi ibaratkan bos akhir yang harus dikalahkan dalam video game—kejam dan sulit ditaklukkan.

Aku melirik pinggiran kuku tangannya yang menghitam. Bau oli juga tercium dari tubuhnya. Alisku terangkat sebelah.

Main di mana anak ini? pikirku.

“Lu … kerja di mana?”

Aku bertanya basa-basi. Selama ini aku tidak pernah tahu soal pekerjaannya, juga tidak pernah kepo soal pacar dan gaya hidupnya. Setelah lama berpisah, aku mulai merasa kalau Alder sudah banyak berubah.

“Bengkel.”

Alisku makin mengerut. Alder yang dulu terkenal pintar dan jenius seperti Albert Einstein itu sekarang bekerja di bengkel?

“Terus kenapa lu belum beres-beres? Ntar kena omel kalo dilihat mereka.”

Ia berhenti, membuatku juga berhenti.

“Nggak perlu.” Kepalanya menoleh sebentar, lalu mengatakan hal yang membuatku semakin bingung.

“Mereka juga nggak perlu tahu aku udah pulang.”

Sambil menggaruk kepala, aku tetap mengikuti Alder lewat pintu belakang yang terhubung dengan dapur. Ia mampir ke dapur untuk mengambil sebotol minum dari kulkas dan keluar lagi.

Buru-buru aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan riasanku. Namun, belum ada lima menit, pintu diketuk dari luar. Aku menduga orang itu adalah Mama, tidak pernah menyangka kalau suara cemprenglah yang terdengar.

“Siapa, nih? Peony? Ngapain di dalem? Nggak mau ketemu kami, ya?”

Aku memukul pinggiran bak mandi, tidak tahu kalau orang ini sangat gigih.

“Pake nanya lagi. Di toilet mah kalo nggak berak, kencing, ya mandi.” Aku menggerutu, tentu saja sembari berbisik-bisik.

Setelah menyeka wajah dengan handuk bersih, aku keluar dengan senyum lebar hingga pipiku sakit. Sosok di depanku ini memakai gaun putih di atas lutut yang memamerkan kaki putih jenjang tanpa koreng, make up on point—entah mengapa di wajahnya masih terlihat natural, dan rambut panjang yang digulung rapi.

Ini adalah sosok sempurna dari seorang Chindo.

“Ce … Reni, ya? Wah, udah lama nggak ketemu, makin cantik aja, nih!”

Aku tertawa canggung dan mengusap wajahku yang masih lembap, berusaha menaikkan intonasi bicara agar terdengar excited. Sialnya wanita di depanku hanya terdiam, lalu menyentuh bahuku dengan pandangan aneh.

“Kamu bercanda, ya? Aku Rena, loh. Walaupun kembar, masa kamu nggak bisa bedain kami, sih.”

Aku cengengesan, pelan-pelan menyingkirkan tangannya dari tubuhku. Dengan berat hati, aku menjabat tangannya, lalu menepuk-nepuk pelan seperti menenangkan anak kecil.

Gimana mau bedain kalian, bedain kiri sama kanan aja gue masih salah.

“Oh, Ce Rena? Sorry, sorry. Soalnya kalian sama-sama cantik, jadi bingung, deh.”

Sepertinya kalimat pengelakanku tak menyenangkan di telinganya. Dua kembar ini ternyata masih sama—hobi bersaing satu sama lain.

“Ayo, ke depan. Papa sama Mama mau lihat kamu, Pe.”

Rena memaksa tanpa ampun, menarik tanganku ke ruang tamu. Dengan penampilan seperti ini, aku yakin Papa dan Amah sedang memelotot ke arahku.

Tuapek dan istrinya yang sedang duduk di sofa melihatku, tanpa senyum, tanpa kata. Perempuan berkulit tan di sebelah mereka sibuk bermain handphone, tak memedulikan apa pun. Rambutnya hanya sepanjang leher, berwarna cokelat pirang.

Oh, pantas saja Rena marah saat disamakan dengan Reni.

“Wah, Peony cantik banget. Sekarang udah gede, ya. Perasaan dulu pas ketemu masih kecil banget loh. Udah punya pacar?”

A'em² tiba-tiba tersenyum ramah, meskipun pertanyaannya langsung menusuk ke kehidupan pribadiku.

Lihat selengkapnya