Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #8

06. PEONY: Mengulang Hal Yang Sama

AKU mengerjap. Pandanganku mengitari sekeliling—hamparan rumput hijau yang tak terlihat ujungnya.

Aku melihat telapak tanganku, lalu beralih ke kaki telanjangku yang menginjak rumput basah. Tidak ada bekas keloid atau gelang kaki yang kupakai.

“Ini lagi?”

Saat mulutku berbicara, dunia ini runtuh. Tubuhku mengawang, terasa begitu dekat dengan langit biru tanpa matahari. Aku tak memberontak, sudah tahu ke mana ia akan membawaku.

Dulu, aku sering bermimpi. Sebuah mimpi aneh yang melelahkan. Semenjak merantau dan sibuk dengan urusan pekerjaan, mimpi-mimpi itu mulai terkubur, tersimpan rapi dalam kepalaku.

Namun, ada masanya aku takut untuk tidur dan mengonsumsi kafein dalam jumlah banyak. Tiga hari. Aku bertahan selama tiga hari sebelum dilarikan ke rumah sakit. Tak ada yang tahu, hanya rekan kerjaku yang mengurus segala keperluanku.

Aku hanya takut mereka akan membawaku pulang dan kembali hidup dalam penyesalan. Aku ingin memulai kembali, di kota asing tanpa siapa pun yang mengenali.

Sebuah tetesan air mengenai pipiku. Awan dan langit biru sudah tak terlihat, digantikan langit mendung yang siap tumpah kapan saja.

Bibirku bergetar, gigiku bergemeletuk selayaknya orang kedinginan.

Aku ingin kabur, tetapi seberapa jauh aku berlari, aku akan kembali ke sini, ke tempat di mana semuanya dimulai.

“Kamu dengar? Aku nggak mau ketemu kamu lagi!”

Seseorang mendorongku. Sangat kuat hingga tubuhku terjerembab ke pasir lembap. Aku meringis saat sebuah batu tajam mengoyak telapak tangan kananku. Darah segar mengucur, tambah perih saat luka menganga itu bercampur dengan pasir.

Aku mendongak, menemukan sosok pria kurus yang mengenakan kemeja putih. Tas punggungnya tercampak cukup jauh, sedangkan ia berdiri dengan dada naik turun—napas pendeknya seolah terputus-putus saat melihatku.

Itu … Heksa.

“Kenapa? Kenapa harus gini? Kamu udah janji sama aku, Hex!”

Mulutku terbuka, berteriak histeris tanpa bisa kukendalikan. Selayaknya penonton yang menyaksikan drama, aku terjebak dalam tubuhku sendiri, mengulang kejadian lampau tanpa bisa mengubah alur.

Aku bangun dan menerjang ke arah Heksa, mencangking kerah baju yang seminggu lalu dibelikan Amah. Kain putih itu dengan cepat berubah warna menjadi merah keruh. Bau anyir merebak, juga wangi dupa yang entah mengapa tercium dari pakaiannya. Mataku menyala saat tubuhnya memberontak dalam genggamanku.

“Lepaskan!”

Heksa menekan tanganku yang terluka. Namun, rasa sakit itu tidak sebanding dengan amarahku yang meledak. Aku tak habis pikir. Setelah semua hal yang kami lalui, ia ingin mengusirku?

“Nggak! Jawab aku, kenapa tiba-tiba kamu kayak gini? Apa salahku?”

Walaupun sudah berusaha, tenaga Heksa tetap dua kali lipat lebih besar dariku. Ia dengan mudah meloloskan diri dan menjaga jarak dariku.

Lantas saja ia menyeka darah yang mengenai lehernya dan melayangkan tatapan tajam padaku. Di mimpi ini, aku tak pernah bisa melihat bagaimana rupanya sepuluh tahun lalu.

“Kenapa kamu bilang? Dengan kejadian kayak gitu, kamu masih berharap kita sama kayak dulu?”

Heksa memungut tasnya dan berbalik. Aku tak sanggup menatapnya. Pandanganku terpaku pada pasir yang mulai menggelap terkena rintik hujan.

“Papaku mati, Pe! Keluargamu yang bunuh!”

Tak lama kemudian, hujan turun semakin deras. Airnya membasahi tubuhku, tetapi kesedihan itu tetap tinggal, seolah tak ada yang mampu membawanya pergi.

Kendatipun mimpi ini sudah berulang kali kualami, tetap saja kalimat terakhir Heksa sebelum ia pergi dan meninggalkanku tak pernah bisa membuatku terbiasa.

“Heksa! Kalo kamu pergi, aku mati!”

Raungan amarahku berubah menjadi tangis kesedihan saat ancamanku tak cukup kuat untuk menggerakkan hatinya.

Panik, aku menggigit kuku jariku sembari bergumam ketakutan.

“Kamu dengar? Aku bakalan mati ….”

Harga diriku terlalu tinggi untuk mengejarnya. Aku masih berharap Heksa akan berbalik, datang, dan membujukku seperti hari-hari lalu.

Namun, punggung itu semakin menjauh.

Sial, ternyata Heksa benar-benar pergi.

Tanpa pikir panjang, aku berbalik menuju laut, pelan-pelan menenggelamkan diri ke dalam air keruh. Entah setan apa yang merasukiku. Saat itu, aku hanya ingin menghilang dan mati di lautan.

Stop! Berhenti, Pe! Berhenti!

Aku berusaha memberontak, mengatakan bahwa rencana bunuh diriku akan sia-sia. 

Aku ingin menghentikannya. Aku ingin memberi tahu gadis bodoh itu bahwa tindakan nekatnya tidak akan mengubah apa pun. Heksa tetap akan membencinya dan menghilang selama sepuluh tahun.

Pijakan kakiku lenyap. Aku mulai kehabisan napas dan semakin tenggelam ke dasar. Gelembung-gelembung kecil keluar dari sisi mulutku dan sisa tenaga kugunakan untuk mengais-ngais sekitar.

Aku takut. Walaupun sudah mengalami mimpi ini puluhan kali, aku masih sama pengecutnya seperti saat pertama kali. Mimpi ini memerangkap, mengurung, dan menghinaku sampai ke tulang, bak ia sengaja mengatakan bahwa aku tak bisa lari ke mana pun.

Takdirku adalah terjebak di momen ini selamanya.

Air beriak.

Perasaan lega melingkupiku. Aku tahu, orang itu selalu datang. 

“Bernapas!”

Tanganku bergerak lebih kencang, berusaha menjangkau suara jernih itu.

Aku tak ingat wajahnya, tidak pula apa pun tentang dirinya selain suara khawatir yang bergema di kepalaku. Suara itu memelukku, memberitahukan bahwa sekarang aku sudah baik-baik saja.

Ia menyelamatkanku berulang kali hingga mimpi buruk ini menjadi suatu kebiasaan. Saat kepalaku membentur sesuatu, kesadaranku perlahan-lahan menghilang. Hal terakhir yang kuingat adalah bagaimana tangan besar itu menarikku ke atas, mendorong tubuhku untuk naik, dan setelahnya, ia menghilang.

***

TOK TOK TOK!

Aku terbangun dengan napas terengah-engah. Wajahku basah kuyup oleh keringat sebesar biji jagung. Seprai putih yang kutiduri menempel erat ke kasur dan suara ketukan di pintu tak mau berhenti.

Aku menyeka wajah dan melihat ke jendela, di mana cahaya matahari sudah menyinari hampir sebagian kamarku.

Aku tergopoh-gopoh menghampiri pintu, takut kalau-kalau ada hal penting yang terjadi. Saat pintu terbuka lebar, kulihat Alder berdiri dengan tampang khawatir—alisnya menukik tajam dan bibirnya sedikit bergetar.

“Kamu oke? Kenapa minta tolong?”

Wangi dupa merebak dari tubuhnya. Aku melirik ke bawah, ada sedikit warna merah di ujung jarinya. Alder mungkin baru saja melaksanakan sembahyang pagi melihat seberapa rapi pakaiannya—celana kain hitam dan kemeja krem lengan pendek.

“Aku? Minta tolong?”

Aku bingung dengan reaksinya, tetapi baru ingat soal mimpi tadi. Mungkinkah aku meraung-raung dalam tidurku? Mengerikan sekali.

“Oh, nggak, kok. Cuma mimpi buruk.”

Aku mengusir Alder yang masih keukeuh berdiri di depan pintu. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya ia menyerah dan berpesan padaku untuk segera turun dan menyantap sarapan pagi.

Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.

Lihat selengkapnya