Sepuluh Tahun Yang Tak Bermuara

Stief.AN Ran
Chapter #9

07. PEONY: Pulang Hanya Untuk Pergi Lagi

Setahun yang lalu ….

AKU berdiri kokoh di depan pintu pagar usang yang memisahkanku dari rumah tua peninggalan Akong. Tangan kananku tanpa sadar menggenggam gagang koper lebih erat dari sebelumnya.

Jantungku yang awalnya berdetak normal mulai kehilangan tempo dan memompa lebih cepat dari yang seharusnya.

Hari ini aku pulang, tanpa kabar dan berita. Aku langsung mendarat di depan rumah dan berniat mengejutkan orang-orang yang sudah kutinggal selama hampir sembilan tahun lamanya.

Dari dalam, kudengar derap kaki dan suara ribut orang-orang berbincang. Tawa mereka mengudara, meninggalkan kesan mendalam yang tak terbantahkan dalam benakku.

Apa mereka tahu aku pulang hari ini?

Sudut bibirku terangkat.

Berpegang pada pemikiran rapuh itu, aku berdiri mematung di depan pagar, menunggu mereka menghampiriku—menyambut kepulangan anak perempuan durhaka yang baru tahu jalan pulang setelah tertimpa musibah.

Namun, sayangnya realitas tidak seindah harapanku. Saat pintu dibuka, Papa yang sedang mendorong kursi roda Amah terdiam di depanku. Kini kami sama-sama menjelma menjadi patung pajangan.

“Kenapa, Pa?”

Mama yang muncul dari belakang sekilas langsung memudarkan senyumannya saat melihatku. Walaupun penilaianku terhadap eskpresi wajah cukup buruk, aku tetap tahu ada yang salah dengan reaksi ini.

“Kenapa? Udah nggak kenal sama aku?”

Mama tertawa canggung dan berinisiatif menghampiriku, memeluk kaku tubuhku sekian detik dan beralih menepuk-nepuk bahuku sedikit kencang.

“Nggak, dong. Kamu mau pulang, kok, nggak ngabarin Mama dulu, sih?”

Aku sedikit menjauh dan memperhatikan pakaian mereka yang mewah dan rapi. Bahkan, Mama yang tak pernah berdandan, kecuali saat pesta pernikahannya sendiri pun memakai perona pipi dan bibir.

Di tangannya, ada rantang transparan dua lantai yang berisi sup kacang merah dan misoa. Di bahu Papa juga ada tas selempang kecil yang entah apa isinya.

“Kalian mau ke mana?”

Mereka saling menatap, meninggalkanku dengan segudang pertanyaan menggantung yang terpaksa kutelan bulat-bulat.

“Mau jemput Alder. Dia pulang hari ini.”

Amah membalas, suaranya terdengar tenang dan tidak terdistraksi oleh perilaku aneh Papa dan Mama.

“Oh, Alder juga pulang hari ini.”

Aku akhirnya mengerti mengapa mereka berlakon selayaknya pencuri yang kepergok warga.

Selain aku, Alder juga merantau ke luar kota. Dia pergi setahun lebih cepat dariku. Kalau dipikir-pikir, kami sudah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Entah bagaimana rupanya sekarang.

“Oke, kalian pergi aja. Aku tunggu di dalam.”

Aku menyeret koperku masuk, samar-samar mendengar langkah kaki yang diiringi suara roda berputar di tanah lembap pekarangan ini.

Jujur, aku tak begitu merindukan siapa pun di rumah ini. Namun, saat tahu mereka pun tak merindukan kepulanganku, mau tak mau harga diriku ikut terluka dibuatnya.

Aku berhenti di depan pintu. Setelah menghela napas terpanjang di hari ini, aku berbalik dan melontarkan ucapan sarkas.

“Kenapa ngikutin aku? Kalian nggak takut telat jemput Alder?”

Papa membuka kunci pintu depan dan mendorong Amah masuk tanpa kata. Aku mengikutinya dengan tenang hingga ruang tamu.

Aku menatap foto keluarga yang sudah belasan tahun menghiasi dinding rumah ini. Di dalamnya, kami semua masih terlihat kecil dan muda. Mungkin kami tidak sebahagia yang tergambar, tetapi senyum itu setidaknya pernah tulus.

“Amah bakal tinggal buat nemenin kamu. Jaga diri kalian.”

Papa pergi begitu saja sebelum aku sempat memproses ucapannya. Saat sadar, aku hampir mengumpat kalau saja Amah tak duduk di depanku.

“Kenapa pulang?”

Baru saja bokongku mendarat di sofa, Amah sudah memberikan pertanyaan menohok. Aku tertawa canggung dan menjawab asal.

“Iya, nih. Kangen sama kalian.”

“Hah, baru sekarang lu ingat rumah. Sembilan tahun melalang buana, ujung-ujungnya pulang tangan kosong.”

Namun, entah mengapa hari ini Amah mengibarkan bendera permusuhan padaku. Biasanya, ia adalah tipikal orang cuek yang tak suka berkomentar pedas.

“Kenapa? Emangnya cuma Alder yang boleh pulang? Jangan-jangan aku harus nunggu dijemput dulu baru boleh pulang?”

“Alder, Alder, Alder! Dia itu koko lu, lebih tua. Yang sopanlah.”

Tak puas sampai situ, Amah memukul sandaran tangan kursi roda dan menunjuk tepat ke mukaku.

“Ini, nih. Sifat iri hati lu yang bikin hubungan kalian jelek. Kenapa juga lu harus selalu membandingkan diri sendiri sama Alder? Kalian itu keluarga, bukan musuh!”

Aku tersulut emosi. Aku tahu, di situasi ini, harus ada seseorang yang menjadi air dan menenangkan kobaran api yang menyalak. Namun, rasa lelah karena perjalanan yang kutempuh untuk sampai di rumah ini justru memperparah kondisi mentalku.

Tanpa basa-basi, aku langsung menggeret koper kuningku keluar dari rumah. Aku tak menoleh ke belakang, benar-benar pergi tanpa niat untuk kembali. Harga diriku yang setinggi langit lagi-lagi mengacaukan segalanya.

Amah bergeming, tak memanggilku bahkan sekadar formalitas.

Selama ini, aku berusaha hidup sesuai harapan mereka. Selalu bertanya apa yang harus kulakukan agar bisa dicintai. Hari ini, aku memutuskan untuk menyerah.

Aku bukan Alder, cucu yang dibanggakan Amah. Aku bukan Alder, anak yang selalu dipilih Mama. Aku juga bukan Alder, sosok yang dihormati Papa.

Aku adalah Peony. Bunga yang tumbuh di bawah bayang-bayang pohon alder yang menjulang tinggi.

Aku berhenti di depan pagar. Entah mengapa kakiku terasa berat untuk meninggalkan rumah ini. Dengan pikiran berkecamuk, aku memutuskan untuk berjongkok sebentar, mengisi ulang tenaga dan menata kembali isi hatiku.

“Ce Peony?”

Aku terlonjak kaget saat seseorang berdiri di depan pagar dan menyapaku dengan nada ragu-ragu. Sejurus kemudian, ia tampak bersemangat dan ikut berjongkok di depanku.

“Ce Peony, ‘kan? Aku Yera! Sudah lama nggak ketemu. Balik ke sini dalam rangka apa? Liburan atau menetap?”

Aku meringis mendengar celotehannya.

“Udah mau pergi.”

Kendatipun hatiku ragu, aku tetap memaksakan sebuah jawaban pada Yera. Bagaikan seekor burung beo, gadis bergaun merah jambu di hadapanku ini tak henti-hentinya bercerita mengenai keadaan lingkungan sekitar selama aku merantau.

“Gue mau pergi. Makasih udah cerita.”

Aku memotong ucapannya dan berdiri diikuti oleh Yera yang masih tersenyum konyol. Ia membuntutiku hingga pertengahan kompleks. Mulutnya tak senyap, masih gencar mengajakku berbicara meskipun tak ada satu pun kalimat yang kubalas.

“Tanganmu kenapa, Ce?”

Saat kurasakan benda asing hendak memegang punggung tanganku, aku refleks menepis kencang hingga orang yang berdiri di belakangku memekik kesakitan.

“Jangan sentuh gue!”

Rasa gatal itu lagi-lagi datang. Entah sejak kapan angin sore berubah menjadi badai yang menerbangkan daun kuning pohon-pohon di sekitarku. Rambutku juga ikut terombang-ambing, seperti perasaanku saat tak sengaja menyakiti Yera.

Kulihat darah segar menetes dari tangan yang berusaha disembunyikan. Ia hanya tersenyum bodoh saat darahnya jatuh ke aspal, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan aku tak perlu khawatir.

Aku melirik kuku tanganku. Ada bekas berwarna merah gelap di sela-selanya.

Sial, lagi-lagi aku orang jahatnya.

“Jangan ganggu gue lagi.”

Aku menggeret koper dan pergi tanpa mengucapkan satu kata maaf pun, hanya mementingkan harga diri dan lukaku sendiri.

Lihat selengkapnya