AKU duduk di kursi penumpang dengan gusar. Badanku tegap tanpa berani menoleh ke arah kursi pengemudi. Bukan mengapa, aku hanya tak ingin ia menebak isi kepalaku yang kalut memikirkan masalah di rumah.
“Bentar lagi sampe.”
Heksa memecah keheningan di antara kami, membuatku mau tak mau menanggapi dengan berdeham pelan.
“Tadi siapa yang telepon kamu?”
Heksa bertanya. Aku melirik dari ujung mata dan melihat ia sedang fokus menatap jalan, sedangkan jarinya sibuk mengetuk setir hingga aku mulai merasa terganggu dengan suara berulang.
“Yera. Dia yang ngasih tahu kondisi di rumah.”
Ketukan itu berhenti.
“Kamu … masih deket sama Yera?”
Aku mengedikkan bahu.
“Nggak deket, malahan dia nggak mau aku ketemu kamu lagi.”
Aku tertawa kering di akhir, tetapi Heksa memilih diam dan tak membalas ucapanku. Suasana canggung ini mulai mencekik. Tadi, aku dengan berani mengaku ke Libra menginginkan Heksa berada di hidupku selamanya, tetapi saat bertemu langsung, kata-kata klasik itu malah tersangkut di tenggorokan.
“Yera … ada ngomong sesuatu ke kamu?”
Aku menggeleng. Mengapa tampaknya semua orang punya rahasia yang sengaja disembunyikan dariku?
“Kena—”
Saat menikung, tanpa sengaja ban mobil masuk ke dalam lubang hingga membuat tubuhku yang tak mengenakan sabuk pengaman tersungkur ke dasbor mobil.
Dug!
Aku mengaduh kesakitan, berulang kali menggosok dahiku yang mungkin sudah berubah warna menjadi merah.
“Hati-hati.”
Aku menoleh, diam-diam memperhatikan Heksa yang berbicara dengan intonasi datar. Bahkan, fokusnya tak hilang, masih setia memandang jalanan lengang.
Aku menggigit bibir. Kejadian ini mengingatkanku pada masa lalu saat aku tersandung dan ia dengan sigap menangkapku.
“Nggak apa-apa kalo kamu mau jatuh, ada aku di sini. Jatuh aja sepuasmu!”
Aku menggeleng. Kami bukan anak kecil, aku tidak bisa terus-menerus berpegang pada kenangan rapuh itu.
“Hari itu … kamu yang nyelamatin aku?”
Satu pertanyaan lolos dari mulutku. Sudah sejak lama aku memikirkan hal ini, ingin memastikan kebenarannya langsung dari Heksa. Namun, ia hanya bergeming, tak menghiraukan wajahku yang sudah memelas menunggu jawabannya.
Aku meremas celana dan membuang wajah ke arah kaca mobil.
“Makasih.”
Tubuhku menegak saat mendengar suara benda pecah dari arah rumah Amah di depan. Setelah mobil berhenti, aku buru-buru turun tanpa sempat mengatakan sepatah kata pun pada Heksa.
“Peony, kalo udah selesai, hubungi aku!”
Langkahku terhenti. Dari semua hal yang berubah dalam dirinya, justru satu suku kata itu yang paling membuatku asing. Dulu ia selalu memanggilku ‘Pe’, seolah namaku terlalu panjang untuk diucapkan. Sekarang, ia menyebut ‘Peony’ dengan begitu rapi, seperti menyapa orang lain.
“Pe, kamu di mana?”
“Pe, udah makan belum?”
“Ce Pe yang cantik, jangan lupa janji kita, ya!”
Aku tersentak saat sebuah sandal melayang, nyaris menabrak dahiku yang masih terasa kebas. Aku memelotot saat melihat kekacauan yang terjadi di rumah ini.
Pintu pagar tua yang biasanya menyambutku sudah roboh menindih kembang-kembang Amah. Ada beberapa di antaranya yang dicabut paksa dan ‘dibunuh’ secara brutal.
Kepalaku menoleh ke sana kemari dengan kalut, menyaksikan bagaimana rumah Amah nyaris hancur berkeping-keping. Kakiku mendadak gemetar, keringat dingin sebesar biji jagung juga mulai menetes dari pelipisku.
“Di mana Alder?! Panggil pengecut itu keluar!”
Di depan pintu yang tertutup, Amah duduk tegap di kursi rodanya, bergeming meladeni tamu yang mengamuk. Aku tak bisa menerka ekspresi macam apa yang ia berikan, tetapi aku tak khawatir. Amah adalah orang yang paling tenang sedari dulu.
“Oi, Nenek Tua! Panggil Alder, dia harus bayar utang!”
Aku berjalan menghampiri, sesekali menghindari kembang Amah dan serpihan kaca yang entah kenapa bisa berserakan di tanah.
Mataku mengawasi sekeliling. Setidaknya ada tiga orang bertubuh tegap yang mengelilingi Amah dan Mama yang pasti sedang ketakutan. Ia adalah tipikal orang yang gampang parno dengan perasaan kelewat sensitif. Aku tak melihat adanya Papa dan Alder, begitu juga Yera.